
Jawaban Gavin tentu saja mengejutkan Garda dan juga Vina. Bukan hanya mereka berdua, tetapi Lala dan Santi yang kala itu ikut mendengarkan jawaban Gavin juga di buat tercengang. Awalnya Lala mengira jika itu hanya sekedar gurauan, tetapi ternyata ucapan itu tidak main main. Dia bahkan masih tidak percaya ketika Gavin berjalan mendekatinya, lalu mengajaknya untuk pulang.
"Lala, ayo kita pulang!" seru Gavin, sementara lidah Lala terasa membeku untuk menjawabnya. Dan belum sempat Lala menjawab ajakan itu, Vina lebih dulu menyahuti.
"Jangan Lala, tetapi di sini. Jangan turuti perintahnya!" sela Vina menyahuti. Dan hal itu tentu membuat Lala berada di antara dua pilihan yang sulit. Tentu dia tidak mau melawan Vina yang lebih dulu mengajaknya ke mansion Gaston tersebut, tetapi dia juga tidak enak hati jika harus menolak ajakan Gavin yang jauh jauh datang menyusulnya karena khawatir akan keadaannya. Hingga saat itu Lala masih belum berani mengatakan apapun, dia hanya menunduk mendengarkan perdebatan ketiga majikannya.
"Apa apanya sih kalian, rebutan kayak anak kecil! Gavin, jika kamu mau pulang, pulang saja sendiri!" titah Garda sekali lagi, tetapi hal itu tidak di setujui oleh Vina.
"Jangan suruh dia pulang sendiri Ayah, Bunda khawatir," tegur Vina kepada suaminya.
"Dia udah dewasa Bun, Bunda jangan perlakukan dia seperti anak kecil. Lihat saja, dia bahkan mengatakan ingin menikahi janda, bukannya itu sudah cukup dari kata dewasa? Bahkan itu sedikit gila!" seru Garda sembari mengusap kasar wajahnya. Dia terlalu kesal mendengar permintaan putranya yang nyeleneh.
"Ayah ini, jaga bicaranya dong! Masak anak sendiri di bilang gila?" sahut Vina merasa tidak terima jika putranya di katakan gila.
"Habisnya, aneh aneh aja pemikirannya. Masih banyak yang gadis, kok milih Janda!" tegas Garda.
Berkali kali Lala mendengar cacian dari sang majikan tentang statusnya. Meskipun pada saat itu, Garda benar benar tidak tahu jika Lala itu sudah menjadi janda.
Ketika melihat kedua orang tuanya masih saja berdebat, Gavin memanfaatkan kesempatan untuk kembali mengajak Lala pulang.
"Ayo kita pulang, jangan dengarkan perdebatan mereka!" titah Garda sembari menggandeng tangan Lala dan bersiap menariknya secara paksa. Namun, hal itu di ketahui oleh Vina sehingga Ibu dari Gavin tersebut kembali melarangnya.
"Tinggallah di sini sampai besok pagi sayang, kita akan pulang bersama sama sama. Bunda bukan menganggap kamu seperti anak kecil, tetapi Bunda hanya khawatir jika membiarkan kamu menyetir dalam keadaan emosi tidak tenang seperti ini. Lagian, Bunda masih membutuhkan tenaga Lala di sini," ujar Vina dengan lebih lembut. Di saat dia berada di antara dua kepala yang sama sama kerasnya, Vina hanya bisa mengalah dan bersikap lebih lembut untuk menenangkan. Jika belum mampu menenangkan keduanya, setidaknya Vina bisa mengendalikan salah satunya.
__ADS_1
Gavin sebenarnya tetap ingin pulang pada waktu itu juga, tetapi setelah mendengar ucapan Vina, dan di tambah dengan nasehat singkat dari Lala, pria keras kepala itu akhirnya sedikit dapat di jinak kan.
"Benar Tuan, Nyonya begitu mengkhawatirkan keselamatan Tuan," ujar Lala. Dia berharap Gavin mengerti perasaan Bundanya dan lekas menuruti perintahnya. Dan benar saja, setelah sempat diam selama beberapa detik, Gavin kemudian mengiyakan perintah Vina.
"Baiklah, aku akan tinggal sampai besok pagi." Cakap Gavin sembari melepaskan tangan Lala. Dan hal itu tentu membuat Vina sangat lega, tak lupa juga dia berterima kasih kepada Lala yang sudah membantunya menasehati putranya.
"Terima kasih Lala, kamu sudah membantu saya menasehati Gavin," ujar Vina kepada Lala. Sementara Gavin serta ayahnya sudah kembali ke kamar mereka masing masing.
Kini yang ada di kepala Vina adalah, berusaha mendekati putranya untuk berbicara dari hati mengenai keinginannya untuk mendekati janda. Vina sendiri sebenarnya keberatan jika sampai putranya mendapat pendamping seorang janda, tetapi hingga saat itu dia masih ingin tahu kebenaran hal tersebut. Karena dia masih yakin jika Gavin hanya berandai andai.
Setelah mengontrol semua pekerjaan dapur yang harus di kerjakan oleh para asisten rumah tangganya, Vina berniat untuk menemui Gavin di kamarnya.
Tok... tok.... tok....
Ceklek,
Dengan begitu malas Gavin membukakan pintu. Rambutnya terlihat acak acakan dengan mata yang sedikit lengket. Rupanya pria itu sempat tertidur setelah berdebat dengan kedua orang tuanya.
"Iya Bun, ada apa?" tanya Gavin dengan suara yang serak.
"Boleh Bunda masuk? Bunda ingin bicara sama kamu," jawab Vina dengan lembut agar putranya mengizinkan dirinya masuk. Dan benar saja, cara itu ternyata cukup ampuh untuk membuat Gavin menuruti perintahnya.
Setelah keduanya masuk ke dalam kamar, Vina lekas menutup kembali pintunya. Sementara Gavin justru kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
__ADS_1
"Bunda mau bicara apa emangnya? Sebenarnya Gavin masih ngantuk, pengen tidur." ujar Gavin dengan mata yang sedikit dia pejamkan. Namun, kedua mata itu mendadak terbuka lebar ketika dia mendengar jawaban Vina.
"Bunda ingin membicarakan janda yang ingin kamu nikahi!"
Degh! Seketika Gavin segera bangun dari rebahannya dengan wajah yang tegang. Bukannya menjawab, Gavin justru memberikan pertanyaan balik kepada Bundanya.
"Siapa yang Bunda maksud?" tanya Gavin.
"Loh, kok tanya Bunda? Kan Bunda yang tanya ke kamu? Harusnya kamu yang jawab, bukan Bunda!" sahut Vina dengan menjaga nada bicaranya agar tetap terdengar bersahabat.
"Oh, kirain Bunda udah tahu," jawab Gavin dengan santai. Bahkan kini dia juga terlihat lebih rileks dari sebelumnya.
"Apa? Jadi itu semua benar? Bunda kira, kamu hanya berandai andai saja. Ternyata kamu tidak main main dengan pertanyaan kamu?" tanya Vina. Kini ganti dia yang di buat tegang oleh jawaban putranya.
"Sebenarnya kalau untuk menikah itu masih jauh Bun, makanya aku kan tanya. Misalnya aku menyukai janda, apa kalian semua merestui?" cakap Gavin mengulangi pertanyaan yang tadi dia ucapkan, sekaligus memberi penjelasan kepada Bundanya.
"Tetapi Gavin, apa itu artinya kamu sudah bertemu atau mungkin sudah kenal dengan janda itu?" tanya Vina kemudian.
"Sudah," jawab Gavin dengan singkat. Dan jawaban itu semakin membuat hati Vina tidak karuan. Dia masih saja ingin mengorek informasi lebih lanjut tentang hubungan putranya dengan janda yang dia maksud.
"Sudah? Siapa dia Gavin? Kenalkan pada Bunda, biar Bunda bisa mengenalnya!" titah Vina dengan bibir yang sedikit bergetar. Masih belum bisa dia percayai jika ternyata putranya benar benar menyukai seorang janda.
"Buat apa Bun? Bukannya kalian tidak merestui? Jika aku kasih tahu, nanti yang ada dia hanya akan mendapat cacian dari kalian. Gavin nggak mau itu terjadi,"
__ADS_1