Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Menahan Emosi


__ADS_3

"Tapi tidak semudah itu!" seru Garda menimpali ucapan Viola dan juga Gaston.


"Alah, sudahlah! Awalnya pasti dia berontak, tapi lama lama pasti bisa menerima. Asal calon istrinya pinter aja nyari hatinya," sahut Gaston kemudian.


Viola merasa bahwa ucapan Gaston tertuju kepada dia, sehingga dia pun lekas menjawab kalimat tersebut.


"Tentu Opa. Viola akan memberikan yang terbaik untuk calon suamiku," sahut Viola dengan raut wajah yang begitu gembira. Lain halnya dengan Garda dan istrinya. Vina sebenarnya kurang menyukai kepribadian Viola, dan dia lebih menyukai Lala. Akan tetapi, keadaan tidak mungkin mendukung keinginannya. Sementara Garda, dia tidak yakin jika Gavin akan mau menuruti kemauan mereka, mengingat ikatan hubungan antara Gavin dan Lala sudah begitu dekat.


"Gavin sudah berani terang terangan mengutarakan niatnya untuk menikahi Lala. Bahkan dia rela kehilangan semua fasilitas keluarga jika tetap tidak di restui," Ujar Garda selanjutnya dan membuat semua terkejut mendengarnya.


"Apa? Sudah tidak waras anak itu!" Geram Gaston mendengarnya.


"Ini pasti tidak beres Om. Jangan jangan perempuan itu pakai pelet!" Tuding Viola kepada Lala.


"Jangan menuduh sembarangan, kita kan tidak ada bukti. Nanti malah kita jadinya bikin fitnah!" Tegur Vina kepada Viola. Dari awal Vina memang tidak sepaham dengan Viola, sehingga sering kali pendapat mereka selalu berselisih.


"Iya Tante, maaf." ujar Viola meminta maaf. Dia merasa jika Bunda Gavin tersebut sepertinya tidak menyukai dirinya.


"Kamu benar Viola, sepertinya memang tidak beres. Tapi, untuk urusan seperti itu memang susah untuk mencari bukti. Atau sebaiknya kita lakukan hal magic juga untuk menjauhkan Gavin dan perempuan itu?" sahut Gaston. Kakek beruban putih itu sepertinya selalu sependapat dengan Viola, bukan dengan menantunya.


"Boleh Opa, Viola juga setuju. Apa salahnya mencoba?" jawab Viola. Dia begitu bersemangat karena ada yang mendukung isi kepalanya.

__ADS_1


Lain halnya dengan isi kepala Vina, dia begitu keberatan dengan saran yang di pakai oleh mertuanya. "Apa tidak ada cara lain selain dengan magic? Jika benar Lala menggunakan cara itu, lalu apa bedanya dengan kita yang sama sama menggunakan cara gelap juga?"


"Oma juga tidak setuju. Zaman sekarang kok masih ada yang punya pikiran seperti itu?" sela Dara yang tiba tiba datang lalu mendengar percakapan mereka.


"Tapi ini kan nggak wajar? Mata Gavin seakan di butakan oleh janda itu!" tegas Gaston kepada istrinya.


"Entahlah! Yang jelas, apapun kenyataan yang kita hadapi sekarang, Oma tidak setuju jika memakai cara magic!" seru Dara menegaskan kembali pendapatnya.


"Mungkin jalan satu satunya adalah menikahkan Gavin, lalu memindahkannya ke luar negeri!" sahut Garda menyampaikan isi kepalanya.


"Iya Om, aku juga setuju dengan itu. Aku janji, aku akan merebut hati Gavin dan membuat dia melupakan janda tersebut." tukas Viola dengan begitu yakin, tetapi lagi lagi Vina menyela ucapannya.


"Wajah kamu kenapa sedih begitu sayang? Apa kamu nggak senang karena di suruh pulang?" tanya Gavin kepada Lala.


"Saya takut Tuan, eh sayang..." jawab Lala dengan singkat. Bibirnya masih belum terbiasa memanggil kata sayang, sehingga sering kali dia keliru dalam memanggil.


"Jangan takut karena ada aku. Setidaknya istirahat dulu di rumah Oma selama satu atau dua hari hingga kondisi kamu benar benar fit, setelah itu kita pergi dari rumah Oma. Sebenarnya saat ini pun kita bisa saja langsung pergi dari rumah itu, tetapi aku merasa tidak enak sama Oma. Kamu dengar sendiri kan, Oma masih memberi kesempatan kepada kita untuk membuktikan kesungguhan kita kepada mereka, jadi jangan sampai kita kecewakan Oma. Kamu mengerti kan?" ujar Gavin kepada Lala, kemudian kekasihnya itu mengangguk untuk mengiyakan.


Hari itu, keduanya menyatukan tekad untuk kembali pulang ke rumah Dara. Apapun resiko yang akan mereka terima, mereka akan hadapi bersama. Meski awalnya Lala nampak begitu takut dan ragu, tetapi Gavin berhasil meyakinkan hati kekasihnya itu.


Setelah melakukan perjalanan selama tiga puluh menit dari Rumah Sakit, mereka akhirnya tiba di mansion Dara. Perlahan Lala turun dari mobil dengan di dampingi oleh Gavin untuk masuk ke dalam mansion. Keadaan mansion cukup sepi karena rupanya Vina dan Garda sudah kembali pulang karena urusan pekerjaan. Dan kini, tinggal ada Dara, Gaston dan juga Viola di mansion itu.

__ADS_1


"Kalian sudah pulang?" sapa Dara menyambut kedatangan Gavin dan Lala.


"Sudah Oma," jawab Gavin. Kemudian dia dan Lala bergantian mencium tangan Dara. Berbeda dengan Gaston, dia nampak tak acuh melihat kedatangan mereka berdua. Begitu juga dengan Viola. Ketika Gavin mendekat dan ingin mencium tangan Opanya, dengan cepat Gaston menangkis tangan itu.


"Nggak perlu, Opa sangat kecewa sekali sama kamu!" cecar Gaston kepada cucunya. Mendengar kalimat itu, Gavin hanya menarik nafas panjang untuk menahan emosi. Dia tidak ingin meladeni ucapan Opanya hanya demi menghargai Omanya serta menjaga mental Lala.


"Gavin antar Lala ke kamar dulu Oma," ujar Gavin selanjutnya. Dia mengalihkan pembicaraan tanpa menanggapi ucapan Opanya agar tidak terjadi perdebatan. Setelah berpamitan kepada Dara, Gavin lekas menggandeng Lala untuk berjalan menuju ke kamar. Tetapi, ketika mereka sudah berjalan beberapa langkah, terdengar Viola berseru.


"Loh, ngapain di di ajak ke kamarku?" tanya Viola yang melihat Gavin menggandeng Lala menuju ke kamarnya.


"Sejak kapan ini menjadi kamarmu?" sahut Gavin dengan singkat.


"Sejak kemaren. Sejak aku menginap di sini." jawab Viola seraya berdiri lalu mendekat ke arah Gavin dan Lala yang kini tengah berdiri ke depan kamarnya.


"Kalau begitu, kemasi barang barangmu lalu keluar! Keluar dari kamar ini dan juga mansion ini! Tidak ada gunanya kamu tinggal di sini!" seru Gavin dengan nada yang kasar.


"Kamu keterlaluan Gavin! Kamu benar benar lebih memilih pembantu janda ini dari pada aku!" geram Viola dengan mata yang memerah karena ingin menangis.


Melihat kejadian itu, tangan Lala berusaha meredam emosi Gavin. Tetapi hal itu tidak berhasil. Pria itu sudah tidak mampu menahan kesabaran atas penolakan yang di lakukan banyak orang atas hubungannya dengan Lala. Apalagi, saat itu Gaston ikut angkat bicara dan bahkan berpihak kepada Viola.


"Beraninya kamu mengusir Viola hanya demi janda ini! Opa tidak rela jika kamar ini di tempati oleh orang yang tidak layak menempatinya!" Bantah Gaston sambil menunjuk ke arah Lala, dan hal itu berhasil menyulut amarah Gavin untuk berkobar.

__ADS_1


__ADS_2