
Vina semakin di buat gereget dengan ucapan putranya. Tetapi, dia tetap berusaha untuk merayunya.
"Gavin, apa kamu tidak percaya sama Bunda? Apa kamu pernah lihat Bunda membedakan status seseorang, lalu mencacinya?" tanya Vina dengan nada yang lembut, dan hal itu berhasil melelehkan hati putranya.
"Baiklah, Gavin akan terus terang ama Bunda. Tapi hanya Bunda saja orang yang ku percaya, kalau sama Ayah dan Opah, Gavin nggak mau cerita," jawab Gavin. Tanpa menunggu lama, Vina pun lekas mengiyakan ucapan putranya sebelum putranya berubah pikiran.
"Iya, cukup Bunda saja yang tahu," sahut Vina.
Setelah merasa yakin dengan jawaban Bundanya, Gavin mulai membuka suara dan berterus terang.
"Sebenarnya aku sedang dekat dengan seseorang yang mungkin tidak Bunda kira. Perkenalan kami sangat singkat. Bahkan awalnya aku sangat membenci kehadirannya, tetapi dari sekian kejadian yang kami alami, aku mulai tertarik padanya, meski awalnya hanya bermula dari rasa kasihan dan bersalah," Gavin sejenak menghentikan ucapannya.
Untuk saat itu, Vina masih fokus mendengarkan. Dia tidak mau menyela ataupun menerka nerka. Dia masih setia menunggu putranya kembali bercerita.
"Dia memang janda Bun, tetapi belum mempunyai anak.Dia juga bukan kalangan orang kaya, aku mulai simpati padanya ketika kasihan melihat dia di kejar kejar oleh mantan suaminya. Dia menerima kekerasan dalam rumah tangganya, sehingga mereka bercerai.Tetapi mantan suaminya itu tempramental, jadi meski sudah bercerai, dia tetap mengejar mantan istrinya untuk dia perlakukan seenaknya. Aku sempat tidak percaya, sehingga aku malah mempertemukan mereka, dan yang ada mantan suaminya itu kembali melukai fisiknya. Dari situ aku mulai merasa kasihan." Gavin kembali menjeda ucapannya. Dan dari penggalan cerita itu, Vina sempat di buat haru. Jiwa sosialnya merasa terpanggil ketika mendengar cerita yang memilukan. Namun, ketika dia bertanya tentang identitas janda tersebut, ada suara ketukan pintu yang menyela.
"Lalu, siapa janda itu Gavin? Dan tinggal dimana dia? Apa boleh Bunda bertemu dengannya?" tanya Vina. Tetapi belum sempat Gavin menjawab, ada ketukan pintu yang terdengar.
Tok...tok...tok...
"Siapa yang mengetuk pintu Bun?" sontak Gavin bertanya sambil melihat ke arah pintu.
"Nggak tahu, udah biarin aja. Kamu jawab aja dulu pertanyaan Bunda," sahut Vina. Dia berniat mengabaikan orang yang tengah mengetuk pintu, tetapi sayangnya ketukan pintu itu di iringi oleh seruan yang tidak mungkin dia abaikan.
"Gavin, buka pintunya!"
__ADS_1
Terdengar suara Garda dengan lantang memanggil putranya yang sedang berada di dalam kamar. Sontak Vina lekas berdiri mendengar teriakan keras dari balik pintu tersebut. Kini, ganti Vina yang meminta agar tidak memeberitahukan keberadaan dirinya di kamar itu.
"Cepat kamu temui Ayah kamu, dan jangan bilang kalau Bunda ada di sini! " titah Vina kemudian dia berjalan menuju ke arah kamar mandi untuk bersembunyi.
"Duh, Bunda aja lah yang temui Ayah. Aku males!" tolak Gavin. Dia enggan bertemu dengan Ayahnya karena masih merasa kesal. Karena tidak berhasil menyuruh putranya, Vina kemudian menghentikan langkah dan berputar kembali menuju ke arah Gavin.
"Gavin, justru karena kamu kesal sama Ayah kamu, makanya kamu yang harus menemuinya agar nggak banyak pertanyaan dan nggak lama lama. Kalau ntar Bunda yang nemuin, pasti ada saja yang di tanyakan oleh Ayah kamu," ujar Vina menjelaskan. Meski sedikit berbelit, akhirnya Gavin bersedia membukakan pintu untuk Ayahnya.
"Ya sudah, Gavin yang keluar!" seru Gavin dengan wajah yang kucel. Sementara Vina kembali melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi untuk bersembunyi.
Ceklek,
Perlahan Gavin mulai memutar gagang pintu, lalu dia balik pintu tersebut dia temui wajah sang Ayah yang mulai geram karena menunggu lama.
"Ya, ada apa?" tanya Gavin dengan nada datar dan bermalas malasan.
"Ayah itu yang ngapain ganggu ganggu aku tidur?" Gavin tidak kekurangan bahan omongan untuk balik bertanya.
"Di tanya malah balik nanya!" seru Garda merasa kesal.
"Udahlah Ayah, to the point aja mau ngapain Ayah ke sini? Kalau nggak ada perlu, aku mau tidur lagi," sahut Gavin sambil memasang wajah yang semakin tidak bersahabat.
"Itu, kamu di panggil Omah, dan di tunggu di kamarnya. Tapi awas aja kalau sampai kamu ngomong macam macam dan bikin Omah kambuh lagi!" pesan Garda kepada putranya.
Tanpa banyak kata, Gavin menjawab perintah dari Ayahnya.
__ADS_1
"Iya!"
Begitu pula dengan Garda, dia juga tidak banyak kata untuk menanggapi putranya.
"Buruan!"
Setelah Ayahnya berlalu, Gavin kembali menutup pintu kamarnya dan tidak lupa untuk menguncinya. Kemudian dia berjalan menuju ke arah kamar mandi.
"Keluar Bun, Ayah sudah pergi," cakap Gavin sambil mengetuk pelan pintu kamar mandinya. Dan beberapa detik kemudian Vina keluar.
"Ayah kamu ngapain nyari kamu?" tanya Vina ketika sudah keluar dari kamar mandi.
"Ngasih tahu kalau Omah nyariin aku, dan sekarang aku di tungguin di kamar beliau, " sahut Gavin sambil merapikan rambutnya di cermin.
"Omah? Ya sudah, kalau gitu Bunda juga mau melihat Omah. Bunda kesana dulu, dan kamu juga jangan lama-lama ke sananya," pesan Vina kepada putranya sebelum keluar dari kamar tersebut.
Ketika hendak membuka pintu, sebelumnya Vina memeperhatikan keadaan kanan kiri. Setelah dia rasa keadaan sepi, dia lekas keluar dari kamar putranya. Tentu saja dia menghindari suaminya yang pasti akan menegur serta memberi banyak pertanyaan jika melihat dirinya keluar dari kamar Gavin. Satu hal yang Vina khawatirkan adalah, ketika dia tidak bisa berbohong di depan sang suami. Padahal dia sudah berjanji pada putranya untuk menjaga ceritanya. Dan di saat Vina baru saja melangkahkan kakinya, dia mendadak teringat pada cerita Gavin.
"Ya Tuhan, kenapa aku tadi lupa menanyakan lagi tentang identitas janda itu?" ujar Vina dalam hati. Dia dibuat penasaran dengan jawaban yang akan di berikan oleh putranya. Jika saja Garda tidak menyela, mungkin saat itu Vina sudah tahu tentang kedekatan Gavin dan Lala.
"Ah sudahlah, sekarang lebih baik aku segera ke kamar Mommy. Urusan Gavin aku tunda dulu, nanti aku tanyakan lagi pada anak itu!" gumam Vina dalam hati sembari melangkah menuju ke kamar Ibu mertuanya.
"Kamu kemana saja? Aku dari tadi nyariin kamu," tanya Garda ketika melihat istrinya masuk ke kamar Ibunya.
"Tadi abis dari kamar mandi tamu, karena nggak nahan mau ke kamar mandi kamar kita," jawab Vina terpaksa berbohong. Dan setelah Vina duduk di kamar tersebut, tak lama kemudian Gavin datang tanpa permisi, lalu duduk di sebelah Bundanya.
__ADS_1
"Gavin, kemarilah Nak," panggil Dara seraya melihat ke arah sang cucu.
"Iya Omah, ada apa?" tanya Gavin sambil mendekat ke tempat Omahnya berbaring.