Dinikahi Majikan Arogan

Dinikahi Majikan Arogan
Terima kasih


__ADS_3

Waktu terus berlalu dan kehamilan Dara semakin besar. Kini usia kandungannya sudah masuk di bulan ke sembilan. Dan satu minggu lagi diperkirakan Dara akan melahirkan. Sikap Dara kepada suaminya pun tidak berubah dan selama berapa bulan berlalu rupanya Gaston memendam rasa ingin tahunya tentang perubahan sikap istrinya. Dia ingin bertanya langsung tetapi enggan karena Gaston bukan tipe laki-laki yang apa adanya. Gengsi dan harga diri itu yang paling dia utamakan sehingga saat dia sedang gundah, dia akan sulit menemukan jalan karena enggan untuk bertanya.


Perut Dara yang begitu besar ternyata menarik perhatian Gaston. Ada sedikit rasa simpati mulai muncul ketika dia lihat Dara sedang beraktivitas atau bahkan sedang membantu dia menyiapkan peralatan-peralatan kerja.


Suatu pagi terjadi percakapan hangat yang sangat jarang terdengar di telinga bahkan belum pernah Dara dengar.


"Biar aku ambil sendiri," ucap Gaston ketika melihat Dara hendak mengambilkan nasi dan lauk untuk menu sarapannya.


"Kenapa?" tanya Dara dengan singkat.

__ADS_1


Sempat terlintas di pikiran Dara bahwa mungkin Gaston sedang marah atau sedang malas melihat dirinya, tapi ternyata dugaan darah salah.


"Aku kasihan melihat kamu, perut kamu sudah sangat besar, kamu pasti sangat lelah dengan kegiatan yang kamu lakukan. Lebih baik kamu beristirahat atau mungkin gantian aku yang akan melayani kamu."


Degh, hati Dara mendadak meleleh mendengar ucapan Gaston. Rasanya seperti mimpi dan sulit dipercaya ketika dia dengar suaminya menaruh rasa simpati kepadanya. Karena terlalu terkejut Dara pun sempat mematung sesaat dan hal itu membuat Gaston kembali bersuara.


"Kamu kenapa? Kenapa ekspresinya seperti itu? Ada yang salah dengan ucapanku? Tanya Gaston.


"Sampai kapan kamu akan mematung dan membuka mulutmu seperti itu?" Dara mendadak salah tingkah ketika suaminya kembali bertanya.

__ADS_1


"Maaf, aku grogi karena tidak terbiasa mendengar ucapan yang tidak pernah kamu ucapkan dan mendapat perlakuan seperti ini." Jawab Dara dengan ragu karena dia takut jika suaminya akan kembali membeku jika mendengar jawaban yang menyinggung perasaannya.


"Sudahlah jangan keGRan, aku hanya kasihan karena perutmu besar. Lagian di situ juga ada anakku, kan kasihan jika dia sampai kelelahan karena aktivitas yang kamu lakukan."


Dalam keadaan seperti itu Gaston masih saja tidak mau mengakui rasa simpatinya. Dia masih menjaga image-nya sebagai seorang pria yang arogan. Karena tidak mau merusak suasana yang langka itu, Dara pun memilih untuk diam dan tidak meladeni ucapan suaminya. Perlahan dia mulai memakan makanan yang telah diambilkan oleh Gaston untuknya. Tak lupa juga Dara mengucapkan terima kasih karena untuk pertama kalinya Gaston memberi perhatian kepadanya.


Rupanya kelakuan seperti itu tidak hanya sekali saja diterima oleh Dara karena ketika makan malam dan keesokan harinya Gaston juga memperlakukan Dara seperti saat Dara melayaninya. Gaston juga melarang Dara untuk membawakan tas ataupun merapikan pakaiannya ketika pulang dari kerja.


"Sudahlah biar aku kerjakan sendiri," tukas Gaston.

__ADS_1


Dan lagi-lagi Dara dibuat mematung dengan perubahan suaminya. Sedikit senyum terulas di bibirnya ketika dia menyadari bahwa selama ini doanya telah didengar.


"Terima kasih Tuhan, Engkau telah membuka hati suamiku."


__ADS_2