Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Aku akan pergi


__ADS_3

Pagi itu Gavin di buat kebingungan mencari keberadaan Lala. Tetapi dia enggan bertanya kepada Garda dan Vina yang tengah duduk manis di ruang makan. Dan dia lebih memilih untuk bertanya kepada Santi, teman satu kamar Lala.


"Apa kamu melihat Lala?" tanya Gavin dengan nada datar tanpa memandang wajah Santi. Santi yang saat itu tidak mengetahui kehadiran Gavin di belakangnya, mendadak di buat terkejut ketika majikannya bertanya.


"Emm, dia sudah pergi Tuan," jawab Santi tanpa basa basi. Dan tentu saja jawaban itu membuat Gavin membulatkan kedua bola matanya.


"Apa kamu bilang? Dia sudah pergi? Pergi kemana?" tanya Gavin dengan tatapan yang tajam. Selama ini Santi selalu mencari cara agar majikannya itu memperhatikan dirinya, tetapi tatapan yang dia dapatkan saat itu bukanlah tatapan manis, melainkan tatapan tajam yang siap menerkam. Santi kebingungan untuk menjawab, karena dia sudah di wanti wanti oleh Garda untuk tidak memberitahu kepada siapa siapa. Dan rupanya, menghilangnya Lala bukanlah hal yang kebetulan, melainkan sudah di rencanakan oleh Garda.


"Apa kamu tuli? Katakan kemana perginya Lala?" bentak Gavin hingga membuat Santi ketakutan. Dan dengan cepat Santi menggelengkan kepala sambil berkata.


"Tidak tahu Tuan, saya tidak tahu,"


"Tidak mungkin! Kamu pasti berbohong! Siapa yang menyuruhmu tutup mulut?" tanya Gavin tanpa ragu. Dia sudah mengira jika Ayahnya ada di balik kejadian pagi itu. Dan di tengah tengah amarah Gavin, terdengar ada satu suara yang menyela.


"Ada apa Gavin?"


Gavin menoleh ke asal suara yang ternyata adalah Oma nya. Dara keluar dari kamar ketika mendengar cucunya bersuara dengan begitu keras. "Lala pergi Oma, siapa yang sudah mengusir dia?" sahut Gavin dengan raut wajah yang geram.


"Pergi? Pergi kemana?" Dara bertanya balik.


"Gavin juga tidak tahu, pasti Ayah yang sudah melakukannya!" terka Gavin sambil melangkah lebar dan hendak menghampiri Ayahnya. Dara tidak kuasa lagi menahan cucunya yang tengah di bakar amarah tersebut, sehingga dirinya dan juga suaminya hanya menjadi penonton pasif dalam pertikaian yang akan terjadi antara Gavin dan Garda. Ketika Gavin tiba di hadapan Garda, tanpa bertele tele dia lekas menyampaikan pertanyaannya.


"Kenapa Ayah mengusir dia?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan putranya, Garda menarik nafas panjang lalu melepaskannya dengan kasar. Dia mencoba menenangkan diri lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Gavin.


Karena merasa Garda tengah mengabaikan pertanyaannya, Gavin kembali mengulang pertanyaannya.


"Katakan, kenapa Ayah mengusir dia?" tanya Gavin sekali lagi. Dan Garda pun lekas menjawab.


"Begitu pentingkah dia bagimu?" Garda justru bertanya balik dengan nada yang sama sama tinggi, sehingga Gavin lekas menjawab.


"Iya, dia adalah tanggung jawab ku!"


Jawaban Gavin seketika membuat semua penghuni Mansion itu mematung. Garda, Vina, Dara, Gaston serta para asisten yang tengah berada di ruang itu dibuat tercengang dengan ucapan Gavin.


"Apa maksud kamu Gavin? Apa kamu sudah menghamilinya? Dasar anak tidak tau aturan!" bentak Gaston kepada cucunya. Dia sudah tidak tahan lagi jika hanya menjadi penonton pasif, sehingga dia berniat untuk memberi pelajaran kepada Gavin dengan menamparnya. Namun, belum sempat tangan Gaston menyentuh wajah cucunya, teriakan Dara sudah lebih dulu menghentikannya.


Kali itu Gaston sudah termakan emosi, dia tidak peduli lagi pada keadaan istrinya yang kesehatannya mudah sekali mengalami drop. "Masalah seperti ini sudah tidak bisa di bicarakan dengan baik baik. Dia perlu mendapat peringatan lebih keras karena sudah melampaui batas!" jawab Gaston sembari kembali mengangkat tangannya untuk meneruskan niatnya yang tertunda. Akan tetapi, dengan tangkas Gavin menepis tangan Opanya.


Saat itu Vina hanya bisa termakan oleh rasa kecemasan yang begitu besar, dia tidak berani membela Gavin, karena untuk pertama kalinya dia melihat kemarahan ayah mertuanya. Berbeda dengan Garda, dia justru bersikap begitu santai karena seolah semua kekesalan dan amarahnya sudah di wakili oleh ayahnya.


"Aku tidak pernah menyentuhnya!" seru Gavin sembari memegang tangan Opa nya.


Lagi lagi Gavin membuat seluruh keluarganya merasa heran. Baru saja dia berkata jika harus bertanggung jawab pada Lala, tetapi kemudian dia katakan jika dia tidak pernah menyentuhnya.


"Jangan banyak alasan! Katakan yang sejujurnya? Sekali lidah berbohong, pasti akan kembali menciptakan kebohongan lainnya. Opa tidak percaya lagi sama kamu!" maki Gaston kepada cucunya. Namun sayangnya, Gavin bukannya berusaha untuk mengambil hati Gaston, tetapi dia justru memberi jawaban yang membuat Opanya makin kesal.

__ADS_1


"Terserah Opa! Aku juga tidak menuntut Opa untuk percaya! Aku akan pergi, dan tidak akan kembali sebelum aku menemukan Lala!" jawab Gavin seraya melangkah dari tempatnya berdiri, lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengambil tas serta kunci mobil. Dalam keadaan seperti itu, Vina tidak bisa tinggal diam, karena dia begitu khawatir jika putranya berkendara dalam keadaan marah.


"Gavin, tunggu Gavin!" teriak Vina sambil mengejar putranya. Tetapi, Garda segera melarangnya. "Jangan kejar dia, biarkan dia pergi! Biar dia tahu sendiri bahwa pilihannya itu salah!" tegur Garda sembari menahan lengan istrinya.


"Tapi itu terlalu berbahaya," sangkal Vina dengan raut wajah yang panik.


"Biar dia rasakan. Dia perlu tahu jika dunia ini tak semanis cinta buta yang dia harapkan!" sahut Garda tanpa melepas lengan istrinya. Memang, perasaan laki laki dan perempuan itu jauh berbeda. Saat itu, yang di rasakan oleh Garda dan Gaston hanyalah amarah dan kecewa. Lain halnya dengan yang di rasakan oleh Vina dan Dara, meski dalam keadaan kecewa, mereka tetap tidak tega jika melihat Gavin dalam bahaya.


"Kejar putramu Garda! Dia anak kamu satu satunya! Apa kamu lupa bagaimana dulu usaha kamu untuk sembuh dari penyakit kamu? Setelah kamu sembuh dan bisa punya anak, beginikah tanggung jawab kamu?" titah Dara kepada putranya dengan penuh penekanan.


"Biarkan saja Garda, kamu tidak perlu mengejarnya. Cara seperti ini justru akan membuatnya berpikir lebih dewasa dan kritis. Kamu sudah cukup bertanggung jawab sebagai seorang Ayah!" sangkal Gaston. Dia tidak sependapat dengan istrinya, sehingga ucapan tersebut memicu keributan kecil antara dirinya dengan Dara.


Ketika kedua mertuanya tengah berdebat, Vina kembali merayu suaminya agar segera mengejar Gavin.


"Sudahlah Ayah, jangan terlalu keras. Ini menyangkut keselamatan putra kita," cakap Vina dengan lembut kepada Garda.


"Ini keputusan yang terbaik, Ayah harap Bunda tidak semakin memperkeruh keadaan!" sahut Garda dengan nada yang begitu serius.


Waktu terus berjalan hingga jarum jam kini sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Satu setengah jam sudah Gavin melakukan perjalanan, tetapi dia tak juga menemui sosok Lala.


"Kemana aku harus mencari dia?" tanya Gavin dalam hati ketika dia sejenak berhenti di tepian jalan. Lain dengan yang di khawatirkan oleh Vina, jika Gavin akan berkendara dengan kecepatan tinggi karena marah. Akan tetapi nyatanya, pria itu melajukan kendaraannya tidak melebihi angka 30km/ jam karena dia harus mengamati jalanan sekitar barang kali masih bisa menemukan jejak Lala. Bahkan dalam waktu satu setengah jam perjalanan, Gavin masih berada tak jauh dari rumah Oma nya.


Setelah sempat merasa lelah dengan pencariannya yang tidak ada petunjuk arah apapun, Gavin tiba tiba terpikirkan oleh sesuatu. "Jangan jangan Lala....." Sontak dia segera kembali menghidupkan mobilnya, kemudian dengan kecepatan kencang dia melaju ke suatu tempat guna membuktikan dugaannya.

__ADS_1


__ADS_2