Dinikahi Majikan Arogan

Dinikahi Majikan Arogan
Sakit Kepala


__ADS_3

Sore itu Gaston bagai seorang balita yang tengah di rawat ibunya. Dara memintanya tidur tanpa boleh banyak bergerak.


"Kamu diam, biar aku kompres kepala kamu!" tukas Dara dengan nada tegas. Entah kekuatan apa yang membuat perempuan itu menjadi berani mengatur ngatur suaminya.


"Apaan sih, aku nggak apa apa. Nggak usah lebay gitu!" bantah Gaston tak kalah tegas.


"Nggak apa apa, apanya? Itu benjol dan warnanya biru. Itu bahaya!" Dara tetap saja tidak mau kalah.


Merasa lelah berdebat, akhirnya Gaston pasrah pada perlakuan istri manjanya. Dia diam di kasur sambil memainkan ponsel, sementara Dara sibuk mengompres dahi Gaston yang sedikit memar.


Setelah berdiam diri selama lima belas menit, Gaston merasa jenuh. Dia mencari alasan untuk menghindar dari istrinya.


"Udah stop! Aku lapar, aku mau makan!" tukas Gaston dengan datar.


"Oh, kamu lapar? Oke, kamu diam di sini, aku akan membawakan makanan ke sini." sahut Dara dengan tangkas.


"OMG," gerutu Gaston dalam hati sambil memejamkan mata.


"Kenapa begitu ekspresinya? Apa kamu sakit lagi? Apanya yang sakit? Apa perlu kita ke Dokter? Aku panggilkan ambulance ya..."


Pertanyaan pertanyaan konyol Dara membuat Gaston semakin sakit kepala. Pria itu mengacak ngacak rambutnya sambil berdecak kesal.

__ADS_1


"Please stop! Jangan perlakukan aku seperti ini! Aku bukan anak kecil!" Bentak Gaston dengan raut wajah geram.


Suara yang begitu memekakkan telinga Dara itu seketika mengoyak hatinya, air mata pun tak kuasa dia bendung di pelupuk netra. Dara menangis terisak isak seperti anak perawan yang tengah di marahi bapaknya.


"Sudah diam ! Kenapa kamu membuatku sakit kepala dengan perlakuan perlakuan kamu yang aneh?" Gaston masih saja berbicara dengan volume yang tinggi.


Dara tidak mampu menjawab pertanyaan suaminya karena tenggorokannya merasa tercekat. Lidahnya kaku, dan dadanya sesak acap kali dia dengar Gaston selalu memakinya.


Sudah hampir dua puluh menit Dara menangis, tapi tak kunjung diam. Gaston pun melakukan segala cara agar istrinya diam, namun Dara tetap saja menangis. Karena cara Gaston untuk menyuruhnya diam, justru terkesan membentak dan memaki Dara.


"Duuuuh, please diam. Aku harus ngapain agar kamu diam? Kepalaku rasanya mau pecah lihat kelakuan kamu kayak gini? Diam, diam... bisa nggak sih? Diam....!" sekali lagi Gaston menyerukan kalimat kasar kepada Dara.


Setelah merasa gagal menggunakan cara kasar, dengan berat hati Gaston akan membujuk Dara dengan cara halus sama seperti ketika dulu dia membujuk mantan kekasihnya ketika merajuk.


"Diam lah, aku minta maaf jika aku sudah berbicara kasar kepadamu. Katakan, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau diam dan memaafkan aku?"


Mata Dara seketika melebar sempurna, air matanya mendadak membeku dan berhenti menangis. Tubuhnya mematung seakan aliran darahnya tersumbat mendengar kalimat manis yang di ucapkan oleh suaminya. Sepertinya tidak sedang bermimpi dan takut mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Dia takut jika sedang berhalusinasi saja karena terlalu lama menangis. Demi meyakinkan hatinya, Dara mengajukan pertanyaan.


"A_a_a_pa a_a_a_ku ti_ti_ tidak salah dengar?" tanya Dara dengan terputus putus.


Gaston sekali lagi menghembuskan nafas kasar lalu menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Dara. Dan hal itu tentu saja membuat Dara sangat bahagia, sorot mata sayu yang awalnya singgah di netra Dara, kini bersinar bagaikan mentari di pagi hari hingga membuat mulutnya menganga tak percaya.

__ADS_1


Demi menjaga harga diri agar tidak jatuh reputasinya sebagai pria arogan, Gaston segera membersihkan namanya.


"Jangan kepedean, cepat jawab pertanyaanku sebelum aku tarik lagi ucapanku!"


Glek, Dara yang awalnya di lambungkan tinggi, kini di hempaskan kembali ke bumi. Mukanya mendadak masam dengan mulut nyengir mendengar pernyataan suaminya.


"Masih tidak menjawab? Oke, berarti masalah kita saat ini sudah kelar. Aku tidak perlu meminta maaf atau memberi tawaran!" tukas Gaston sekali lagi demi menjunjung tinggi harga dirinya.


"Eh, tunggu, tunggu." Dengan segera Dara menyambar ucapan Gaston.


Pria itu menoleh ke arahnya sekilas, lalu memalingkan pandangan.


Dara tidak mau kehilangan kesempatan dan dia segera mengatakan isi kepalanya.


"Aku akan memaafkan kamu, tapi dengan satu syarat..." kalimat Dara terputus.


"Syarat? Syarat apa?" Gaston mulai mencium aroma sakit kepala dengan syarat yang akan di ajukan oleh istrinya.


"Emmm, aku mau memaafkan kamu kalau...., kalau.... " Dara masih memotong motong kalimatnya.


"Kalau apa? Cepat katakan, jangan berbelit belit!" Gaston nampak tak sabar menunggu penjelasan dari Dara.

__ADS_1


"Kalau setiap hari aku ikut kamu kerja ke kantor!"


Gaston mematung sesaat dengan mulut dan mata terbuka lebar mendengar syarat yang di pinta oleh istrinya.


__ADS_2