
Mak Inah dan Dara sama sama diam, lalu beberapa detik kemudian mak Inah kembali bersuara.
"Harta tidak mungkin kita bawa mati, tapi ikatan darah anak dan ibu tidak pernah putus. Itu yang pasti mak ketahui, meski mak belum pernah mati, tapi mak bisa merasakan ikatan dari orang tua mak yang sudah mati."
Ungkapan mak Inah itu di benarkan dalam hati oleh Dara karena dia juga mengalaminya. Mereka pun akhirnya mulai bertukar pikiran kembali membahas tentang anak.
Di tempat lain pun juga sedang ada empat mata yang bicara serius tentang anak, namun nada bicara mereka terdengar lebih seperti berdebat.
"Aku belum siap punya anak, tolong jangan paksa aku ma. Jika mama terus memaksaku, maka lebih baik aku akhiri saja rumah tangga ku." suara Gaston terdengar lantang dengan nafas menggebu. Rupanya dia tidak pergi ke kantor pagi itu, melainkan pergi ke rumah mamanya.
"Kamu mau mengakhiri rumah tangga kamu? Oke, silahkan. Tapi,..." ucapan nyonya Mariam terputus.
"Tapi apa ma?" tanya Gaston kemudian.
"Tapi semua fasilitas atas nama kamu terpaksa mama cabut, dan mama akan kembali tinggal bersama kamu. Bagaimana?"
"Tidak ! Itu tidak adil ma ! Kenapa mama begitu tega sama Gaston? Apa mama tidak sayang dan peduli sama aku?" pertanyaan Gaston persis seperti anak perempuan yang masih labil.
"Justru karena mama sayang dan peduli sama kamu, makanya mama menata hidup kamu dari sekarang meskipun sebenarnya usia kamu sudah cukup dewasa untuk mengaturnya sendiri. Tapi nyatanya, hidupmu masih tidak karuan. Masih terpengaruh dunia luar yang hanya mencari kesenangan tanpa tanggung jawab." tukas nyonya Mariam.
"Udah lah ma, jangan mengaturku seperti orang kuno. Ini zaman modern, teman teman Gaston banyak yang lebih buruk dari Gaston. Percayalah Gaston bisa jaga diri. Tapi apa hubungannya rumah tanggaku dengan fasilitas yang aku punya? Itu kan memang hakku ma, kenapa harus mama tarik?" ungkap Gaston dengan nada yang tetap tinggi.
"Kamu mau tahu kenapa? Karena kamu bisa mencari seribu wanita sekaligus dengan uang. Tapi, tanpa uang, kamu akan menemukan seseorang yang benar benar tulus mencintaimu. Bukan hanya karena ingin menikmati kemewahan darimu." tukas nyonya Maryam.
"Apa?" Gaston bertanya sambil terkekeh.
"Mama, mama. Siapa orang di dunia ini yang tidak ingin uang? Anak kecil aja mau uang ! Ha...ha...ha..ha..." Gaston malah tertawa mendengar jawaban mamanya.
"Sepertinya kamu meragukan semua itu. Baiklah, mulai sekarang semua kartu kredit, atm dan rekening atas nama kamu, mama blokir. Jika kamu masih ingin mengakhiri rumah tangga kamu, silahkan. Mau bersenang senang pakai apa kamu kalau tidak ada uang?" Ucapan nyonya Mariam kali ini terdengar sangat tegas.
Gaston terlihat sangat kesal mendengar ucapan mamanya, hingga akhirnya dia mengalah.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan menceraikan dia. Tapu jangan cabut semua fasilitas ku. Kalau urusan anak, terserah mama. Aku pusing ! Yang jelas, aku paling tidak suka mendengar tangisan bayi!" ucap Gaston sambil berlalu dari mamanya dan berjalan melenggang keluar tanpa permisi.
Nyonya Mariam tersenyum simpul melihat putranya yang nampak begitu frustasi, tapi dalam hatinya juga merasa heran, kenapa sifat putranya begitu berbeda dengan suaminya yang penuh tanggung jawab dan perhatian? Nyonya Mariam menggelengkan kepala memikirkan putranya sendiri, namun ada sedikit rasa lega karena pada akhirnya Gaston pasrah.
Pria itu bergegas ke kantor meski terlambat karena waktu sudah mendekati waktu makan siang, yakni pukul setengah sebelas.
"Woy, kemana aja jam segini baru datang? Habis nimang bayi?" kedatangan Gaston di sambut sahabatnya dengan canda.
"Apaan sih? Jangan mulai ! " sahut Gaston dengan wajah kucel lalu segera dia jatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Ada apa? Sepertinya masalah serius sampai harus menyita waktu?" tanya Dory dengan nada yang lebih serius.
"Aku nyerah bro ! " jawab Gaston singkat.
"Nyerah? Nyerahin apa?" tanya Dory kebingungan.
"Nyerah ama permintaan mama, nyerah ngadepi istri." tukas Gaston selanjutnya.
"Wow, itu keren. Gaston bertekuk lutut pada wanita?" sahut Dory kemudian.
"Tunggu, tunggu. Cerai? Kamu mau cerai?" Dory sepertinya kurang memahami jawaban sahabatnya.
"Iya, awalnya aku ngancam mama mau menceraikan Dara kalau aku masih saja di paksa untuk bikin anak sekarang. Eh, malah aku yang di ancam balik sama mama." wajah Gaston sangat geram ketika menjelaskan tentang ancaman itu. Dan hal itu membuat Dory terkekeh.
"Terus, terus, gimana kelanjutannya?" Dory sangat antusias mendengar jawaban Gaston.
"Ya nggak gimana gimana, intinya pilihannya nggak ada yang enak. Hilang fasilitas atau punya anak? Sama nggak enaknya!" tukas Gaston sambil menyalakan nikotin di mulutnya.
"Ya udah lah bro, jangan di buat pusing. Lagian kan kalau ntar kamu punya anak, kamu bisa bayar babysitter. Nggak perlu kamu repot repot ngurusin anak kamu. Istri kamu pasti juga bisa ngurus satu bayi doang." ucap Dory mencoba memberi support kepada sahabatnya.
"Iya sih, bodo amat lah. Yang penting aku nggak mau repot ngurusin bayi." sahut Gaston sambil mengepulkan asao dari rongga pernafasannya. Percakapan kedua pria somplak itu akhirnya berhenti dan mereka kembali ke bekerja.
__ADS_1
Siang itu Dara tengah membaringkan tubuhnya di kasur sambil menatap kosong pada langit langit kamar. Hatinya masih gelisah dan bimbang memikirkan masalah yang dia hadapi. Namun lamunan Dara sejenak bubar ketika dia mendengar ponselnya berdering.
Dara meraih benda segi empat pipih itu lalu menerima panggilan yang ternyata dari mertuanya.
"Halo ma,"
"Halo Dara, apa kabar kamu?" sahut nyonya Mariam dari seberang.
"Em, baik ma." Dara tidak berterus terang tentang keadaannya, tapi dia tidak tahu jika mertuanya sudah mengetahui prahara rumah tangganya.
"Jangan banyak pikiran, apalagi mikirin suami kamu. Kamu yang rileks agar calon cucu mama nggak terganggu kesehatannya."
Degh, Dara terkejut mendengar ucapan mertuanya yang seakan tahu apa yang dia rasakan saat itu.
"Mama kenapa bicara begitu?" Dara bertanya.
"Mama tahu semuanya, tadi suamimu mengadu ke rumah. Niatnya mau ngancam mama, tapi mama berhasil mengancamnya balik. Jadi kamu nggak perlu banyak pikiran ya, maafkan kelakuan putra mama. Percayalah, suatu saat hatinya pasti luluh dengan cinta." petuah dari Nyonya Mariam begitu menyejukkan hati Dara.
"Makasih ma, mama begitu mengerti perasaanku. Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan memikirkan hal itu. Tapi ma, ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku." ucap Dara selanjutnya.
"Tentang apa?" tanya nyonya Mariam.
"Bagaimana jika Gaston benar benar mengacuhkan aku dan anakku jika benar kami punya keturunan?" Dara mengungkapkan kerisauannya.
"Tenanglah Dara, kan ada mama. Nanti mama akan sewa babysitter untuk membantu merawatnya. Mama sendiri juga akan turun tangan untuk merawat cucu mama tentunya." sahut nyonya Mariam.
Jawaban itu tentu saja begitu melegakan hati Dara, seulas senyum lebar terukir di bibirnya. Mulai saat itu, Dara sudah tidak mencemaskan lagi tentang keturunan. Dan pastinya, dia benar benar akan membuang makanan dan minuman jahat yang Gaston berikan untuknya.
Sore hari ketika Gaston pulang dari kerja. Dara menyambut suaminya dengan senyum manis, tapi sayang pria itu tidak membalasnya.
Dara tidak memperdulikan hal tersebut, karena dukungan dari mertuanya serta harapan akan memiliki buah hati itu sudah cukup menjadi penyemangat hidupnya.
__ADS_1
"Kamu mau makan sekarang?" sapa Dara dengan senyum manis. Namun sayang, Gaston mencium persengkokolan antara istri dan mamanya, sehingga dia menjawab dengan ketus sapaan Dara.
"Nggak usah meledek, lihat aja resiko yang akan kamu terima!"