
" Lala memang ada di dalam," ungkap Dara dengan jujur, dan hal itu membuat Gaston dan Garda merasa kesal. Seketika Gavin pun langsung menyahuti.
" Tuh kan, apa kata Oma? Seharusnya yang perlu di ajari soal kejujuran itu putra kamu Oma, bukan aku!"
"Gavin!" seru Garda merasa tidak terima karena orang yang di maksud putranya itu adalah dirinya.
"Sudah, jangan berdebat lagi!" Bentak Dara. Beliau begitu geram dengan tiga lelaki yang selalu keras kepala itu.
"Sekarang, Oma tanya. Apa sebenarnya mau kamu Gavin?" tanya Dara kepada cucunya dengan begitu serius.
"Mau Gavin nggak banyak dan nggak susah Oma, hanya mau kembalikan Lala. Gavin punya banyak salah sama dia, jadi Gavin mau minta maaf dengan cara memperkerjakan dia dengan layak," jawab Gavin dengan nada yang tak kalah serius.
__ADS_1
"Apa kamu yakin itu saja alasan kamu? Bukankah kamu ingin menikahinya?" cecar Dara lagi tanpa basa basi.
"Kalau untuk mikir sejauh itu sebenarnya Gavin belum ada, karena aku dan Lala sampai saat ini tidak terikat hubungan apapun. Lagian, belum tentu juga Lala mau aku nikahi, apalagi calon mertuanya galak!" sindir Gavin sambil melirik ke arah Ayahnya. Kedua bola mata Garda pun membulat mendengat sindiran yang datang ke arahnya, tetapi saat itu dia tidak ingin di permalukan lagi oleh Ibunya jika sampai salah bicara.
"Baiklah, kalau begitu Oma pegang ucapan kamu. Oma yakin cucu Oma ini punya niat yang baik. Sekarang tinggal bagaimana Ayah kamu menanggapi, jika masih tetap tidak mengizinkan, maka biarkan Dara bekerja disini saja. Kamu percaya kan sama Oma? Dia pasti aman berada di sini, Oma sudah tahu semuanya dari Lala," tegas Dara sekali lagi. Akan tetapi Gavin segera menolak saran tersebut.
"Aku percaya sama Oma, tapi aku tidak percaya sama Opa!"
"Apa maksud kamu? Kakek tidak ada urusan sama perempuan itu!" geram Gaston kepada cucunya. Suasana perbincangan siang itu sedikit berbelit, hingga akhirnya keputusan yang di sepakati adalah, Lala tetap tinggal di rumah Dara, karena Garda bersikeras melarang janda tersebut bekerja di rumahnya. Awalnya Gavin sangat memberontak. Akan tetapi, di sisi lain pertimbangan Gavin adalah keselamatan Lala, karena memang Lala lebih aman jika tinggal di rumah Omanya dari pada di rumahnya. Tentunya karena rumah Omanya jauh dari daerah asal mantan suami Lala.
"Baiklah, aku setuju!" jawab Gavin dengan sedikit keberatan. Tetapi setidaknya lebih baik Lala tinggal di rumah Omanya dari pada di usir oleh Ayahnya.
__ADS_1
"Ya sudah. Lagian jika di sini, Lala bisa bantu Santi. Dia tidak ada teman di sini. Sementara di rumah Ayah kamu sudah ada Bi Sari dan Bi Nina bukan?" tukas Dara yang pada akhirnya mendapat kesepakatan dari seluruh pihak keluarga.
Siang itu akhirnya Gavin kembali pulang bersama dengan Ayah serta Bundanya. Tetapi sebelumnya dia menemui Lala sebentar untuk meminta nomor ponselnya.
"Terima kasih Tuan, akhirnya saya masih berkesempatan untuk kerja di sini dan jauh dari mantan suami saya," ujar Lala kepada Gavin.
"Sama sama, akhirnya aku merasa lega jika kamu sudah berada di tempat yang aman. Kamu jaga diri di sini ya, aku mau pulang." cakap Gavin berpamitan. Kemudian Lala lekas mengangguk diiringi dengan senyuman. Kebahagiaan terpancar di antara wajah keduanya, walaupun dari kejauhan nampak ada satu pasang mata yang tidak suka melihat pemandangan itu.
"Dasar janda kegatelan!" geram Santi melihat kedekatan Lala dengan majikannya.
Setelah Gavin dan kedua orang tuanya pulang, Santi mulai memberi teror kepada Lala. "Heh, urusan pekerjaan aku semua yang ngatur di sini. Jadi kamu jangan macam macam ya!" seru Santi sembari melipat kedua tangan di dada. Sontak Lala terkejut dengan teguran itu, sehingga dia merasa tidak nyaman. Akan tetapi, untuk sementara waktu dia memang tidak akan bisa berbuat apa apa selama tinggal di rumah majikan barunya karena memang Santi yang lebih dulu bekerja di sana.
__ADS_1