
"Syukurlah dia sudah siuman dan sebentar lagi bisa di pindah ke ruang perawatan," jawab sang Dokter.
Wajah Gavin seketika berbinar mendengar jawaban itu, kemudian dia lekas mendekat ke arah pintu IGD untuk segera menemui Lala.
"Boleh saya menemuinya Dok?" tanya Gavin, kemudian Dokter itu memperbolehkan. Tanpa menunggu lama, Gavin lekas mendekat ke arah Lala, dan janda itu menyapanya dengan senyum tipis.
"Hei, gimana keadaan kamu? Apa sudah membaik?" tanya Gavin, kemudian Lala mengangguk untuk memberi jawaban karena mulutnya masih terasa kaku untuk banyak.bicara akibat beberapa jahitan yang ada di wajahnya.
"Habis ini kamu akan di pindah ke ruang perawatan. Kamu harus banyak beristirahat agar cepat pulih," ujar Gavin selanjutnya. Ketika mereka sedang bercakap cakap, Dara mendekat dan ikut menyela ucapan mereka.
"Terima kasih Lala, jika kamu tidak menyelamatkan saya, mungkin saat ini saya yang sedang terbaring di sini," ungkap Dara menyampaikan rasa terima kasihnya. Dan lagi lagi Lala hanya menjawab dengan anggukan kecil serta senyuman.
Tak berselang lama kemudian, Lala di pindahkan ke ruang perawatan. Tak tanggung tanggung, Gavin mengambil ruang perawatan VVIP terbaik di Rumah Sakit itu dan sempat membuat Ayah serta Kakeknya tercengang.
"Kamu yakin akan mengambil ruangan ini untuk dia?" tanya Garda kepada putranya.
"Iya Gavin, ini sedikit berlebihan," sahut Gaston membenarkan ucapan Garda.
"Lalu, ruangan seperti apa yang wajar menurut kalian?" tanya Gavin balik.
"Ya, kan bisa di rawat di ruangan biasa lainnya? Asal fasilitas dan pelayanan memadai," jawab Garda sembari mengangkat kedua pundaknya.
__ADS_1
"Apa Oma juga wajar jika di rawat di ruangan seperti itu?" Gavin kembali membalikkan pertanyaan kepada Ayahnya.
"Loh, ini kenapa kamu bandingkan dia dengan Oma? Ya jelas itu bukan suatu perbandingan yang setara!" seru Gaston menyela ucapan cucunya.
"Tentu saja aku bandingkan dengan Oma, karena apa yang di alami oleh Lala ini ada kaitannya dengan Oma. Oma sendiri bilang, jika tidak di selamatkan oleh Lala, mungkin Oma yang saat ini terbaring lemah di Rumah Sakit ini." Cakap Gavin mengutarakan isi kepalanya.
Garda dan Gaston menggelengkan kepala secara bersamaan mendengar jawaban itu. Bagi keduanya, cara berpikir Gavin mengalami banyak perubahan setelah dekat dengan Lala.
"Sudah sudah, kalian ini apa tidak bisa jika tidak selalu berdebat? Sekarang cepat tentukan kamar perawatan karena Lala sebentar lagi akan di pindah," sahut Dara di antara perdebatan antara anak, suami dan juga cucunya itu.
"Terserah kamu saja mau kamu taruh di ruangan kapal terbang kek, di ruangan kapal laut kek. Ayah nggak peduli. Sekarang Ayah mau pulang!" celetuk Garda sembari mengangkat kedua pundaknya, lalu berbalik badan dan mulai melangkah ke arah keluar. Tak berselang lama dari kepergian Garda, Gaston pun juga ikut menyusul.
"Opa juga pulang dulu, nanti Oma pulang bareng sama Gavin!" tegas Gaston berpamitan kepada Dara, tetapi Dara hanya bisa mendengus kesal melihat kelakuan anak serta suaminya tersebut.
"Iya Oma, jika Oma ingin pulang juga tidak apa apa. Biar Gavin aja yang menemani Lala di sini. Bunda juga, lebih baik Bunda pulang saja bareng sama Ayah," cakap Gavin kepada Bunda serta Omanya.
"Apa kamu yakin akan di sini sendirian?" tanya Dara.
"Yakin Oma, lebih baik Oma pulang dan beristirahat," tukas Gavin meyakinkan Dara.
"Baiklah, kalau begitu kejar suamimu sebelum mereka jauh Vina. Kita pulang bareng mereka saja!" seru Dara kepada menantunya, kemudian Vina lekas melaksanakan perintah mertuanya.Malam itu, Gavin sendiri yang menjaga Lala di ruang perawatan.
__ADS_1
Kedua mata Lala terpejam ketika Gavin masuk ke dalam ruang perawatan. Pria tersebut lalu duduk di sebelah Lala sambil memandangi wajahnya. Dan setelah tiga puluh menit kemudian, kedua mata Lala terbuka dengan di sambut oleh senyuman Gavin.
"Kamu udah bangun?" sapa Gavin dengan lembut.
"Sudah Tuan," jawab Lala dengan suara serak. Dia memperhatikan ruangan tempat dia berbaring. Satu ruangan yang luas, rapi dan hampir menyerupai kamar pribadi. Lala sempat berpikir biaya yang akan di keluarkan untuk membayar ruangan itu, tetapi ketika dia sedang melamun, Gavin lekas membuyarkan lamunannya.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Gavin.
"Maaf Tuan, saya berpikir bagaimana caranya saya bisa membayar biaya Rumah Sakit ini," jawab Lala dengan wajah yang lesu.
"Astaga, buat apa kamu berpikir tentang itu? Itu bukan tugas kamu. Tugas kamu hanya istirahat lalu sembuh. Udah itu aja!" seru Gavin kepada Lala.
"Tetapi Tuan, ruangan ini terlalu besar dan bagus. Lebih baik saya di pindah ke ruangan biasa saja," cakap Lala menyampaikan isi kepalanya.
"Tidak! Kamu itu pantas mendapatkan pelayanan ini. Jadi, lebih baik kamu diam dan istirahat lagi biar cepat sembuh. Mengerti?" tegas Gavin kepada Lala agar tidak terus memikirkan tentang biaya pengobatan.
"Terima kasih Tuan, saya tidak bisa mengungkapkan besarnya rasa terima kasih saya kepada Tuan," sahut Lala.
Di saat keduanya sedang bercakap cakap, terdengar ada seseorang yang membuka pintu lalu masuk ke ruangan tersebut.
"Gavin, aku cari kamu di rumah kamu nggak ada, katanya kamu ke rumah Oma kamu. Terus aku datang ke rumah Oma kamu juga nggak ada, eh taunya kamu di sini nungguin pembantu kamu. Aku kangen tau sama kamu, jauh jauh aku datang buat ketemu kamu. Sekarang kita pulang yuk," cakap seorang perempuan muda berpenampilan menarik dan berwajah cantik kepada Gavin sembari mendekat lalu memeluknya.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Lala dalam hati.