Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Menyusul


__ADS_3

Karena tidak mendapat respon dari putranya, Vina kembali mengulang panggilannya.


Drrttt...drrrttt...


Gavin merasakan ponselnya kembali bergetar, dan lagi lagi dia melihat foto Bundanya di layar ponsel yang tengah dia pegang.


"Astaga, kenapa Bunda menelpon di saat tidak tepat," gerutu Gavin seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Karena panggilan itu tak kunjung berhenti, dengan terpaksa Gavin menerima panggilan dari Vina.


"Halo Bun," sapa Gavin.


"Halo Gavin, kamu kemana aja? Bunda telpon sampai dua kali baru di angkat?" tanya Vina.


"Emmm, itu Bun. Tadi masih fokus nyetir," sahut Gavin beralasan.


"Oh, kamu baru pulang kerja ya? Pasti kamu nyariin Lala?" tanya Vina kepada Gavin dan hal itu seketika membuat Gavin terkejut.


"Dari mana Bunda tahu kalau aku..." mendadak Gavin menghentikan kalimatnya, karena jika dia teruskan, maka Bundanya pasti akan heran karena dia mencari keberadaan Lala.


"Oh, jadi bener kamu lagi nyariin Lala? Bunda kira kamu nggak peduli sama Lala," sahut Vina justru menggoda putranya.

__ADS_1


"Bunda apaan sih? Jelas aja aku nyari, ntar kalau dia mendadak menghilang dari rumah, Bunda kira aku lagi yang ngusir. Salah lagi kan," jawab Gavin mencoba berdalih.


"Iya, iya, Bunda ngerti. Tapi kamu tenang aja, sekarang Lala sedang bersama Bunda kok," ujar Vina.


"Loh? Kok bisa?" tanya Gavin dengan heran.


"Bisa dong, tadi Bunda pulang sebentar karena sengaja mau menjemput Lala. Bunda sedang membutuhkan bantuan Lala di sini, jadi untuk sementara waktu kamu tinggal sendiri di rumah ya sayang," cakap Vina selanjutnya.


Sebenarnya Gavin kurang setuju jika Lala di ajak oleh Bundanya, karena dia khawatir jika sewaktu waktu di luar sana Lala bertemu dengan mantan suaminya. Akan tetapi, dia tidak mungkin menahan kemauan Vina karena pasti akan menimbulkan kesalahpahaman. Pada akhirnya Gavin menanggapi ucapan Bundanya dengan pertanyaan yang tidak secara langsung menanyakan tentang Lala.


"Oh gitu Bun, emangnya sampai berapa lama aku akan tinggal sendiri? Emm, maksudnya kapan kalian, eh kapan Bunda dan Ayah pulang?" tanya Gavin belepotan.


"Apa sih Bunda ini?" sahut Gavin kepalang malu.


"Iya maaf, Bunda nggak lama kok. Mungkin dua hari lagi kami bertiga akan kembali pulang," jawab Vina kemudian dia mengakhiri panggilannya.


Setelah mengakhiri panggilan dari Bundanya, mendadak Gavin merasa kehilangan sesuatu dari isi rumahnya. Apalagi ketika dia melihat meja makan, Gavin teringat ketika tadi pagi Lala memasak rendang daging untuk dirinya. Dan Gavin juga teringat bahwa keesokkan hari, dia akan mengantar Lala, dan menemaninya belanja kebutuhan memasak. Namun, mendadak semua wacana itu musnah karena hari itu Vina malah mengajak Lala pergi.


"Aku ini kenapa sih? Dia kan cuma asisten? Dan kita juga baru kenal baik sejak tadi malam? Lalu kenapa aku jadi merasa kehilangan begini sih?" tanya Gavin dalam hati. Baginya memang terasa aneh, karena dalam waktu singkat dia bisa menganggap Lala begitu dekat. Gavin berusaha menyampingkan pertanyaan pertanyaan tersebut dari kepalanya, tetapi ternyata hal itu tidaklah mudah. Petang itu Gavin benar benar merasa kesepian, padahal beberapa hari lalu ketika dia belum dekat dengan Lala, dia selalu mencari cara untuk mengusirnya. Tetapi, yang terjadi sekarang malah kebalikannya. Dia merasa kehilangan ketika Lala benar benar telah meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


Karena merasa tidak tenang, petang itu Gavin berniat menyusul Lala ke rumah omahnya. Tentu dia sudah menyiapkan jawaban ketika Ayah dan Bundanya menanyakan kehadirannya yang tiba tiba.


"Oke, malam ini sepertinya aku harus menyusul ke rumah Omah. Aku yakin, alasanku cukup di percaya jika Ayah dan Bunda bertanya," ujar Gavin dalam hati. Setelah yakin dengan keputusannya, dia lekas berkemas dan membawa beberapa baju ganti yang akan dia kenakan selama tinggal di rumah omah nya. Usai menyiapkan semua peralatannya, tanpa menunggu lama dia segera berangkat sebelum hari semakin gelap. Tak lupa juga dia meninggalkan pesan kepada Pak Salim bahwa dirinya akan menginap di rumah omahnya.


Selama di perjalanan, Gavin tidak sabar ingin segera tiba di lokasi. Semangatnya begitu tinggi seperti ingin bertemu dengan sang kekasih. Bahkan dirinya sendiri juga heran dengan perasaan yang dia rasakan. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam lewat jalur tol, akhirnya Gavin tiba di daerah tempat tinggal omahnya. Hanya butuh waktu tiga puluh menit lagi untuk tiba di sana, dan Gavin pun lekas menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai. Hingga saat itu, dia belum memberi tahu kepada sang Bunda jika dia akan menyusul, karena dia yakin Bundanya akan melarangnya. Dari dulu Vina memang melarang Gavin pergi ke rumah omahnya sendirian, kecuali jika di temani supir atau keluarga. Tentu saja alasannya karena Gavin selalu menaiki mobil dengan kecepatan tinggi, dan hal itu selalu membuat Vina merasa cemas. Lain halnya dengan Garda, dia tidak pernah melarang putranya, karena dia bisa memaklumi masa masa muda yang di lewati oleh Gavin, yang tidak jauh beda dari dirinya.


Mobil Gavin sudah tiba di depan pagar rumah Omah Dara. Perlahan dia mulai masuk lalu memarkirkan mobilnya di halaman. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, suasana di mansion Opah Gaston sudah nampak sepi. Mungkin saja sebagian dari mereka sudah mulai beristirahat. Tetapi, ternyata Lala masih terjaga. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan hendak beristirahat. Dan ketika dia menyadari ada suara mobil yang datang, dia mencoba mengintip lewat tirai jendela. Dan begitu terkejutnya dia ketika dia lihat Gavin keluar dari mobil tersebut.


"Tuan Gavin? Dia ikut menyusul ke sini?" tanya Lala dalam hati.


Meski dia ingin sekali menyambutnya, tetapi dia tidak berani melakukan hal itu karena dia sadar bahwa dia hanya penghuni baru di mansion tersebut. Sudah ada asisten inti yang bertugas di sana, sehingga Lala hanya bisa melihat dari kejauhan. Bahkan dia memilih untuk undur diri agar tidak menimbulkan masalah, mengingat di dalam mansion itu terdapat banyak anggota keluarga yang singgah.


Ting tung....


Gavin mulia menekan bel yang terpasang dia samping pintu utama. Dan setelah dua kali menekannya, barulah muncul seorang asisten rumah tangga yang membuka pintu tersebut. Awalnya Gavin berharap jika Lala yang membukakan pintu untuknya, tetapi ternyata bukan. Dia mencoba bersikap tenang meski sebenarnya dia kesal karena bukan Lala yang pertama dia temui.


"Silahkan masuk Tuan, " sapa seorang asisten yang seumuran dengan Gavin. Namanya Santi, dia sudah mengenal Gavin karena sudah lama bekerja di mansion Omah Dara. Serta sudah lama juga Santi selalu mencari perhatian kepada Gavin ketika pria itu berkunjung ke rumah omahnya, tentu saja dia berharap jika nasibnya akan mujur seperti Omah Dara dan juga Nyonya Vina yang sama sama di nikahi oleh majikannya.


"Gavin, kamu menyusul ke sini? Datang sama siapa kamu? Sendiri atau sama Pak supir? Kenapa tidak bilang bilang kalau mau datang? Tau gitu tadi siang Bunda ajak kamu sekalian agar kamu tidak berkendara sendirian," cerocos Vina menyambut kedatangan putranya.

__ADS_1


__ADS_2