
Lala sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan sang majikan. Dia ragu jika harus jujur, tetapi tingkahnya yang tidak bisa menyembunyikan kepanikan, membuat Gavin mudah membaca isi kepala Lala.
"Apa kamu merasa tidak terima karena saya sudah menghajar mantan suami kamu?"
Degh!
Pertanyaan dari Gavin sontak membuat Lala semakin terkejut. Tentu dia sama sekali tidak kasihan, yang ada malah senang dan ingin berterima kasih kepada sang majikan. Akan tetapi, jika mengingat ucapan ucapan kasar yang biasa dia dengar dari Gavin, membuat Lala mengurungkan niatnya. Mungkin dia akan mencoba mencari alasan lain untuk menjawab.
"Emm, tentu tidak Tuan. Saya justru kagum sama Tuan karena berani memberi pelajaran kepada dia," jawab Lala. Dia mencoba memuji majikannya atas aksi yang baru saja dia lakukan, dan berharap laki laki itu sedikit melunak hatinya jika di puji. Namun, dugaan Lala salah besar. Gavin justru memberi tanggapan yang membuat kening berkerut.
"Oh, jadi selama ini kamu pikir aku nggak berani sama dia?" cecar Gavin sembari memalingkan pandangan.
"Emmm, tidak Tuan. Bukan begitu, tapi..." sahut Lala dengan terbata bata karena memang itu hanya alasan yang sengaja dia ciptakan. Apalagi Gavin lekas memotong kalimatnya.
"Ah sudahlah! Sebenarnya aku sangat malas sekali di hadapkan dengan masalah dari orang orang yang tidak penting dan tidak aku kenal!"
Mendengar jawaban itu, mendadak Lala mendekat ke arah sang majikan, lalu dia ulurkan tangannya kepada Gavin.
"Kalau Tuan belum kenal dengan saya, mari kita kenalan," sontak kalimat itu ganti membuat Gavin tercengang. Namun, karana kepalang malu dan demi menjaga gengsi, dia lekas menepis tangan Lala sambil berkata,
"Dasar perempuan aneh!" Seru Gavin seraya meninggalkan Lala yang masih berdiri di hadapannya. Tentu saja hal itu membuat Lala semakin geram, tidak ada sebutan manis yang di lontarkan dari bibirnya untuk sang majikan, selain dari sumpah serapah.
"Situ yang aneh! Moga aja nanti, situ akan mendapat jodoh orang yang paling aneh sedunia!" lirih Lala sembari mengepalkan tangan.
__ADS_1
Setelah menyaksikan sang majikan masuk ke dalam kamarnya, Lala kembali melangkahkan kaki, untuk kembali ke arah dapur. Bibirnya tak henti henti menghujat pria dingin tersebut.
Hari hari Gavin kini di sibukkan dengan masalah Lala, hingga nanti kedua orang tuanya kembali pulang karena dia tidak mempunyai hak untuk mengusir Lala. Malam itu Gavin terpikir untuk meminta bundanya agar segera pulang, karena dia merasa tidak nyaman hanya tinggal berdua dengan seorang janda yang kini menjadi asistennya.
Tuuut...tuut...tuuut...
Panggilan Gavin kepada Bundanya mulai tersambung, dan tak lama kemudian, panggilan tersebut lekas mendapat jawaban.
"Halo Bun, Gavin pengen Bunda cepat pulang!" seru Gavin tanpa basa basi ketika panggilan sudah tersambung.
"Cepat pulang? Memangnya ada apa Gavin? Tidak biasanya kamu seperti ini? Apa kamu sakit?" sahut Bundanya.
"Enggak Bun, Gavin lagi kangen aja sama kalian," jawab Gavin beralasan.
"Kangen?" satu kata yang terdengar tabu di telinga Vina, karena selama putranya remaja hingga dewasa, Gavin tidak pernah mengucapkan kalimat itu.
"Iya tentu boleh dong Gavin, tapi kan urusan Bunda dan Ayah di sini belum selesai. Kamu sabar dulu ya, paling cepat satu minggu lagi kami akan segera pulang," tukas Vina menjelaskan.
"Kelamaan Bun, Gavin pengennya besok kalian lekas pulang!" rengek Gavin seperti anak TK.
"Nggak bisa gitu Gavin, kamu kok kayak anak kecil aja sih?" tanya Vina dengan heran. Meskipun Gavin terus merengek, hal itu tidak merubah keputusan Vina untuk pulang lebih cepat.
"Ada apa Bun?" tanya Garda kepada istrinya ketika dia lihat istrinya menaruh ponsel sambil memijat pelipisnya. Pertanda jika dia tengah pusing memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Gavin, " jawab Vina.
"Gavin kenapa memangnya? Dia berulah lagi?" tanya suami Vina.
"Dia minta kita pulang lebih cepat karena dia kangen sama kita," cakap Vina menjelaskan.
"Apa? Kangen? Lelucon apa ini?"
Garda justru tertawa ketika mendengar putranya kangen pada mereka.
"Bunda juga mikir gitu. Sepertinya itu hanya akal akalan dia saja," sahut Vina.
"Atau jangan jangan, si Lala ngapa ngapain Gavin sampai membuat putra kita tidak nyaman tinggal sendiri tanpa kita," terka Garda.
"Ayah ini ada ada aja, masak iya ada perempuan ngapa ngapain laki laki? Yang ada juga sebaliknya. Ngaco deh!" sangkal Vina. Dia tidak sepemikiran dengan suaminya jika bicara soal Lala.
"Ya bisa aja Bun. Usia Lala terlihat lebih dewasa dari Gavin, bisa aja dia mancing mancing putra kita untuk lebih dekat," ujar Garda memperjelas isi kepalanya.
"Nggak mungkin ah, Ayah ini ngaco banget! Lagian, diam diam rupanya Ayah juga memperhatikan Lala ya? Bunda aja mikirnya nggak sejauh itu," jawab Vina. Dugaan suaminya justru membuat dia berpikir tidak tidak kepada sang suami.
"Bunda ini justru yang ngaco! Ngapain juga aku merhatiin pembantu, kurang kerjaan!" sangkal Garda. Tetapi sayangnya, kalimatnya lagi lagi di jawab oleh sang istri dengan kalimat yang membuatnya tidak bersuara lagi.
"Oh ya? Beneran Ayah nggak pernah merhatiin pembantu? Terus, tentang hubungan kita dulu, gimana Yah?"
__ADS_1
Glek!
Garda hampir tersedak mendengar ucapan istrinya, karena saat bercakap cakap, mereka tengah meminum teh bersama.