Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Pamit


__ADS_3

"Opa pikir dia layak menempati kamar ini? Dia ini justru sama sekali tidak layak untuk tinggal di rumah ini, apalagi menjadi pendamping ku!" Tegas Gavin menanggapi ucapan Opanya.


"Buka mata kamu Gavin! Kamu ini udah di butakan oleh cinta yang sesat. Sampai sampai kamu tidak bisa membedakan antara berlian dan batu!" Tegur Gaston kepada cucunya.


"Aku masih bisa membedakan berlian dan batu Opa. Dan ini adalah berlian ku!" Jawab Gavin seraya merangkul tubuh Lala. Dan jawaban itu membuat Gaston semakin geleng kepala.


"Opa benar benar tidak habis pikir sama kamu! Otak kamu sudah benar benar di racuni oleh perempuan yang tidak jelas asal usulnya ini!" Cecar Gaston sekali lagi kepada Lala.


"Cukup Opa, cukup! Opa boleh kecewa sama Gavin, tapi jangan Opa beri penilaian seenaknya kepada Lala. Dia adalah sosok wanita yang berkepribadian seperti Oma dan juga Bunda. Itulah sebabnya Gavin lebih memilih Lala, daripada dia. Seorang wanita yang hanya mengedepankan egonya saja. Demi popularitas dan uang, dia tidak mempedulikan semua ucapanku. Bahkan dia tak segan segan menampilkan lekuk tubuhnya di depan para lelaki dan kamera, lalu bagaimana aku bisa membina rumah tangga dengan wanita seperti ini Opa?" Seru Gavin dengan nada yang tegas dan keras demi mengutarakan semua isi hati dan kepalanya. Dan jawaban itu sempat membuat Gaston terdiam. Akan tetapi, justru Viola lah yang naik pitam mendengar ucapan yang terdengar jelas menyudutkan dirinya.


"Kamu keterlaluan dalam menilai ku Gavin! Aku tidak seburuk itu! Aku melakukan semua ini demi masa depan kita dalam berumah tangga, demi anak anak kita kelak. Aku ingin mengerahkan semua kemampuanku selagi aku mampu, dan jika semua sudah tercapai, aku pasti akan berhenti!" Dalih Viola mencoba mencari pembenaran. Akan tetapi, hal itu tetap tidak di terima oleh Gavin.


"Sudahlah, jangan banyak alasan. Semua itu bukan tugas kamu. Lalu, apa kamu pikir jika kamu berhasil mengumpulkan banyak uang, kamu bisa membeli kasih sayang yang harusnya kamu berikan kepada keluarga, kepada anak anak kamu? Tidak! Semua itu tidak bisa di beli dengan uang. Alasan itu hanya kamu jadikan sesuatu untuk menutupi keegoisan kamu belaka. Sudahlah, aku sudah muak! Untuk hal sepenting ini saja kamu tidak mendengar ku, apalagi dengan hal hal kecil dalam berumah tangga?" Cerocos Gavin sembari mengajak Lala untuk beranjak dari tempat mereka berdiri.


"Ayo kita pergi dari sini!" Ajak Gavin, sembari menggandeng tangan Lala. Sementara Viola hanya terdiam bagai patung tak bernyawa melihat kepergian Gavin bersama dengan Lala.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" Mendadak satu suara terdengar di telinga Gavin, tetapi pria itu menjawab dengan santai.


"Aku mau pergi ke tempat yang lebih tenang!" Jawab Gavin sambil tetap melangkah keluar tanpa menghiraukan jawaban Gaston selanjutnya. Karena orang yang baru saja memberinya pertanyaan adalah Opanya sendiri. Namun, sebelum benar benar keluar dari mansion Opanya, Gavin terlebih dahulu menghampiri Omanya untuk berpamitan.


"Gavin dan Lala pamit dulu Oma. Doakan kami agar segera menemukan jalan terang," Ucap Gavin kepada Omanya sembari mencium tangan beliau.


"Oma tidak mau banyak bicara dan berharap. Oma hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk cucu Oma. Kamu hati hati ya di jalan," Sahut Dara seraya mengelus puncak kepala cucunya.


"Terima kasih Oma," Jawab Gavin. Dia pun kembali mencium tangan Dara sekali lagi, lalu di iringi Lala yang juga menyusul mencium tangan beliau. Setelah kedua selesai berpamitan, Gavin benar benar pergi meninggalkan mansion Omanya.


"Lalu, memangnya kita harus bagaimana? Apa kita harus menahan Gavin kemudian mengurungnya di dalam kamar seperti anak kecil? Dan jika di perlakukan seperti itu, apa akan menyelesaikan masalah? Tidak! Yang ada dia akan menjauh dari kita. Dia bukan anak anak lagi, dia sudah dewasa. Kita beri dia ruang untuk menentukan masa depannya, jika pada akhirnya dia menemui kesulitan atau bahkan penyesalan, kita juga harus tetap menjadi tempat yang nyaman bagi dia untuk kembali!"Tutur Dara kepada suaminya. Saat itu Gaston tidak bisa banyak bersuara, karena jika di pikir pikir ucapan Dara memang ada benarnya.


Setelah menyampaikan pendapat kepada suaminya, Dara segera masuk ke dalam kamar. Dia tinggalkan Gaston yang masih mematung dengan penuh kegusaran. Sementara Viola, dia sudah selesai berkemas dan akan berpamitan untuk segera pulang.


"Aku mau pamit Opa, sepertinya kehadiranku di sini memang benar benar tidak di inginkan," Ujar Viola dengan raut wajahnya yang penuh dengan kekesalan. Usahanya untuk mendekati Gavin benar benar sia sia. Bahkan dia merasa begitu di permalukan dan tidak di hargai sama sekali.

__ADS_1


"Maafkan sikap Gavin. Sepertinya kalian memang belum berjodoh. Opa doakan, semoga kamu mendapat pengganti yang lebih baik," Ujar Gaston kepada Viola. Dan setelah mendengar kata kata Gaston, Viola lekas pergi juga dari mansion Opanya Gavin tersebut.


Di lain tempat, Garda tengah serius memperhatikan sebuah video yang di kirim oleh Dara. Dalam video itu memperlihatkan perdebatan antara Gavin dengan Gaston dan juga Viola, karena tadi Dara memang sengaja merekamnya. Dalam video tersebut, secara terang Gavin menyampaikan alasannya memilih Lala sebagai pendamping hidupnya. Dan hal itu berhasil mencuri perhatian Garda untuk mempertimbangkan alasan tersebut.


Bukan hanya kepada Garda, rupanya Dara juga mengirimkan video itu kepada Vina agar putra serta menantunya itu mempertimbangkan alasan Gavin. Dara juga melengkapi kiriman video tersebut dengan kata kata, "Oma tidak mau mengatur kalian dalam mendidik putra kalian, tetapi Oma hanya mendoakan yang terbaik untuk kalian semua. Dan tidak ada salahnya jika kita memberi kesempatan kepada Gavin untuk menentukan masa depannya sendiri. Jika pada akhirnya dia gagal, dia pasti akan kembali kepada kita."


Setelah mengirim kata kata itu, Dara juga menyampaikan kepada Garda dan Vina jika Gavin sudah pergi bersama dengan Lala, entah kemana.


"Apa? Gavin pergi? Pergi kemana dia?" Tanya Garda di dalam hati ketika mendengar kabar jika Gavin dan Lala sudah meninggalkan mansion orang tuanya.


Semua di buat panik dengan kepergian Gavin dan Lala secara tiba tiba. Bukan hanya panik karena mereka tidak tau kemana perginya keduanya, tetapi semua juga panik jika terjadi apa apa pada Gavin dan Lala dalam perjalanan.


"Sayang, apa kamu menyesal telah mengambil jalan ini bersamaku?" Tanya Gavin kepada Lala yang dari tadi nampak diam dan gelisah selama di perjalanan. Kemudian, tak berselang lama Lala menjawab.


"Tidak ada wanita di dunia ini yang lebih beruntung dari pada aku, lalu apa pantas jika aku menyesali semuanya?"

__ADS_1


__ADS_2