
"Bisa aja lah, apalagi di masukin nya beberapa kali. So, aku yakin sahabatku ini nggak mungkin kenyang kalau cuma satu kali."
Kali ini satu bungkus rokok melayang di jidat Dory dari tangan Gaston.
"Duh, sakit tau. Mau jadi calon bapak, jangan mudah marah dong!" Dory masih saja menggoda Gaston.
"Sekali lagi kamu buka mulut, ini korek api ntar aku nyalain ke celana kamu!" tegur Gaston yang sudah tidak tahan lagi dengan ledekan sahabatnya.
"Ish, sadis kalau macam itu. Oke, oke, sekarang kita bicara serius. Kamu beneran nggak pakai pengaman?" tanya Dory dengan nada yang berbeda.
"Beneran, aku nggak mikir sejauh itu waktu itu. Karena sebelumnya aku sedang emosi." jawab Gaston dengan mimik wajah serius.
"Jadi hal itu yang membuat kamu tidak fokus hari ini?" tanya Dory lagi.
"Bukan juga. Tentang hal itu baru saja aku pikirkan setelah kamu bicara." sahut Gaston.
"Bukan? Emang ada masalah yang lebih genting dari pada tentang hal itu?" Dory sedikit heran dengan sahabatnya.
__ADS_1
"Entahlah, aku kepikiran pada sopirku yang baru saja aku pecat kemaren." jawaban Gaston semakin membuat Dory kebingungan.
"Tunggu, tunggu. Kamu bilang tadi mikirin Dara, sekarang mikirin sopir. Malah udah di pecat pula, emang ada masalah apa? Perasaan kemaren kalian baik baik aja. Jadi mana yang sebenarnya mengganggu pikiran kamu? Dara atau Putra?" tanya Dory untuk mencari tahu kebenarannya.
"Dua duanya!" jawab Gaston singkat.
"Dua duanya? Tolong jelasin satu satu, sumpah aku nggak paham!" pinta Dory karena merasa kesulitan menebak isi pikiran Gaston.
Pria itu akhirnya menjelaskan apa yang terjadi antara Dara dan Putra, dimana Gaston sering memergoki mereka sedang berdua dan apa penyebab Putra izin undur diri dari pekerjaannya.Dory mendengarkan dengan seksama, lalu di akhir cerita dia bersuara.
"Kamu nyadar nggak sih bro? Kamu itu sedang cemburu." tukas Dory.
"Kamu nggak sadar, tapi kenyataannya rasa cemburu itu muncul di hati kamu dengan rasa tidak sukamu melihat Dara dan Putra berduaan." Dory mengutarakan isi kepalanya.
"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak ingin dia menjatuhkan harga diriku sebagai suami, karena biar bagaimanapun aku dan dia sudah menikah, jadi dia harus bisa menjaga diri sebagai seorang istri. Bukan malah dekat dengan pria yang statusnya sebagai supir ku. Gimana kalau hal itu di dengar banyak orang? Kan buruk reputasiku?" sangkal Gaston pada kalimat yang di utarakan oleh Dory.
"Oke deh, aku terima alasan kamu. Lalu kalau tentang supir kamu, apa yang jadiin kamu mikirin dia?" Dory kembali menguak isi kepala sahabatnya.
__ADS_1
Gaston menghembuskan nafas kasar, lalu menjawab pertanyaan Dory.
"Bro, emang selama ini apa aku terlihat sangat kejam atau egois?" tanya Gaston dengan sungguh sungguh.
"Banget, ups..., " Dory menutup mulutnya karena merasa keceplosan jujur. Dan jawaban singkat Dory tersebut membuat Gaston membuka lebar kedua kelopak matanya.
"Apa? Jadi selama ini kamu juga menganggap ku kejam dan egois banget?" Gaston berkata sambil menggelengkan kepala.
"Sori, sori. Bukan gitu maksudku bro. Aku bilang gitu karena denger denger aja dari mulut orang tentang kamu." celetuk Dory.
"Mulut orang? Siapa?" tanya Gaston mencari tahu.
"Adalah, nggak perlu aku sebutin nama nama mereka. Ntar malah mereka kena masalah." Dory tidak mau menjawab pertanyaan Dory.
"Mereka? Jadi bukan hanya satu orang?" Gaston mengerutkan dahi.
"Iya, banyak."
__ADS_1
Jawaban Dory membuat Gaston memikirkan tentang dirinya sendiri.
"Apa aku seburuk itu?" tanya Gaston dalam hati.