
Malam itu Garda sudah tidak sabar menunggu pagi hari karena ingin segera pulang. Matanya sulit terpejam hingga akhirnya dia berjalan mondar mandir ke sana kemari memikirkan tindakan apa yang akan dia lakukan untuk memberi ketegasan kepada putranya. Andai saja saat itu Dara tidak sedang sakit, mungkin dia akan pulang pada malam itu juga.
"Apa kamu akan mondar mandir terus seperti itu sampai besok pagi?" tanya Vina kepada suaminya.
Garda hanya membuang nafas besar mendengar pertanyaan istrinya. Dan tak lama kemudian dia duduk mendekat di sebelah Vina.
" Sepertinya aku akan menugaskan Garda ke perusahaan cabang kita yang ada di luar pulau, " ujar Garda kepada istrinya. Namun sayangnya, Vina tidak menyetujui pendapat itu.
"Tidak, Bunda tidak setuju. Hidup jauh dari pantauan keluarga bukan pilihan yang tepat untuk seorang anak laki laki yang sudah dewasa. Mungkin menurut ayah itu bisa menjauhkan Gavin dari Lala, tetapi belum tentu bisa menjaga Gavin dari pergaulan liar di luar sana!" tutur Vina menyampaikan pendapatnya.
Garda terdiam mendengar jawaban istrinya. Dia akui pendapat Vina memang ada benarnya.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan hubungan mereka?" tanya Garda meminta pendapat Ibunda Gavin.
"Entahlah, Bunda juga tidak tahu. Tetapi, sebaiknya kita bicarakan baik baik. Jangan menggunakan kata kata atau aturan yang keras. Jangan sampai kita menyesal jika hubungan kita dengan putra semata wayang kita menjadi renggang, karena dia menganggap kita tidak bisa menjadi orang tua yang bijak dan pengertian," tukas Vina kemudian.
"Bicara baik baik bagaimana? Kita berikan celah begitu saja pada mereka? Tidak, Ayah tidak bisa bertindak seperti itu!" tolak Garda. Dia tidak mempunyai cukup kesabaran untuk menanggapi masalah tersebut secara baik baik.
Perdebatan antara suami istri itu berlangsung hingga pertengahan malam. Dan ketika pagi sudah menjelang, Garda bangun lebih awal. Dia lekas mandi dan berpakaian rapi. Dan ketika Vina baru membuka mata, dia lihat suaminya sedang mengemas barangnya ke koper.
"Ini jam berapa Ayah? Apa aku bangun kesiangan sampai sampai Ayah sudah rapi dan berkemas?" tanya Vina seraya mengucek kedua matanya. Lantas dia segera melirik ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Karena tidak mendapat jawaban dari suaminya, Vina kembali bersuara.
"Oh, rupanya bukan Bunda yang kesiangan. Tapi Ayah yang kepagian," tukas Vina selanjutnya. Akan tetapi Garda seolah tidak mendengarnya dan tetap melanjutkan aktifitas mengemasnya.
__ADS_1
Vina tidak banyak bertanya lagi, karena saat itu dia tahu jika suaminya pasti masih terbawa suasana perdebatan tadi malam. Apalagi pendapat keduanya sedang bersebrangan, sudah tidak asing bagi Vina menghadapi sikap dingin suaminya ketika mereka usai berdebat. Sehingga dia memilih untuk diam dan tidak mengambil hati atas sikap Garda yang tak acuh, dan dia biarkan suaminya tenang dengan sendirinya. Vina pun lekas ke kamar mandi dan juga ikut bersiap siap, sebab dia tahu sebenarnya itu perintah halus yang di berikan oleh sang suami.
Ketika keduanya sudah rapi, mereka segera keluar dari kamar. Vina memilih untuk menuju ke dapur, sementara Garda memilih untuk menuju ke kamar Gavin. Langkah Vina mendadak berhenti setelah tahu kemana arah tujuan suaminya, tentu dia tidak ingin jika pagi itu terjadi keributan. Diam diam dia berbalik arah dan memperhatikan dari kejauhan.
Tok..tok..tok..
"Gavin, cepat bangun! Buka pintunya!" seru Garda dengan suara yang keras. Sehingga ketukan pintu itu terdengar hingga ke ruangan lain.
"Gavin, bangun!" seru Garda sekali lagi. Sementara saat itu sang penghuni kamar belum bisa membuka mata dengan sempurna. Dia berdecak kesal mendengar panggilan dari Garda. Bahkan Gavin malah menarik kembali selimutnya, lalu menutup telinganya dengan bantal.
"Gavin, cepat bangun dan keluar. Atau Ayah urus surat pindah tempat kamu ke luar pulau hari ini juga!"
Degh, tentu Gavin begitu terkejut mendengar ancaman itu. Matanya yang semula lengket, mendadak terbuka lebar. Dia tidak mengerti mengapa Ayahnya tiba tiba bicara seperti itu. Karena merasa penasaran, Gavin pun beranjak dari ranjangnya lalu membuka pintu yang dari tadi di ketuk oleh Ayahnya.
Dari kejauhan, Vina masih memperhatikan aksi suaminya. Dia merasa khawatir dengan tanggapan Gavin jika sampai merasa tidak terima jika akan di pindahkan ke luar pulau oleh ayahnya.
Tak lama kemudian pintu kamar Gavin terbuka, dan dia di sambut oleh wajah geram sang Ayah.
"Ada apa sih Yah, pagi pagi teriak teriak bangunin orang ?" tanya Gavin dengan wajah kesal.
"Cepat mandi dan berkemas, kita pulang sekarang!" titah Garda kepada putranya.
"Kenapa buru buru sih? Ini masih pagi," sangkal Gavin.
"Cepat lakukan perintah Ayah atau kamu tidak akan pernah bertemu dengan janda itu lagi!"
__ADS_1
Degh, Gavin semakin terkejut dengan ucapan Garda. Belum sempat dia bertanya tentang maksud sang Ayah yang akan memindahkan dirinya ke luar pulau, kini Garda justru membahas tentang Lala. Meski Garda tidak menyebut namanya secara langsung, tetapi pikiran Gavin langsung menuju ke sana.
"Apa maksud Ayah?" tanya Gavin dengan wajah yang serius.
"Kita bahas di rumah!" jawab Garda dengan singkat, lalu berlalu dari hadapan Gavin yang masih diam terpaku penuh tanda tanya.
Vina sedikit merasa tenang, karena setidaknya Garda tidak melanjutkan perkara itu di rumah mertuanya. Meski perang sebenarnya nanti akan terjadi di rumahnya sendiri.
Sementata Gavin masih di buat bertanya tanya dengan kemarahan ayahnya pada pagi itu. Dia lantas kembali menutup pintu kamarnya, lalu duduk di tepian ranjang memikirkan titah sang Ayah yang menurutnya begitu janggal.
"Lala? Jangan jangan Ayah...."
Mendadak Gavin terpikirkan oleh keadaan Lala. Dia khawatir jika Ayahnya sudah menegur janda tersebut dengan keras.
"Lebih baik memang aku harus segera pulang dan mengajak Lala," ujar Gavin selanjutnya. Dia pun lekas pergi ke kamar mandi, lalu bersiap siap untuk pulang.
Di lain ruangan, Garda tengah duduk di meja makan lebih awal. Di meja tersebut belum tersaji makanan karena memang belum matang dan belum waktunya sarapan. Dia hanya sibuk memainkan ponselnya, dan tak lama kemudian Vina duduk mendekat.
"Apa Gavin akan ikut pulang pagi ini?" tanya Vina pura pura tidak mendengar percakapan mereka. Dan suaminya hanya mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban.
Setelah itu Vina tidak bertanya lagi, dia memilih melihat langsung tanggapan putranya sebagai jawaban atas pertanyaannya.
Beberapa menit kemudian, Gavin benar benar keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi. Dan hal itu cukup menjadi jawaban untuk Garda dan Vina jika putranya akan ikut pulang juga pada pagi itu.
Gavin melangkah menuju ke arah dapur tanpa terlebih dahulu menyapa kedua orang tuanya. Kemana lagi dia kalau bukan mencari keberadaan Lala. Dan setelah tiba di dapur, dia tidak menemukan sosok orang yang dia cari.
__ADS_1
"Kemana Lala?" tanya Gavin dalam hati sambil menoleh kesana kemari menelusuri seluruh sudut ruangan di dapur luas milik Oma nya.