Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Apa Salahnya?


__ADS_3

Hari itu Gavin memulai rutinitas seperti biasa, bangun pagi lalu bersiap untuk pergi ke kantor. Ketika dia hendak sarapan, dia melihat ada menu yang membuat dia mendadak teringat kepada Lala.


"Rendang?" gumam Gavin dalam hati. Tetapi kali itu rendang yang tersaji di meja adalah rendang masakan Bi Sari.


"Ayo makan sayang, " ajak Vina, lalu Gavin pun mengangguk dan segera menduduki kursi yang biasa dia tempati.


"Rasanya beda!" celetuk Gavin secara tiba tiba ketika dia mulai mencicipi rendang tersebut.


"Beda? Beda sama apa Gavin?" tanya Vina menanggapi ucapan putranya.


"Beda sama rendang buatan Lala," jawab Gavin apa adanya. Sontak, Garda dan Vina hampir tersedak mendengar jawaban itu. Kemudian Vina pun kembali bertanya.


"Rendang buatan Lala? Memangnya dia pernah memasak untuk kamu?" tanya Vina penasaran, lalu Gavin mengangguk untuk menjawabnya.


"Apa tidak ada pembahasan lain selain dia?" sela Garda di tengah tengah perbincangan antara Vina dan putranya. Sampai saat itu Garda memang belum bisa menerima kehadiran Lala, lebih lebih ketika dia tahu tentang status Lala dan putranya malah menyukainya.


"Ayah ini kenapa sih? Kok jadi gampang marah?" timpal Gavin dengan begitu santai sambil mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Sudahlah, pagi pagi ayah tidak mau debat. Jika kalian masih membicarakan dia, lebih baik ayah sarapan di luar saja!" seru Garda. Mendengar kalimat yang bernada tidak sedap tersebut, Vina berusaha menenangkan.


"Sudahlah Ayah, nggak perlu di buat masalah. Ayo kita makan sama sama." rayu Vina kepada suaminya, tak lupa juga dia sempat mengedipkan mata kepada Gavin agar tidak meneruskan percakapannya. Tetapi yang ada, Gavin malah berulah.


"Ayah nggak perlu sarapan di luar, karena lebih baik aku saja yang pergi untuk sarapan di luar!" jawab Gavin seraya berdiri dan hendak melangkah meninggalkan meja makan.


Jika sudah berada dalam posisi seperti itu, Vina pasti di buat sakit kepala oleh tingkah laku anak serta suaminya.


"Aduh, sudah dong! Kalian ini apa nggak bisa kalau tidak bertengkar? Kamu duduk Gavin, ayah juga. Kalau ada salah satu di antara kalian yang pergi, Bunda juga ikut pergi!" ancam Vina kepada dua lelaki keras kepala yang duduk di sampingnya dan juga di hadapannya.


"Pergi kemana aja, siapa tahu ketemu sama lelaki lemah lembut yang nggak suka marah marah terus kerjaannya!" cakap Vina dengan enteng, tapi berhasil membuat suaminya terpancing.


"Bunda jangan mulai macam macam ya!" seru Gavin.


Perdebatan pagi itu antara Gavin dan ayahnya, berakhir dengan perdebatan antara Vina dan suaminya sebagai pengalihan. Sementara Gavin memilih untuk segera pergi ketika kedua orang tuanya tengah berdebat.


Waktu terus berlalu, dan hari sabtu kembali menghampiri. Satu minggu sudah Lala tinggal di rumah Dara. Dan pada hari itu, Gavin berniat mengunjunginya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana Gavin?" tanya Vina ketika dia lihat putranya tengah berkemas.


"Ke rumah Oma," jawab Gavin dengan singkat. Tentu jawaban itu membuat Bundanya khawatir.


"Gavin, lebih baik kamu jangan kesana dari pada memicu masalah. Masalah dengan Ayah ataupun Opa kamu gara gara kamu ketemu sama Lala," tegur Vina kepada Gavin.


"Aku nggak peduli Bun, toh apa salahnya aku main ke rumah Oma ku sendiri? Aku kan cucunya!" sahut Gavin tanpa menghentikan kegiatan berkemasnya.


"Memang nggak salah, tapi aneh. Biasanya belum tentu lima bulan sekali kamu mau di ajak ke rumah Oma kamu. Lah ini kamu baru seminggu udah mau ke sana lagi. Apa lagi alasannya jika bukan karena Lala?" terka Vina berusaha membaca isi kepala putranya.


"Kalau iya emangnya kenapa Bun?" tanggap Gavin dengan begitu santai, hingga akhirnya dia mendapat jawaban dari ayahnya yang baru saja datang.


"Kalau iya juga nggak apa apa. Pergilah, nanti kami akan menyusul!"


Glek!


Seketika Gavin kesusahan menelan saliva mendengar ucapan ayahnya yang tiba tiba menyela. Tidak bisa dia bayangkan keribetan apalagi yang akan terjadi jika mereka semua berkumpul.

__ADS_1


__ADS_2