
Pagi itu Dara bangun lebih awal, dia keluar dari selimutnya lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak berselang lama, Gaston juga bangun dan bergegas untuk mandi setelah Dara keluar dengan aroma tubuh yang wangi. Keduanya masih saling membisu pasca perdebatan singkat tadi malam tentang Putra.
Namun, meski sedang malas berbicara dan memang sudah menjadi ciri khas Gaston yang selalu bersikap dingin, Dara tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Dia bawakan tas untuk Gaston dan mengantarnya hingga masuk ke mobil. Pria itu berangkat kerja dengan mengendarai sendiri mobilnya karena Putra sudah tidak bekerja di sana.
Tidak ada kecupan hangat atau kalimat cinta antara keduanya, yang ada kini Dara ketularan menjadi wanita kulkas juga. Mungkin hal itu terjadi karena Gaston terlalu sering mengacuhkannya.
Setelah tiba di kantor, Gaston merasakan sesuatu yang berbeda. Dia tidak bisa fokus pada pekerjaan dan rasanya gelisah.
"Hai bro, ngelamun aja. Mikirin apa sih?" sapa Dory sahabat Gaston yang berjabatan sebagai manager di kantor Gaston.
Meski statusnya adalah bawahan Gaston, namun Gaston meminta kepada Dory agar tidak terlalu menunjukkan perbedaan jabatan mereka karena mereka sudah bersahabat sejak kecil.
"Tau nih bro, kerja rasanya nggak fokus." jawab Gaston.
"Emang ada masalah apa? Tante Mariam lagi?" tanya Dory kemudian.
__ADS_1
Gaston menggeleng lalu mengeluarkan menghisap nikotin yang selalu menemani aktifitasnya.
"Terus mikirin apa? Jangan jangan mikirin pembantu yang baru saja bertukar gelar menjadi nyonya Gaston?" pertanyaan Dory terdengar meledek.
"Entahlah, sepertinya begitu." jawab Gaston nampak ragu.
"What? Apa aku tidak salah dengar? Rupanya buaya satu ini bisa juga jatuh cinta pada ayam kampung," tukas Dory selanjutnya.
"Apaan sih? Namanya juga kucing, kalau di kasih ikan asin gratisan , ya di makan lah!" sahut Gaston sembari mengepulkan asap dari mulutnya.
"Aw, aw, aw, aw, ..rupanya ada yang sudah melewati malam pertama?" Dory lumayan terkejut mendengar jawaban Gaston.
"Pasti segel dong? Karena cewek kampung biasanya itu nggak macem macem." tukas Dory.
"Iya sih nggak macam macam, tapi aku kudu jadi pembimbing anak TK!"
Sontak jawaban Gaston membuat Dory terkekeh.
__ADS_1
"Apaan sih? Emang apanya yang lucu?" tanya Gaston kesal.
Bukannya menjawab, Dory malah tertawa terus tanpa henti.
"Bisa diem nggak? Atau aku kasih nih puntungnya rokok!" Gaston semakin kesal dengan sahabatnya.
"Santai bro, santai. Jangan nge gas gitu dong! Habisnya cerita kamu itu lucu, nggak bisa aku bayangin gimana caranya kamu bimbing pembantu kamu itu. Apa seperti ini ngomongnya, Dara ini namanya mr. P ,ini nanti bisa berdiri tegak terus aku masukin ke ****. * kamu. Terus nanti kalau aku gerakin maju mundur lama lama keluar cairan kental kayak adonan tepung. Adonan itu yang bisa bikin anak...ha ha ha ha," Dory tak henti henti menertawakan sahabatnya.
"Sumpah, nih anak belum pernah makan puntung rokok satu lusin kayaknya!" Gaston semakin di buat geram oleh Dory.
"Udah, udah. Jangan bahas itu lagi ! Aku nanti sakit perut karena kebanyakan ketawa." sahut Dory tanpa bisa menghentikan tawanya.
"Salah kamu sendiri! Lagian nggak gitu juga kali. Sekarang jamannya gadget, kalau gerakan dasar dia tahu. Yang aku ajarin itu variannya." jawab Gaston sambil menghisap nikotin yang tinggal setengah batang itu.
"Udah kayak donat aja pakai varian. Tapi kamu pakai pengaman apa nggak? Kalau main masuk aja, siap siap aja jadi bapak. Gendong anak sana sini. Aduuuh ,bayangin aja nggak deh, aku belum sanggup jadi lelaki tertekan seperti itu."
Kalimat Dory yang terakhir sempat membuat Gaston was was. Karena kedua pria itu sebenarnya belum bisa bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, apalagi menjadi seorang bapak. Mereka masih suka bersenang senang, bebas main ke sana ke sini tanpa beban.
__ADS_1
"Kenapa diam? Jangan jangan, beneran tuh bayi udah mulai tumbuh?" Pertanyaan Dory membuat Gaston semakin cemas.
"Ah ,nggak mungkin. Masak baru kemaren aja udah jadi?"