
"Udahlah, nggak perlu bingung. Mungkin perempuan hamil sifatnya kayak gitu." celetuk Dory dengan enteng.
"Apa begitu ya? " seketika Gaston yang arogan di buat terlihat bodoh oleh perubahan sikap istrinya.
"Iya mungkin seperti itu. Dan sepertinya kamu sudah mulai mencintainya karena sudah mulai memikirkan dia. " lagi lagi Dory memberi pendapat dengan enteng.
"Apa? Mencintainya? Mustahil. Aku tidak mencintainya. Aku menikahinya hanya karena di paksa sama mama. " Gaston segera menyangkal ucapan sahabatnya.
"Bikin anaknya juga di paksa sob? " tanya Dory sambil menahan tawa.
"Ckck, awas kamu ya. Beneran aku sumpahin kamu nanti dapat istri janda anak lima! " sahut Gaston dengan kesal.
"Nggak masalah, asal dia tajir. Jadi ntar hidupku ada yang nanggung. Ha.. ha.. ha.. "
Bukannya kesal karena di sumpahin, Dory malah tertawa mendengar ucapan Gaston.
"Dasar laki laki parasit! " cecar Gaston kepada sahabatnya.
"Biarin parasit, yang penting bahagia. Dari pada jadi raja tapi tersiksa macam kamu... " Dory masih saja menanggapi ucapan Gaston.
__ADS_1
"Ah sudah sudah. Kembali ke ruangan kamu sana, sekarang udah waktunya kerja! " titah Gaston dengan mendadak, padahal biasanya mereka menghabiskan waktu di pagi hari hingga berjam jam hanya untuk membahas sesuatu yang tidak penting.
Melihat titah sang atasan sekaligus sahabatnya dengan raut wajah yang nampak tegang, Dory segera berdiri dan berlalu dari hadapan Gaston.
Usai Dory keluar dari ruangannya, Gaston masih saja memikirkan tentang perubahan sikap istrinya.
Selain memikirkan istrinya, Gaston juga memikirkan mamanya yang tidak marah kepadanya. "Apa jangan jangan Dara memang tidak cerita apa apa ke mama? " tanya Gaston dalam hati.
"Ah, bodoh amat lah. Berarti nasibku masih baik, lagian kan kemaren aku hanya menggertak Dara saja biar kesal dan pulang! " Gaston menjawab pertanyaannya sendiri.
Hari telah berlalu dan sikap Dara masih tetap sama, Gaston pun kini sudah tidak pusing memikirkan hal itu meski terkadang dia merasa ada berbeda. Rupanya pria arogan itu justru mulai tertarik dengan sikap dingin istrinya. Ritual malam hari layaknya sepasang suami istri pun tetap berjalan meski setelah ritual selesai mereka sudah saling membeku lagi.
"Ada apa Ma? " tanya Dara.
"Mama mau bicara soal Gaston. " jawab sang mertua.
"Dia kenapa Ma? " tanya Dara kemudian.
"Soal Gaston berselingkuh itu tidak benar. Mama menyuruh orang untuk mengawasi gerak gerik Gaston selama satu minggu terakhir, tapi tidak ada kegiatan yang dia lakukan untuk menemui wanita atau pun menelponnya. Mama juga menyadap ponsel Gaston tanpa dia tahu. " ungkap Nyonya Mariam.
__ADS_1
"Oh, " jawab Dara singkat.
"Oh, saja? Apa kamu tidak bahagia mendengar kabar ini? " tanya Nyonya Mariam lagi.
"Bahagia Ma, tapi... " jawaban Dara terputus.
"Tapi apa Dara? " Nyonya Mariam melanjutkan pertanyaannya.
"Tapi sikap Gaston masih tetap sama Ma. Kapan dia bisa berubah? Dia selalu dingin dan tidak terlalu menganggap keberadaan ku. Dia hanya butuh aku jika di ranjang saja. " keluh Dara sambil menundukkan kepala.
Nyonya Mariam menghembuskan nafas kasar mendengar keluh kesah menantunya.
"Sabar Dara, suatu saat Gaston pasti akan berubah. Mungkin juga dengan kehadiran buah hati kalian akan membuat hati Gaston semakin luluh. " Nyonya Mariam berusaha menenangkan pikiran menantunya.
"Iya Ma, semoga aja. Dara harap juga begitu. " jawab Dara penuh harap.
"Udah, kamu jangan banyak pikiran nanti akan mengganggu kesehatan kandungan kamu. Kamu percaya kan sama Mama? "
"Iya Ma, Terima kasih. "
__ADS_1
Nyonya Mariam dan janin yang di kandungnya adalah penyemangat bagi Dara untuk tetap bertahan dengan suaminya yang dingin dan arogan.