
"Apa?" tanya Lala dalam hati setelah mendengar ucapan Gavin. Lala merasa heran sekaligus senang mendengar ucapan itu. Tetapi, dia tidak ingin melambungkan angan gara gara ucapan konyol yang mungkin akan membawa petaka baginya.
"Hei, kenapa melamun? Apa kamu sedang membayangkan pesta pernikahan kita?"
Sontak Lala segera bangun dari lamunannya setelah mendengar pertanyaan dari Gavin. "Emm, ti-tidak Tuan. Bukan, saya tidak memikirkan hal itu," jawab Lala dengan gelagapan. Dia benar benar di buat salah tingkah dan juga malu oleh majikannya sendiri.
Ketika keduanya sedang asyik ngobrol, ponsel Gavin mendadak berbunyi tanda ada pesan masuk. Dia lantas meraih benda pipih persegi panjang itu dari sakunya. Dan setelah melihat siapa pengirimnya, rupanya dia membaca nama Ayahnya ada di sana.
"Gavin, cepat pulang! Kasihan Viola, dia sudah menunggu di sini, dia juga terlihat begitu sedih. Memangnya apa yang sudah kamu lakukan sama dia?" cecar Garda kepada putranya.
"Di rumah kan ada banyak orang, kalian bisa menemani mereka!" satu balasan telah Gavin kirim kepada ayahnya, lalu segera dia matikan ponsel itu.
Setelah membalas pesan dari ayahnya, wajah Gavin terlihat begitu kesal. Dan karena merasa tidak nyaman dengan kehadiran Viola di tengah tengah keluarganya, Gavin berniat untuk mengajak Lala pindah ke suatu tempat yang tidak di ketahui oleh semua keluarganya.
Lala melihat perubahan raut wajahnya majikannya yang mulai tidak nyaman, tetapi dia tidak berani banyak bertanya. Hingga pada akhirnya Gavin sendiri yang mulai angkat bicara.
"Jika kamu sudah sembuh, lebih baik kita pergi ke tempat yang tidak di ketahui oleh keluarga kita biar kamu tenang," Ujar Gavin sembari menatap dalam wajah Lala.
"Pergi? Pergi kemana Tuan?" Kejut Lala. Dia tidak mengerti apa maksud ucapan majikannya tersebut.
"Kamu nggak perlu tahu kita mau kemana, yang penting kamu aman dari orang orang yang tidak suka sama kamu," Ungkap Gavin selanjutnya.
Lala terdiam mendengar ucapan tersebut, dalam benaknya penuh tanda tanya akan maksud dan tujuan majikannya itu. Antara hanya ingin melindungi atau ada perasaan lain, dua hal itu membuat Lala gelisah.
"Apa kamu keberatan?" Tanya Gavin kepada Lala, kemudian Lala pun menggeleng. Gavin melihat raut wajah Lala yang gelisah, tetapi dia tidak tahu kegelisahan apa yang di rasakan oleh Lala.
__ADS_1
"Tuan, apa boleh saya bertanya sesuatu?" Tanya Lala.
"Tentu boleh, katakan apa yang ingin kamu tanyakan," Sahut Gavin. Dia begitu bersungguh sungguh menanggapi ucapan Lala, dan mendengar semua pertanyaannya.
"Kenapa Tuan mempunyai rencana seperti itu? Karena menurut saya itu begitu berlebihan. Saya hanya seorang pembantu di sini Tuan, tetapi Tuan memperlakukan saya seperti keluarga, dan hal itu membuat Opa dan juga Ayah Tuan tidak suka. Apalagi perempuan tadi malam, sepertinya dia begitu berharap kepada Tuan. Jika kehadiran saya hanya membuat masalah, lebih baik saya pulang saja Tuan," Ujar Lala kepada Gavin. Dia kumpulkan semua keberaniannya untuk mengutarakan semua isi kepalanya.
"Oh, jadi kamu mau pergi ninggalin aku setelah semua yang sudah aku lakukan sama kamu?" Gavin justru memberikan pertanyaan balik yang membuat Lala kebingungan untuk menjawab.
"Oh bukan, bukan begitu Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya sangat berterima kasih atas semua yang sudah Tuan lakukan kepada saya, dan saya melakukan semua ini justru karena saya memikirkan kenyamanan Tuan agar tidak terkena masalah terus," Jawab Lala dengan gugup.
"Jika kamu ingin membuat aku nyaman, tetaplah berada di sisiku. Karena aku nyaman bila di dekatmu,"
Deg! Hati Lala sejenak berhenti berdetak mendengar ucapan yang di sampaikan oleh majikannya. Apalagi ketika mengatakannya, Gavin meraih tangan Lala untuk dia genggam.
"Kenapa kamu terdiam? Apa kamu tidak suka dengan apa yang baru saja aku katakan?" Tanya Gavin selanjutnya dengan nada pelan tapi penuh dengan tekanan kepada Lala.
"Saya, saya tidak berani menjawabnya Tuan. Bahkan saya tidak berani merasa bahagia atas ungkapan itu. Saya merasa tidak pantas menerima perasaan itu Tuan, " Jawab Lala sembari menundukkan kepala. Hatinya benar benar di buat kacau tidak karuan mendengar semua pernyataan itu, apalagi jika dia ingat ada perempuan lain yang lebih tinggi derajatnya di banding dirinya yang tengah mengejar cinta sang majikan.
Ketika Lala kembali terdiam sambil menundukkan kepala, jemari Gavin perlahan mendekat ke arah wajah Lala, lalu mengangkat dagunya.
"Aku tidak tanya pantas atau tidak pantas, aku juga tidak tanya bagaimana dengan mereka. Karena yang ingin aku tanyakan kepadamu, adalah tentang perasaanmu kepadaku," Cakap Gavin dengan tatapan lembut yang membuat Lala semakin tidak berdaya. Tentu saja dari lubuk hati Lala yang terdalam, dia juga menyukai Gavin. Meski pada awalnya Gavin menunjukkan rasa tidak sukanya, tetapi perhatian serta perubahan sikap yang di tunjukkan oleh majikannya itu cukup meyakinkan Lala bahwa perasaan itu benar benar nyata.
"Siapa wanita yang tidak bahagia mendengar ungkapan perasaan itu Tuan? Anda terlalu sempurna bagi seorang perempuan yang penuh kekurangan seperti saya, itulah sebab saya tidak punya keberanian untuk mengakui perasaan ini Tuan," Jawab Lala dengan pelan. Dagunya masih senantiasa dalam naungan tangan Gavin, sehingga tatapan mata keduanya begitu sejajar.
"Sudah ku bilang, aku hanya ingin tau perasaanmu. Jika ternyata kamu juga merasakan apa yang aku rasakan, apa salahnya kita satukan agar kita semakin kuat?" Tukas Gavin selanjutnya.
__ADS_1
Lala kembali terdiam mendengar pertanyaan itu. Menyatu dengan seorang lelaki sempurna yang berstatus perjaka dengan kasta yang berbeda tentu bagaikan sebuah hayalan belaka bagi Lala. Akan tetapi, semua hal itu nyata di depan mata dan jelas di tangkap oleh telinganya.
"Hilangkan semua keraguan di hati kamu. Kamu tidak bisa menyangkal jika Tuhan mengirimmu sebagai jodohku. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kamu tahu kan siapa Oma dan Bunda sebelum menikah dengan Opa dan Ayahku? Mereka sama seperti kamu, tetapi pada akhirnya mereka menjadi ratu di keluargaku," Ujar Gavin untuk menghilangkan keraguan di hati Lala.
"Tetapi mereka bukan janda," Jawab Lala kemudian.
"Aku tidak peduli dengan hal itu. Semua hanya masalah waktu, dan lambat laun mereka pasti bisa menerima hubungan kita," Sahut Gavin dengan begitu yakin.
Percakapan hangat antara keduanya sempat terjeda ketika pintu ruangan kembali terbuka karena ada seseorang yang masuk ke dalamnya.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya, saya mau mengantarkan menu sarapan pagi ini. Selamat menikmati," Cakap seorang perempuan berseragam hijau sambil membawa sebuah nampan berisi menu sarapan untuk Lala, lalu meletakkan nampan tersebut di meja yang tak jauh dari tempat Lala berbaring.
"Iya, terima kasih," Jawab Lala dengan senyum ramah.
Beberapa detik kemudian, perempuan yang bertugas mengantar makanan tersebut keluar dari ruangan Lala. Sehingga percakapan yang sempat terjeda tadi, kini kembali di lanjutkan.
"Lala, aku harap kamu tidak melawan perasaanmu sendiri. Karena hal itu akan membuat kamu sakit," Ujar Gavin memulai kembali percakapannya.
"Tuan, apa yang membuat Tuan menyukai saya? Sementara di sekeliling Tuan pasti ada banyak perempuan yang mengejar cinta Tuan. Dan perempuan perempuan itu pasti lebih segalanya di banding dengan saya, mereka juga masih perawan," Tanya Lala kepada Gavin. Sebelum dia benar benar mengambil keputusan, dia ingin tahu alasan Gavin yang sesungguhnya.
"Bagiku kamu itu berbeda. Entahlah, aku rasa semua ini tidak lepas dari campur tangan takdir. Kamu pasti masih ingat kan, saat pertama kali Bunda mengajak kamu pulang, aku sangat tidak menyukai kehadiran kamu. Bahkan aku selalu mencari cara untuk membuatmu pergi dari rumahku, tetapi yang ada hatiku justru terjerat kepadamu. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya dengan kata kata, intinya perasaanku kepadamu berbanding terbalik begitu saja dalam sekejap. Dan satu hal lagi aku katakan, aku ingin mencari pendamping seperti Oma dan Bundaku, dan itu ada pada dirimu," Ungkap Gavin dengan panjang lebar menyampaikan isi hatinya.
"Santi juga menaruh perasaan kepada Tuan, bahkan lebih dulu dari pada saya. Dia juga masih perawan Tuan," Sahut Lala. Mendadak dia membawa nama Santi dalam percakapan mereka karena dia ingat bahwa rekan kerjanya itu begitu mengagumi majikannya.
"Tidak, dia tidak seperti kamu. Hatiku sama sekali tidak tertarik kepadanya, meski dia sudah lebih dulu ku temui,"
__ADS_1