
Gavin nampak begitu kesal karena kemauannya tidak di turuti oleh sang Bunda. Dia harus menunggu satu minggu lagi untuk kepulangan mereka.
"Ckckkk, sial! Dengan cara apa aku bisa mengusir perempuan itu tanpa Bunda? Atau mungkin, aku tuduh dia mencuri aja ya, biar Bunda marah lalu nyuruh aku mengusirnya?" tanya Gabin dalam hati. Akan tetapi, hati kecilnya tidak menyetujui hal rendah macam itu.
"Tidak tidak, aku tidak mau melakukan dosa hanya demi seorang pembantu!" cakap Gavin kemudian. Setelah lelah memikirkan cara untuk mengusir Lala, Gavin pun akhirnya pasrah menunggu hingga kedua orang tuanya kembali pulang.
Keesokkan hari, ketika Gavin hendak menyantap sarapan. Ponselnya berdering, dan setelah dia lihat, ternyata dia mendapat pesan dari kawan lamanya. Kawan yang sangat tidak di sukai oleh Bundanya karena selalu mengajak Gavin pada pergaulan liar. Awalnya, Gavin mengabaikan pesan tersebut, tetapi mendadak dia terpikir akan satu hal, yakni Lala.
"Oh ya, nih anak bisa ku jadikan senjata, untuk membuat perempuan itu pergi dari sini," gumam Gavin dalam hati sambil tersenyum sendiri. Dia pun lekas meraih kembali ponselnya, lalu membalas pesan tersebut. Dia ingin mengajak kawan lamanya itu datang ke rumah, sambil membawa beberapa orang teman lagi. Tentu saja di balik ajakan itu, Gavin mempunyai sebuah rencana.
Usai memikirkan rencananya dengan matang, Gavin segera meraih ponselnya lalu membalas pesan kawan lamanya yang bernama, Bagas. Setelah pesan terkirim, Gavin tersenyum senyum sendiri. Apalagi tanpa menunggu lama, pesan tersebut telah mendapat balasan.
"Ok Bro, siapin aja semuanya. Ntar malam aku dan anak anak akan datang ke rumahmu pukul delapan malam," balasan pesan dari Bagas, dan Gavin pun lekas menyetujuinya. Senyumnya semakin lebar dan wajahnya nampak begitu bersemangat. Dia tak sabar menunggu malam, ketika Bagas dan teman teman lainnya datang ke rumah.
Sikap Gavin yang terlihat berbeda itu ternyata sempat terlihat oleh Lala yang sedang membersihkan debu di sofa ruang tamu. Satu pemandangan langka selama dia bekerja di rumah majikannya, yakni melihat Gavin tersenyum bahagia.
"Tuh orang kenapa ya? Apa lagi kesambet, kok senyum senyum sendiri? Dih, ngeri! Bisa marah nggak jelas, tapi juga bisa senyum nggak jelas!" gumam Lala dalam hati sambil terus bekerja. Meski sempat memperhatikan Gavin, tetapi Lala tidak berani lama lama menatapnya karena dia takut jika hal itu akan memicu masalah.
__ADS_1
Ketika Lala hendak pindah membersihkan ruangan lainnya, dia berpapasan dengan majikannya yang hendak berangkat kerja. Janda itu hanya menundukkan kepala, dia tidak berani mendongak, apalagi bertanya. Sehingga dia hanya seperti patung ketika majikannya lewat di hadapannya. Akan tetapi, satu pemandangan langka kembali terlihat pagi itu, ketika Lala mendengar majikannya bertanya dengan ramah kepadanya.
"Jangan capek capek kalau kerja, kalau masih merasa tidak enak badan, istirahat saja!" ujar Gavin kepada Lala. Meski kata kata itu terdengar jelas di telinga Lala, tetapi dia takut jika majikannya tidak sedang bicara kepadanya. Apalagi nada bicaranya begitu bersahabat.
"Sudah, diam aja Lala. Belum tentu dia bicara sama kamu!" ujar Lala menasehati dirinya sendiri dalam hati.
Karena tidak mendapat tanggapan dari lawan bicaranya, Gavin mengulang kembali kalimatnya. Kali ini justru dia menyertakan nama Lala dengan terang.
"Lala, kamu kenapa kok diam aja? Kamu sakit?"
"Tu-tuan bi-bicara pa-pada sa-saya?" tanya Lala dengan terbata bata karena penuh keraguan. Hanya sekilas saja dia berani mendongakkan kepala, karena selanjutnya dia memilih untuk tetap menunduk.
"Tentu saja saya bicara sama kamu, memang ada berapa nama Lala di rumah ini?" Gavin justru melempar pertanyaan kepada Lala. Ingin tidak mempercayainya, tetapi Lala tidak sedang bermimpi. Bahkan dia sempat mencubit tangannya sendiri untuk membuktikan jika dia tidak sedang bermimpi.
"Tuh kan, masih diam? Ya sudah, saya kerja dulu. Kalau ada apa apa, telepon saja Pak Salim. Nanti biar dia kasih kabar ke saya," pesan Gavin sebelum kembali melangkah untuk berangkat kerja.
Setelah Lala melihat majikannya sudah keluar rumah lalu masuk ke dalam mobil, sekali lagi dia masih di buat heran seheran herannya dengan tingkah laku majikannya pagi itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa dia benar benar sedang kesambet? Kenapa pagi ini dia begitu baik? Atau jangan jangan, dia berencana untuk membunuhku, sehingga dia berusaha baik baikin aku dulu?"
mendadak pikiran buruk muncul di benak Lala usai melihat perubahan pada majikannya.
"Pak Salim. Ya, aku bisa tanyakan ini pada Pak Salim," ujar Lala selanjutnya. Dia berniat menceritakan perubahan yang di alami majikannya kepada Pak Salim, beliau yang lebih lama bekerja di rumah Gavin, tentu lebih paham bagaimana karakter penghuni rumah tersebut.
Dan setelah menceritakan semuanya kepada Pak Salim, Lala justru mendapat jawaban yang lebih mencengangkan dari penjaga gerbang tersebut.
"Wah, itu pertanda baik Neng. Jangan jangan, Tuan mulai suka sama Neng?"
Glek!
Susah payah Lala menelan saliva mendengar dugaan Pak Salim. Tentu sama sekali tidak terpikir olehnya jika majikannya itu akan menyukai dirinya.
"Duh, Pak Salim ini jangan ngaco deh! Suka dari mana sih Pak? Orang tiap hari aku di marah marahin terus, bahkan sampai di usir segala," sangkal Lala.
"Iya juga sih Neng, tapi aneh juga kalau Tuan mendadak ramah. Karena, selama saya bekerja di sini pun, Tuan tidak pernah berkata seramah itu," sahut Pak Salim. Kini bukan hanya Lala, tetapi Pak Salim juga di buat heran dengan tingkah laku majikannya yang mendadak menjadi baik.
__ADS_1