Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Tersinggung


__ADS_3

"Bunda ini gimana sih? Ada putranya datang kok nggak di suruh duduk dulu malah di tanyain macam macam?" sela Garda ketika melihat istrinya memberi pertanyaan macam macam kepada Gavin yang baru saja datang.


"Iya Bunda ini, kebiasaan! Aku haus Bun, pengen minum," ujar Gavin seraya menyelonong masuk ke arah dapur. Sebenarnya dia hanya beralasan saja, karena dia ingin bertemu dengan Lala. Tetapi, setelah matanya menelusuri setiap sudut ruangan dapur, dia tidak menemukan Lala.


"Mungkin dia sudah tidur," ucap Gavin dalam hati. Setelah dia mengambil satu minuman dari dalam lemari es, dia hendak kembali ke ruang tamu. Tetapi mendadak dia mendengar ada yang memanggilnya.


"Tuan Gavin,"


Gavin lantas menoleh ketika dia mengenali suara yang tengah memanggilnya.


"Itu suara Lala," gumam Gavin dalam hati, kemudian dia lekas berbalik badan untuk melihatnya. Dan ternyata benar, Lala yang sedang memanggilnya.


"Hei, kamu belum tidur?" tanya Gavin sembari berjalan mendekat ke arah Lala.


"Belum Tuan, ini tadi baru selesai membuat kue kering untuk acara besok," jawab Lala. Dia memang sengaja di jemput oleh Vina karena di minta untuk membantu membuat kue untuk acara keluarga besok di rumah mertua Vina. Omah Dara telah sembuh dari sakitnya dan dia berniat syukuran setelah dia sembuh, dia ingin mengundang anak anak yatim untuk di santuni dan di beri makan serta kue gratis.


"Oh gitu, kalau masih sakit jangan di paksain. Aku tadi khawatir waktu Bunda ngajak kamu pergi nggak bilang bilang, aku khawatir kamu ketemu dengan mantan suami kamu, lalu dia kembali berulah," ujar Gavin kemudian.


Seketika hati Lala merasa berbunga bunga karena majikannya begitu mengkhawatirkan dirinya. Bahkan Lala berpikir, mungkin Gavin sengaja menyusulnya karena ingin bertemu dengan dirinya. Hati Lala semakin melambung tinggi, tetapi sebisa mungkin dia menutupi perasaan bahagianya di hadapan Gavin.

__ADS_1


"Terima kasih Tuan, anda sudah khawatir akan keadaan saya. Tetapi, saya baik baik saja. Saya juga tidak bertemu dengan mantan suami saya," jawab Lala sembari menundukkan kepala.


"Syukurlah, kalau begitu lebih baik kamu cepat istirahat. Jangan sampai kecapekan," saran Gavin kepada Lala.


"Baik Tuan, apa Tuan tidak mau saya buat susu atau teh hangat dulu?" tanya Lala menawarkan minuman kepada majikannya.


"Boleh, jika kamu tidak keberatan, saya mau secangkir teh," sahut Gavin sembari tersenyum.


"Tentu tidak Tuan," jawab Lala. Kemudian dia lekas mengambil satu cangkir dan menyalakan kompor. Selama membuat teh, Gavin senantiasa menunggu di samping Lala sambil mengajaknya bicara. Dan rupanya, pembicaraan mereka sempat di tangkap oleh telinga Santi, karena diam diam dia sengaja menguping untuk mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kenapa mereka terlihat begitu dekat? Apa mereka ada hubungan spesial? Tetapi, mengapa perempuan itu bicara tentang mantan suami? Apa dia janda? Tidak, Tuan Gavin tidak boleh jatuh ke tangan janda. Apalagi seorang pembantu. Kan lebih baik sama aku, meski sama sama pembantu , tetapi aku kan masih perawan?" ujar Santi yang tengah berdiri di balik dinding.


"Eh Mbak, aku lihat kamu dekat banget sama Tuan Gavin, kalian ada hubungan khusus ya?" tanya Santi tanpa basa basi. Tentu saja Lala terkejut mendengar pertanyaan itu, karena dia tidak mengira jika Santi memperhatikan dirinya dan Gavin ketika bercakap cakap.


"Hubungan khusus? Maksudnya apa ya Mbak? Tuan Gavin majikan saya dan saya ini pembantunya, udah begitu saja," jawab Lala apa adanya. Karena meski dia sempat merasa jika majikannya itu memperhatikannya secara spesial, tetapi sejauh itu mereka tidak terikat dengan hubungan apa apa.


"Nggak usah berlaga bodoh? Aku tadi nggak sengaja dengar percakapan kalian. Tuan Gavin terlihat begitu mengkhawatirkan kamu, dan dia bilang dia takut jika kamu ketemu dengan mantan suami kamu. Memangnya kamu ini udah janda ya?" lagi lagi tanpa basi basi Santi menunjukkan rasa penasarannya. Dan hal itu seketika membuat Lala tidak nyaman. Dari cara bicara Santi, Lala bisa menyimpulkan jika Santi sepertinya kurang suka dengan Lala. Bahkan Lala berpikir jika Santi suka pada majikannya.


"Iya Mbak, saya memang janda," jawab Lala dengan berat hati. Bukan karena dia malu mengakui statusnya, tetapi dia tidak suka dengan cara bertanya Santi yang terkesan mengintrogasi dirinya.

__ADS_1


"Jadi benar kamu janda? Bagus deh, karena Tuan Gavin tidak mungkin menyukai janda. Meski Nyonya Dara dan juga Nyonya Vina dulunya sama sama seorang pembantu, lalu di nikahi sendiri oleh majikannya, tetapi setidaknya mereka semua perawan, bukan janda. Jadi sebaiknya Mbak jangan berharap lebih dengan hubungan dekat Mbak sama Tuan Gavin, karena kalian itu nggak cocok!" tegur Santi tanpa sopan santun.


Degh, mendadak Lala di buat terkejut dengan ucapan Santi. Dia terkejut bukan karena di larang berharap pada Gavin, tetapi terkejut ketika mengetahui jika Dara dan Vina dulu adalah seorang pembantu. Sementara suami mereka adalah majikannya sendiri. Sempat dia berpikir jika kisahnya dengan Gavin akan berakhir seperti itu, meski hal itu sedikit mustahil mengingat statusnya yang sudah menjanda.


"Apa? Nyonya Dara dan Nyonya Vina dulu juga seorang pembantu?" tanya Lala dengan heran.


"Iya, dan Tuan Gaston serta Tuan Garda itu majikannya? Kamu baru tahu? Emang baru kerja berapa lama kamu di sana?" Santi balik bertanya.


"Masih baru Mbak, sekitar satu minggu," jawab Lala.


"Apa? Baru satu minggu tapi udah bisa dekat sama Tuan Gavin? Aku aja yang udah kerja di sini selama empat tahun sulit untuk dekat dengan Tuan Gavin, jangan jangan kamu pakai pelet ya?" Sontak pertanyaan Santi membuat Lala begitu tersinggung.


"Maaf Mbak, saya rasa pertanyaan Mbak itu berlebihan. Saya tidak memakai pelet seperti yang Mbak tuduhkan!" jawab Lala dengan nada ketus.


"Dih, marah? Kalau nggak pakai ya biasa kali, nggak usah ngegas!" seru Santi tak kalah ketus dari nada bicara Lala. Percakapan keduanya kemudian berhenti, mereka lantas tidur di tempat masing masing . Meski berada di dalam satu kamar, tetapi mereka tidur di kasur yang berbeda. Malam itu Lala merasa tidak tenang dan tidak nyaman berada di kamar tersebut, dia ingin segera kembali ke mansion Gavin secepatnya.


Malam telah berlalu dan pagi tengah menyapa. Kedua asisten rumah tangga itu sudah bangun lebih awal, kemudian mereka mengerjakan tugas masing masing. Meski semalam mereka sempat berdebat, tetapi soal pekerjaan mereka profesional. Lala membantu Santi memasak untuk menu sarapan di keluarga besar tersebut, sementara asisten yang lain tengah sibuk membersihkan seluruh ruangan di mansion milik Opah Gaston tersebut.


Ketika menu makanan sudah tersaji di meja, semua keluarga berkumpul di ruang makan. Gaston, Dara, Garda, Vina dan juga Gavin telah duduk di kursi masing masing. Dan ketika suasana masih tampak hening, mendadak Dara memulai pembicaraan yang menarik perhatian.

__ADS_1


"Gavin, kapan kamu akan mencari pendamping?" tanya Dara kepada cucunya.


__ADS_2