
"Lepaskan! Apaan sih main peluk peluk? Nggak sopan!" tolak Gavin kepada perempuan yang bernama Viola.
"Loh, kamu kok gitu sih sayang? Bukannya di sambut dengan hangat, tapi malah bersikap dingin! Aku itu jauh jauh datang ke sini, hanya ingin menemui kamu!" geram Viola dengan wajah yang kusut serta kedua tangan di lipat di dada.
"Siapa suruh datang ke sini? Udah, pulang aja sana!" seru Gavin. Dia justru menyuruh perempuan itu pergi.
"Tega kamu Gavin!" balas Viola. Dia begitu tidak terima dengan perlakuan dingin Gavin yang tidak mempedulikan dirinya.
"Sudahlah, jangan banyak drama di sini. Kehadiran kamu hanya mengganggu istirahat orang saja. Kamu pulang saja sana!" Sekali lagi Gavin justru mengusir Viola.
"Nggak! Aku nggak akan pulang jika tidak bersama dengan kamu! Lagian ini perintah dari Opa Gaston kok, beliau memintaku untuk menjemput kamu!" tegas Viola kepada Gavin.
Percakapan sengit antara keduanya benar benar mengundang pertanyaan untuk Lala. Otaknya berputar memikirkan siapa perempuan itu, karena jika di lihat dari sikapnya, sepertinya dia pernah dekat dengan majikannya. Seketika Lala sempat merasa tidak enak hati. Dia merasa jika perdebatan mereka terjadi karena Gavin lebih memilih menemani dirinya dari pada pulang bersama Viola.
"Kalau kamu mau nunggu aku pulang, ya silahkan! Itu urusan kamu bukan urusanku! Karena aku tidak akan pulang sebelum Lala sembuh!" seru Gavin sembari memalingkan muka. Dan jawaban itu membuat Viola semakin meningkatkan volume suaranya.
"Kamu ini kenapa sih Gavin? Bisa bisanya kamu lebih memilih pembantu itu dari pada aku? Pasti kamu ini udah kena guna guna!" tuding Viola kepada Lala. Dan Gavin tentu merasa tidak terima dengan tudingan itu, hingga akhirnya dia mengungkap kilas balik hubungan dirinya dengan Viola di masa lalu.
"Diam kamu! Jangan menuduh orang sembarangan! Dia itu perempuan baik baik. Dia perempuan yang bisa menjaga harga diri, bukan seperti kamu yang rela mengumbar tubuh hanya demi popularitas dan uang!"
Seketika mata Viola memerah mendengar jawaban Gavin. Dia begitu terluka mendengar ucapan Gavin yang begitu kasar. "Tega kamu Gavin!" Cakap Viola sembari keluar dari ruangan itu dengan mata berkaca kaca. Bukannya kasihan atau berniat mengejarnya, Gavin malah merasa lega karena akhirnya Viola pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Gavin menghembuskan nafas lega setelah melihat kepergian Viola. Kemudian setelah itu, dia menatap ke arah Lala yang saat itu juga sedang menatapnya dengan heran.
"Maaf jika kedatangan dia mengganggu istirahat kamu," ujar Gavin kepada Lala.
"Tidak Tuan, saya justru merasa tidak enak karena Tuan menolak di ajak oleh perempuan itu gara gara menemani saya," jawab Lala dengan lemah, lalu Gavin segera menyangkalnya.
"Kamu nggak perlu berpikir seperti itu. Dia itu bukan siapa siapa, jadi kamu nggak usah merasa tidak enak," tutur Gavin untuk meyakinkan hati Lala. Namun, berbagai macam pertanyaan yang tersimpan di benak Lala tidak mampu dia tahan, sehingga dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Memangnya, dia itu siapa Tuan? Sepertinya kenal dekat dengan keluarga Tuan?" tanya Lala dengan ragu. Sejenak Gavin sempat tercengang mendengar pertanyaan itu, lantaran dia sedikit bingung harus menjawab apa. Hingga pada akhirnya dia jelaskan semuanya kepada Lala.
"Dia, dia itu dulu kekasihku. Tetapi dua bulan yang lalu, hubungan kami putus karena dia lebih memilih mengejar karier yang sangat tidak aku sukai. Dia itu seorang penyanyi sekaligus foto model. Dan dia lebih memilih mengejar popularitas serta uang daripada mendengar saran dariku. Aku tidak suka melihat perempuan seperti itu, apalagi dia sering berpakaian terbuka di depan para lelaki dan kamera. Aku ingin memiliki pendamping seperti Oma dan Bunda. Mereka adalah perempuan perempuan berhati mulia, yang menyerahkan seluruh waktunya hanya untuk keluarga, untuk suaminya. Bukan untuk mengejar keinginannya sendiri," ungkap Gavin menceritakan masa lalunya bersama Viola. Dan setelah sejenak berhenti bercerita, Gavin kembali bersuara.
"Tidak, tidak apa apa Tuan. Saya yang harusnya minta maaf karena membuat Tuan bersedih mengingat masa lalu," sahut Lala. Dia semakin merasa tidak enak hati kepada majikannya. Malam itu, keduanya meneruskan pembicaraan tentang Viola. Sehingga tak terasa, malam sudah hampir menjelang pagi, dan keduanya mulai merasa kantuk.
"Sudah hampir pagi, lebih baik kamu segera beristirahat agar cepat pulih. Aku akan tidur di sofa, " ujar Gavin kepada Lala.
"Iya Tuan. Sekali lagi saya minta maaf karena merepotkan Tuan dan pasti Tuan tidak nyaman jika tidur di sofa," cakap Lala. Semakin Gavin bersikap baik kepadanya, Lala semakin merasa tidak enak hati.
Keesokkan paginya. Ketika Lala dan Gavin masih sama sama terlelap, terdengar seorang suster jaga masuk untuk mengecek kondisi Lala. "Selamat pagi Nyonya, bagaimana istirahatnya malam ini? Nyaman?" sapa seorang suster dengan senyum ramah sembari mengganti botol infus Lala yang sudah mulai kehabisan isi.
"Iya sus," jawab Lala dengan serak sembari membuka matanya masih enggan untuk terbuka.
__ADS_1
"Saya cek tekanan darahnya ya, habis ini akan di periksa jahitan di kepalanya," ujar suster itu dan Lala pun mengangguk untuk mengiyakan. Selama memeriksa kondisi Lala, suster itu mengajak Lala bercakap cakap.
"Suaminya perhatian sekali ya Nyonya,"
Seketika Lala membuka kedua bola matanya lebar lebar mendengar ucapan itu. Rupanya banyak tim media Rumah Sakit tersebut yang mengira jika Gavin dan Lala itu suami istri. Ketika Lala hendak menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada suster tersebut, mendadak ada suara yang menyela. "Bagaimana keadaan dia Sus?" tanya Gavin yang baru saja bangun dari tidurnya. Dia lekas berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Lala serta Suster itu.
"Kondisinya baik Tuan, jika tidak ada masalah serius, besok pagi mungkin sudah di perbolehkan untuk pulang. Nanti akan ada Dokter yang berkunjung pagi ini," jawab suster tersebut.
"Oh, baik. Terima kasih Sus," sahut Gavin.
Setelah sepuluh menit berada di ruangan Lala, Suster tersebut segera keluar setelah mengecek semuanya. Dan sebelum melangkah keluar, dia berkata, " Saya permisi dulu Tuan, semoga kesehatan istri anda segera pulih."
Glek!
Lala kembali di buat mematung mendengar ucapan itu, begitu juga dengan Gavin. Dan setelah Suster itu menghilang di balik pintu, Gavin dan Lala kemudian saling bertatapan.
"Mereka menganggap kita suami istri," ujar Gavin dengan santai. Bahkan dengan di iringi senyum simpul. Berbeda dengan Lala, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya karena rasa gelisah yang berlebihan. Sesuatu yang sangat dia takutkan yakni jika kedua majikannya, Garda dan Gaston mendengar ucapan Suster tersebut, pasti mereka akan sangat murka.
"Tuan, lebih baik saya di pindah saja ke ruang biasa biar tidak ada yang salah paham lagi pada hubungan kita," cakap Lala dengan sangat tidak enak hati dan begitu gelisah. Namun, yang ada Gavin justru memberi jawaban yang semakin membuat Lala tercengang,
"Nggak perlu. Lagian katanya ucapan itu adalah doa. Jadi biarkan saja seisi Rumah Sakit ini mendoakan kita menjadi suami istri sungguhan,"
__ADS_1