
"Lepasin! Kamu yang apa apaan? Bukannya ini semua renca...." belum sempat Bagas melanjutkan kalimatnya, Gavin lekas menutup mulut Bagas menggunakan telapak tangannya, lalu menarik tubuh Bagas dengan paksa untuk keluar. Tak lupa juga Gavin menyempatkan untuk menutup pintu kamar Lala, dan sebelum menarik gagang pintu itu, dia sempat memberikan perintah kepada Lala untuk menguncinya.
"Kunci pintunya!" teriak Gavin sebelum menghilang di balik daun pintu. Lala pun lekas berdiri meski tubuhnya masih gemetaran ketakutan. Dia lekas mengunci rapat rapat pintu tersebut. Setelah merasa jauh lebih aman, dia tumpahkan tangisnya dengan tubuh yang lemas sambil bersandar di balik daun pintu. Rasa sedih yang dia rasakan bercampur dengan rasa khawatir jika sampai terjadi apa apa pada majikannya yang telah menolongnya. Sementara di luar sana, Gavin dan Bagas masih melanjutkan perseteruannya.
"Siapa yang menyuruhmu menyentuhnya? Aku hanya memintamu menggodanya saja!" bentak Gavin, setelah dia rasa Lala sudah tidak mendengarnya.
"Heh bro, santai dong! Biasa aja kali! Lagian apa bedanya di goda dan di sentuh? Dia juga cuma seorang pembantu, untuk apa kamu terlalu memperhatikan dia?"
Plaakkkkkk...
Satu tamparan berhasil mendarat lagi di pipi Bagas dari telapak tangan Gavin. Mendadak dia merasa tidak terima ketika Bagas merendahkan Lala dengan menyebut statusnya.
"Woy, kenapa kamu tampar aku berkali kali? Kamu sendiri yang ngasih perintah, tapi kamu sendiri yang sok pahlawan! Tau gini aku nggak mau kamu suruh suruh!" bentak Bagas melakukan perlawanan. Bahkan, dia hendak memberi serangan balik kepada Gavin, tetapi untung saja teman teman Bagas yang lain mendekat mendengar pertikaian itu, lalu mereka melerai keduanya.
"Lepasin, kalian jangan ikut campur! Dia udah menjebak kita!" berontak Bagas ketika tangannya di tahan oleh temannya.
__ADS_1
"Santai bro, santai!" ujar teman Bagas berusaha menenangkan.
"Nggak bisa. Aku nggak bisa santai. Aku mau ganti rugi atas semua ini. Dia sudah menampar aku berkali kali!" seru Bagas dengan nada suara tinggi.
"Sebutkan berapa uang yang kamu minta, lalu segera pergi dari sini!" sahut Gavin tanpa basa basi. Dan tanpa basa basi juga, Bagas menyebutkan nominal yang dia inginkan.
"Sepuluh juta!"
Mendengar angka yang sudah di sebutkan oleh Bagas, Gavin segera berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambil uang cash sesuai permintaan Bagas. Lima menit kemudian, dia kembali ke hadapan Bagas dengan membawa segepok uang dengan nominal sepuluh juta.
"Ini uangmu. Cepat pergi dan kita tidak ada urusan lagi!" titah Gavin kepada Bagas dan teman temannya.
Langkahnya begitu lebar menuju ke kamar itu, tetapi mendadak langkah itu terasa berat ketika sudah mendekat di depan pintu kamar Lala. Tiba tiba penyesalan muncul di hatinya. Pada awalnya memang dia berencana untuk membuat Lala takut dan tidak nyaman tinggal di rumah Gavin setelah acara pesta miras malam itu, apalagi Gavin memang meminta Bagas untuk menggodanya. Akan tetapi, semua berjalan di luar rencana. Bagas justru melampaui batas dari yang dia perintahkan. Jika saja dia tidak datang tepat waktu, bisa saja Bagas menanam benih di tubuh Lala dan pasti itu akan menjadi petaka untuk janda tersebut.
"Astaga, apa yang sudah ku lakukan?" geram Gavin pada dirinya sendiri sambil menjambak rambutnya. Penyesalan itu begitu besar, meski saat itu Lala belum sempat terjamah, tetapi Gavin yakin mental Lala sudah down. Bahkan, uang sepuluh juta yang dia berikan kepada Bagas, belum mampu menebus rasa trauma yang di rasa oleh Lala.
__ADS_1
Setelah sempat merenung beberapa waktu, Gavin kemudian mengumpulkan semua tenaga dan keberanian untuk mengetuk kembali kamar Lala. Setelah tiga kali ketukan dia lakukan, dia tidak melihat pintu itu terbuka. Gavin berpikir, mungkin saja Lala masih ketakutan sehingga dia tidak berani membuka pintu kamarnya.
Gavin pun mengulang untuk mengetuk pintu, tetapi dia menyertakan panggilan untuk Lala agar janda tersebut yakin jika yang sedang mengetuk pintunya adalah dirinya, bukan Bagas.
"Lala, tolong buka pintunya. Saya mau bicara," ujar Gavin.
"Tuan Gavin," sahut Lala dari balik pintu ketika dia mendengar suara sang majikan. Tanpa berpikir panjang, Lala pun segera membukanya. Dia yakin jika majikannya tersebut sudah benar benar berubah. Meskipun sebenarnya kebaikan Gavin sejak tadi pagi itu ada alasan karena ingin merencanakan sesuatu, tetapi Lala tidak menyadarinya. Bergegas Lala membuka pintu kamarnya, dan setelah pintu terbuka, dia lihat majikannya berdiri di depan pintu. Namun, Lala masih celingukan kesana kemari untuk memastikan jika Bagas tidak ada di sana.
"Tenang saja, kamu aman!" seru Gavin dengan nada dan tatapan yang hangat. Pada saat itu, semua kalimat dan sikap hangatnya benar benar tulus dari hati, bukan karena ada niatan buruk kepada Lala.
Perlahan Lala keluar dari kamar setelah dia yakin kondisinya memang sudah aman. Mereka berdua lantas duduk di kursi yang tak jauh dari kamar Lala. Setelah duduk dengan nyaman, keduanya masih saling terdiam. Hingga pada akhirnya, ponsel Gavin yang lebih dulu berbunyi.
"Halo," cakap Gavin sembari menempelkan ponsel di telinganya.
"Halo Gavin, kata Bunda kamu kangen sama kami. Apa kami perlu pulang besok?"
__ADS_1
Mendadak Gavin membuka kedua kelopak matanya lebar lebar saat mendengar Ayahnya akan pulang besok pagi. Rupanya sandiwaranya kemarin ketika di telepon benar benar di tanggapi oleh kedua orang tuanya, padahal dia tidak benar benar sedang merasakan kangen, melainkan hanya ingin segera mengusir Lala dari rumahnya jika Ayah dan Bundanya sudah pulang.
"Emmm, tidak perlu Yah. Maksudnya, Ayah dan Bunda tidak perlu buru buru pulang jika urusan kalian belum selesai. Gavin kemarin cuma bercanda dan menggoda Bunda saja," sangkal Gavin untuk menyelamatkan diri. Tentu saja pada saat seperti itu, dia tidak ingin orang tuanya cepat kembali ke rumah karena Lala masih terlihat sangat terpukul. Satu hal yang Gavin takutkan adalah jika sampai Bundanya tau tentang kejadian malam itu.