
Gavin kembali meletakkan minumannya ketika mendengar pertanyaan omahnya. Dan ketika melihat reaksi sang cucu sedikit kurang nyaman, Gaston lekas menyela.
"Anak muda jangan di tanyain seperti itu Omah. Biarkan dia menikmati masa mudanya," ujar Gaston kepada istrinya.
"Iya, dia kan meniru sifat Opah. Dulu sifat itu turun ke Garda, sekarang turun ke Gavin," sahut Dara.
Garda yang saat itu sedang menikmati makanannya mendadak berhenti mengunyah ketika namanya ikut di sebut. "Lain cerita nya dong Mom, dulu kan aku ada alasannya," sangkal Garda.
"Sudah, sudah. Bahas apa sih ini? Biarkan saja Gavin menikmati masa mudanya, nanti kalau udah ketemu jodohnya pasti juga akan menikah!" tegas Gaston menengahi percakapan mereka.
"Iya benar kata Opah, dan jangan jangan nanti jodoh Gavin tidak lain adalah asistennya sendiri," mendadak Vina ikut menyela pembicaraan dan hal itu membuat Gavin hampir tersedak.
Uhukkk...
"Apa sih Bunda ini?" sangkal Gavin. Meski dia pernah memikirkan hal itu, tetapi dia tidak ingin meyakininya. Tetapi Vina justru tersenyum menanggapi jawaban putranya.
Lala yang saat itu sedang mengelap piring di dapur, juga ikut tersenyum mendengar percakapan mereka. Akan tetapi, rupanya Santi dari tadi memperhatikan Lala dan sekaligus mendengar percakapan majikannya. Sehingga dia lantas mendekat ke arah Lala untuk menegurnya.
__ADS_1
"Jangan kePEDEan, asisten Tuan Gavin bukan hanya kamu. Tapi banyak!" seru Santi sembari mendorong pelan lengan Lala menggunakan lengannya. Lala tidak banyak berkomentar, dia hanya diam. Bahkan senyumnya memudar ketika dia dengar ucapan Garda.
"Terserah Gavin mau menikah sama siapa aja, asal dengan gadis baik baik dan bukan Janda!"
Seketika kalimat itu membuat Santi berbunga bunga, dan dia gunakan kesempatan emas itu untuk kembali menyudutkan Lala.
"Tuh kamu dengar, Tuan Garda melarang putranya menikahi Janda!" seru Santi sekali lagi sembari melemparkan senyum sinis, lalu lekas pergi dari hadapan Lala. Janda itu hanya terdiam, selain karena dia merasa tidak pantas jika berharap kepada majikannya, dia juga harus sadar diri karena memang hingga detik itu dia dan majikannya tidak terikat hubungan apa apa.
Namun, mendadak semua telinga di buat terkejut dengan jawaban Gavin.
"Bagaimana jika ternyata aku sedang jatuh cinta kepada seorang janda, apa kalian semua tidak merestui ku? Kalau tidak di restui, aku mau kawin lari saja!"
"Apa maksud kamu Gavin? Jangan main main!" bentak Garda kepada putranya. Dia menanggapi serius ucapan Gavin. Hingga saat itu, memang tidak ada yang tahu tentang status Lala, dan juga tidak ada yang tahu tentang kedekatan Gavin dan Lala.
"Jadi beneran nih, Ayah nggak akan memberi restu jika sampai aku menyukai janda?" Gavin justru menanggapi bentakan Ayahnya dengan santai. Akan tetapi, yang menjawab pertanyaannya bukan lagi sang Ayah, melainkan Gaston, Opahnya.
"Bukan hanya Ayah kamu yang tidak merestui, tapi Opah juga tidak merestui!" seru Gaston dengan serius. Jika tadi Gaston yang menengahi percakapan ketika istrinya menanyakan kapan cucunya akan segera menikah, kini ganti istrinya yang menengahi percakapan ketika dirinya membahas restu.
__ADS_1
"Sudah, sudah! Ini kok jadi bahas restu? Orang calonnya saja belum ada. Lagian urusan jodoh sudah ada yang Mengatur, jadi buat apa kita berdebat di sini?" sela Dara di tengah tengah percakapan mereka. Namun, Gaston nampak tidak sependapat dengan istrinya, sehingga dia terus melanjutkan pembahasan itu.
"Benar, jodoh memang ada yang Mengatur, tetapi setidaknya kita punya hak untuk memilih. Masak Omah rela, cucu kita yang ganteng dan gagah ini mendapat sisa orang lain?" sangkal Gaston kepada istrinya. Dan sayangnya, Dara juga masih tertarik untuk menjawabnya.
"Ini bukan masalah rela atau tidak rela.Karena jika di pikir, Opah dulu juga ganteng, gagah dan kaya, tetapi Mama Mariam rela nggak rela tetap harus merelakan ketika putranya akan menikahi seorang pembantu. Bahkan itu atas kehendak Mama sendiri, tapi Opah yang awalnya menolak.Padahal harapan Mama sebelumnya, pasti pengennya mendapat menantu yang sederajat. Bukan pembantu!" seru Dara. Dia terpaksa membawa masa lalunya agar sang suami tidak menjadi orang yang suka membedakan status ataupun strata sosial.
"Loh, ini beda dong Omah. Buktinya Opah merestui ketika Garda menikah dengan Vina. Ini bukan masalah derajat, tapi status. Meski harus menikah dengan pembantu, asal masih gadis, bukan janda!" Gaston masih saja menanggapi ucapan istrinya sehingga perdebatan mereka belum berhenti. Dan hal itu membuat Garda dan Vina merasa tidak nyaman. Mereka yang awalnya ingin menikmati sarapan pagi bersama, mendadak selera makan mereka menghilang mendengarkan perdebatan Gaston dan Dara.
Hingga pada akhirnya perdebatan Omah dan Opah itu berhenti ketika Dara kembali merasa pusing di kepalanya. Dan hal itu sempat membuat semua merasa panik.
"Omah sih, ngeyel terus! Jadinya kambuh kan hipertensinya? Harusnya Omah nggak perlu berdebat seperti ini, dan menurut saja apa kata Opah!" cecar Gaston sambil membantu istrinya berdiri. Garda dan Vina pun ikut mendampingi Dara kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah Dara meminum obatnya dan suasana sudah kembali tenang, kini ganti Garda yang akan memberi wejangan kepada putranya.
"Gavin, semua ini gara gara kamu! Lagian kenapa sih kamu melontarkan pertanyaan konyol seperti itu? Lihat, jadinya Omah sama Opah berdebat dan bikin Omah kambuh hipertensinya!" tegur Garda kepada putranya yang masih meneruskan sarapannya di meja makan. Bukannya merasa panik, tetapi Gavin tetap santai menanggapi teguran Ayahnya.
"Ayah ini yang berlebihan, kan Gavin cuma tanya. Seharusnya di jawab aja boleh, pasti Omah nggak akan kambuh. Karena meski Opah Gaston melarang, dia tidak akan ada pendukungnya jika semua mendukungku," jawab Gavin dengan enteng, dan hal itu justru semakin memancing amarah Garda.
"Kalau kamu hanya mencari masalah, lebih baik kamu pulang saja Gavin. Kasihan Omah jika sampai kembali sakit gara gara kamu!" titah Garda kepada putranya. Awalnya Vina hanya diam ketika suaminya tengah menegur putranya, tetapi ketika dia mendengar suaminya menyuruh putranya untuk pulang, Vina ikut angkat bicara.
__ADS_1
"Tidak, Gavin harus pulang bareng kita Ayah. Bunda khawatir kalau Gavin pulang sendiri, apalagi pulang dalam keadaan seperti ini. Pasti dia akan ngebut!" seru Vina ikut menimpali. Ketika suasana mulai memanas karena perdebatan mereka, Gavin justru memberi jawaban yang semakin membuat suasana menjadi runyam.
"Baiklah jika Ayah menyuruhku pulang, Gavin akan pulang sekarang juga. Dan Bunda juga tidak perlu khawatir, karena aku tidak akan pulang sendirian, tetapi aku akan pulang bersama Lala!"