Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Sebuah Janji


__ADS_3

"Ceritakan kepada kami, sejauh apa hubungan kalian!" gertak Garda kepada Lala. Janda tersebut kini tengah duduk di salah satu ruangan dengan di hujani pertanyaan dari majikannya. Ternyata, dia tidak pergi dari rumah itu. Melainkan di minta untuk bersembunyi oleh Garda.


Karena merasa ketakutan, lidah Lala terasa kaku untuk berbicara. Sehingga hal itu membuat Garda kembali membentaknya, " Aku tanya sama kamu, sejauh mana hubungan kalian?"


"Cukup Garda, Mommy nggak tahan melihat caramu memperlakukan dia. Kamu seperti orang yang tidak punya adab!" sela Dara yang tiba tiba masuk ke ruangan tersebut.


"Garda harap Mommy tidak ikut campur, ini semua juga demi kebaikan Gavin!" sahut Garda sambil menoleh ke arah Ibunya.


"Kamu mengorbankan orang lain untuk kebaikan putramu? Kebijakan apa itu? Jika kamu ingin menghakimi, cukup anak kamu sendiri saja yang kamu urus. Bukan orang lain!" sangkal Dara. Hingga saat itu pendapat mereka masih belum bisa sejalan.


"Mommy lihat sendiri bagaimana Gavin, dia tidak mau mengatakan sejujurnya!" dalih Garda.


"Itu karena cara yang kamu lakukan tidak tepat. Seharusnya kamu bertanya dengan cara baik, bukan dengan kasar dan menyudutkan," tegas Dara.


"Jadi menurut Mommy, aku yang salah?" tanya Garda dengan kedua alis yang hampir menyatu.


"Iya, sebagai orang tua kamu gagal mengendalikan ego kamu sendiri untuk menghadapi ego putramu!" seru Dara. Wanita yang sudah beruban itu kemudian duduk mendekat ke arah Lala. Beliau kemudian mulai bertindak menanggapi masalah tersebut.


"Tinggalkan kami berdua!" titah Dara kepada putranya.


Garda tentu merasa tercengang dengan perintah tersebut. Dia berusaha melawan perintah Dara, tetapi pada ujungnya dia hanya bisa menurut. Gara keluar dari ruangan tersebut dalam keadaan kesal.


Braaakh,

__ADS_1


Terdengar pintu kamar di tutup dengan keras oleh Garda. Dan ketika telah keluar dari kamar tersebut, Garda di sambut oleh Vina dan Gaston.


"Bagaimana? Mana Oma? Kenapa kamu keluar sendirian?" tanya Gaston sembari mendekat ke arah putranya.


"Aku di suruh keluar oleh Oma!" jawab Garda sembari menghembuskan nafas dengan kasar.


"Lalu? Apa kamu tadi sudah berhasil menginterogasi janda itu?" tanya Gaston selanjutnya, kemudian Garda menggelengkan kepala untuk memberi jawaban.


Sementara dua wanita beda usia yang tengah berada di dalam kamar tersebut, sudah mulai bersuara.


"Apa benar kamu mempunyai hubungan dekat dengan Gavin?" tanya Dara dengan nada yang lebih ramah.


"Tidak Nyonya," jawab Lala sembari menggelengkan kepala dengan pandangan yang tertunduk.


Setelah mendapat jawaban itu, Dara sejenak terdiam. Dia memikirkan langkah yang tepat untuk mengetahui kebenaran tentang hubungan mereka. Usai terdiam sesaat, Dara kembali mengucapkan kata kata.


"Tidak Nyonya, kami tidak melakukan apa apa," jawab Lala dengan ekspresi yang sama. Menggelengkan kepala dengan pandangan ke bawah.


"Baiklah, kalau begitu saya minta kamu cerita awal perkenalan kalian, hingga kegiatan apa yang kalian lakukan selama tinggal berdua. Jika kamu jujur, saya akan sangat senang. Tetapi jika kamu berbohong, saya akan sangat kecewa. Karena saya di sini bersikeras membela posisi kamu, meski pendapatku harus bertentangan dengan suami dan putraku. Jadi saya mohon, kamu tidak mengecewakan," pinta Dara kepada Lala.


Permintaan itu tentu membuat Lala merasa tidak enak hati. Sebagai seorang majikan, Dara telah berusaha membela posisinya, dan hal itu membuat Lala merasa begitu berhutang budi.


"Sepertinya aku harus mengatakan semuanya," ujar Lala dalam hati. Akan tetapi sejenak dia teringat kepada pesan Gavin agar tidak menceritakan kejadian malam itu kepada Vina.

__ADS_1


"Duh, gimana dengan janji itu? Tuan pasti akan sangat marah jika tahu saya telah menceritakan semuanya," gumam Lala dalam hati. Dia nampak begitu gelisah memikirkan jawaban yang tepat untuk majikannya.


Dara masih senantiasa menunggu Lala hingga bersedia membuka suara. Dan beberapa detik kemudian, Lala mulai mengatakan sesuatu.


"Maaf Nyonya, saya bersedia cerita apa adanya. Tetapi sebelumnya saya ada sebuah janji dengan Tuan Gavin, lalu bagaimana jika nanti saya di katakan ingkar janji? Apa yang harusnya saya lakukan?" tanya Lala kepada Dara. Disaat dia diminta untuk bercerita, dia malah meminta pendapat majikannya. Setelah mendengar pertanyaan dari Lala, Dara kemudian mengulas senyum di bibir keriputnya.


"Kamu pegang saja janji itu, karena itu tandanya kamu adalah orang yang dapat di percaya. Tetapi, kamu tetap harus jujur pada saya, dan untuk membuktikan kesetiaan kamu pada janji yang kamu pegang, maka saya juga akan ikut menjaga janji itu agar tidak di ketahui oleh orang lain. Saya yakin kamu paham dengan maksud ucapan saya, jadi sekarang mulailah bercerita apa adanya tanpa ada yang kamu tutup tutupi." Dara mengakhiri ucapannya, sementara Lala masih berusaha memahami kalimat tersebut. Kemudian setelah berhasil memahami makna dari kalimat itu, Lala kemudian dengan yakin menceritakan semua yang dia alami selama tinggal di rumah Gavin.Dara dengan seksama mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Lala.


Tiga puluh menit lamanya keduanya berada di dalam kamar, dan hal itu tentu mengundang perhatian Garda, Gaston dan juga Vina.


"Kenapa mereka lama sekali di dalam?" tanya Garda dengan penuh kegelisahan.


"Opa rasa perempuan itu sedang mengelabuhi Oma," sahut Gaston. Kedua pria itu memang tidak pernah memiliki pikiran positif kepada Lala. Sebenarnya Vina tidak sependapat dengan suami serta ayah mertuanya, tetapi dia juga tidak punya keberanian untuk menentang. Sehingga dia lebih memilih untuk diam dan hanya menyaksikan.


Karena sudah terlalu lama menunggu, Garda merasa sudah tidak punya kesabaran lagi. Dia segera berdiri, lalu melangkah ke arah pintu tersebut dengan langkah yang lebar.


Tok...tok...tok...


"Mommy, buka pintunya Mom!" seru Garda dari balik pintu. Dia tidak bisa langsung masuk ke dalam kamar itu dengan begitu saja karena Dara sengaja menguncinya dari dalam.


"Ada Tuan Garda Nyonya, pasti beliau akan kembali memarahi saya," ucap Lala dengan panik ketika mendengar suara majikannya.


"Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir.Dia tidak akan berani memarahi kamu," sahut Dara sembari menepuk pelan punggung Lala. Beliau lantas berdiri, lalu berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu. Sementara Lala memilih untuk berjalan mengekor di belakang Dara.

__ADS_1


Ceklek, Perlahan gagang pintu mulai bergerak, kemudian pintu mulai terbuka.


"Mommy? Mommy kenapa? Apa yang sudah dia lakukan sehingga membuat Mommy menjadi seperti ini?" tanya Garda kepada Dara dengan raut wajah yang tegang, saat dia melihat mata Dara memerah serta sedikit sembab akibat ikut menangis ketika mendengar kisah Lala yang mengharukan.


__ADS_2