Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Bertanya


__ADS_3

"Oma sudah tua, jika kelak Oma tidak bisa melihat kamu duduk di pelaminan...." kalimat Dara di hentikan oleh suami dan juga putranya.


"Oma ini bicara apa? Udah, Oma istirahat aja. Jangan berpikiran yang tidak tidak!" tegur Gaston kepada istrinya.


"Iya Mom. Mommy nggak boleh bicara seperti itu!" sahut Garda.


"Tidak apa apa, bukankah semua orang pasti akan mati?" ujar Dara selanjutnya.


"Iya, tapi matinya masih lama. Mommy itu masih panjang umur," jawab Garda.


"Iya Oma, kenapa sih ngomongin mati? Oma nggak kepingin lihat aku nanti duduk di pelaminan?" Kali ini Gavin ikut menjawab.


"Kapan? Tentu Oma ingin melihatnya, setelah itu Oma akan menimang cicit." sahut Dara dengan mengulas senyum di bibirnya membayangkan dirinya tengah menggendong cicitnya.


"Tunggu aja Oma, yang penting Oma sehat dulu. Jangan sakit sakit lagi," cakap Gavin seraya menggenggam tangan Omanya.


Setelah Dara beristirahat, semua keluar dari kamar tersebut. Dan ketika Gavin hendak melangkah ke kamarnya, mendadak Garda memanggilnya.


"Gavin, Ayah mau bicara. Duduklah!" titah Garda kepada putranya.


Tanpa menjawab, Gavin lekas duduk di sofa yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Ayah ingin tanya sekali lagi. Apa benar kamu mau menikahi janda?" tanya Garda dengan terus terang dan tanpa basa basi. Pertanyaan itu tentu membuat Vina mendadak menjadi tegang, meskipun dia juga penasaran dengan jawaban putranya.


"Memangnya Ayah mau merestui?" Gavin justru balik bertanya.

__ADS_1


"Jadi, semua itu benar?" tanya Garda sekali lagi sambil menggelengkan kepala.


"Bisa di benarkan, juga bisa salahkan. Terserah Ayah mau menilai bagaimana?" jawab Gavin. Dia seakan sengaja memancing amarah Sang Ayah.


"Tentu itu salah besar!" seru Garda lalu berdiri dan melangkah meninggalkan Gavin dan Vina yang masih duduk di sofa tersebut.


"Gavin," lirih Vina memanggil putranya sambil membuka lebar kedua kelopak matanya, pertanda memberi peringatan.


"Apa sih Bun?" sahut Gavin dengan santai.


"Kenapa kamu memberi jawaban seperti itu?" tanya Vina. Dia kesal dengan kelakuan putranya yang sulit di akurkan dengan sang Ayah.


"Memangnya salah ya Bun? Kan memang begitu kenyataannya. Menurutku benar benar saja, tapi kalau menurut Ayah salah, ya mau gimana lagi?" Gavin kembali memberi jawaban yang membuat Vina menggelengkan kepala.


"Tapi nggak harus terus terang begitu. Harusnya kamu itu malah ngambil hati Ayah kamu biar bersedia mendengarkan permintaan kamu. Bukan malah membuatnya kesal," tutur Vina menasehati putranya.


Malam itu, ketika acara sedang berlangsung. Gavin menghampiri Lala yang sedang menata bingkisan di belakang. Bahkan tanpa di minta, Gavin ikut membantu.


"Jangan Tuan, biar saya saja," ujar Lala ketika Gavin ikut membantunya. Tanpa sengaja, tangan Gavin dan Lala saling bersentuhan ketika mereka memegang satu bingkisan yang sama. Kejadian itu tentu membuat Santi merasa panas hatinya, karena dia menyaksikan langsung di sebelah Lala. Berbeda dengan Bi Sari dan Bi Nina yang saat itu justru tersenyum senyum melihat aksi Lala dan Gavin.


"Jangan jangan, besok Lala bakalan di nikahi sama Tuan Gavin. Seperti halnya Nyonya Dara dan juga Nyonya Vina," bisik Bi Sari kepada Bi Nina. Mereka berdua adalah asisten rumah tangga yang kerja di rumah Gavin sebelum Lala datang.


"Iya, mungkin saja seperti itu," sahut Bi Nina.


Rupanya percakapan mereka di dengar oleh Santi, sehingga dia lekas menyela.

__ADS_1


"Apa sih kalian ini? Kalian nggak dengar kalau Tuan Gaston dan Tuan Garda tidak merestui jika Tuan Gavin menikahi janda? Jadi mereka nggak mungkin menikah!" seru Santi dengan suara yang lirih.


"Janda? Memangnya Lala itu janda?" tanya Bi Sari kepada Santi.Dan Santi pun lekas mengiyakan pertanyaan Bi Sari tersebut.


"Masak sih? Tapi dia nggak kelihatan ya kalau sudah janda karena penampilannya masih terlihat muda, ramping dan cantik," sahut Bi Nina yang seketika itu membuat Santi semakin panas hatinya karena mendengar pujian untuk Lala.


"Perasaan biasa aja! Dia itu lebih tua lima tahun dari aku dan juga Tuan Gavin!" seru Santi dengan bibir mencebik.


Bi Nina dan Bi Sari saling menahan tawa mendengar ucapan Santi. Mereka bisa menebak jika Santi iri kepada Lala.


"Sepertinya Santi juga menyukai Tuan Gavin," bisik Bi Nina kepada Bi Sari dengan pelan agar tidak di dengar oleh Santi.


"Iya, lagian lebih cantik Lala dari pada dia, meski Lala umurnya lebih tua dan sudah menjadi janda," sahut Bi Sari membenarkan ucapan rekan kerjanya.


Setelah selesai mengemas bingkisan, mereka semua menyiapkan makanan yang akan di santap oleh para tamu undangan. Dan lagi lagi Gavin ikut membantu. Tentu saja hal itu menarik perhatian semua anggota keluarga. Gaston, Dara, Garda dan Vina merasa heran karena melihat untuk pertama kalinya Gavin berada di dapur dan membantu para asistennya.


"Anak kamu itu ngapain di sana?" tanya Gaston kepada Garda. Namun sayang, pertanyaan itu mendapat teguran dari istrinya.


"Emangnya anaknya Garda itu cucunya siapa? Kenapa nyebutnya bukan cucu saja?" sahut Dara, dan seketika membuat Garda dan Vina menahan tawa. Sementara Gaston hanya bisa garuk kepala mendengar teguran dari istrinya.


"Tapi memang tidak seperti biasa. Kenapa Gavin mendadak menjadi rajin begitu?" ujar Dara selanjutnya. Dan kini ganti Gaston yang balik menegur wanita yang sudah berambut putih tersebut. "Lah, itu cucunya siapa?"


Sontak Garda dan Vina tidak bisa menahan tawa melihat kelakuan kaki nini yang tengah berdebat tentang cucunya tersebut. Bahkan Gaston mendapat cubitan di pinggangnya dengan keras dari sang istri. Meski mereka semua sedang merasa heran, tetapi mereka belum ada kesempatan untuk bertanya langsung kepada Gavin karena setelah itu para tamu undangan akan segera berpamitan, sehingga mereka harus menunda rasa penasaran mereka. Untuk sementara waktu mereka hanya menerka nerka tentang Gavin. Tetapi besok pagi, mereka pasti akan menginterogasi pria yang sedang jatuh cinta tersebut.


Tiga puluh menit kemudian, para tamu undangan sudah pulang. Pada saat itu, Garda sudah tidak sabar lagi jika harus menunggu esok hari untuk segera bertanya kepada putranya. Sehingga, ketika dia melihat Gavin tengah membantu membereskan ruangan, Garda mendekat lalu bertanya.

__ADS_1


"Gavin, mengapa malam ini mendadak kamu menjadi rajin membantu para asisten rumah tangga? Apa ada sesuatu?"


__ADS_2