
"Saya benar benar tidak tahu harus menjawab bagaimana Tuan? Saya takut jika akan membuat masalah untuk Tuan. Jujur, itu yang paling saya takutkan," Ujar Lala mengungkapkan semua isi hatinya.
"Sudah cukup, aku sudah tidak mau dengar lagi rasa takutmu itu. Yang mau aku dengar adalah perasaanmu. Sekali lagi aku tanya, apa kamu juga memendam perasaan yang sama seperti aku?" Tanya Gavin sekali lagi, dan membuat Lala memejamkan mata. Lalu, setelah berpikir sejenak tentang perasaannya, pada akhirnya Lala berani mengakui semuanya.
"I-i-iya Tuan," Jawab Lala sembari menundukkan kepalanya dengan mata terpejam. Lalu kembali Gavin mengangkat dagu Lala agar pandangannya menatap ke arahnya.
"Buka mata kamu, kenapa harus takut dan malu untuk mengakuinya?" Lirih Gavin kepada Lala.Lalu perlahan, Lala membuka matanya hingga pandangan kedua insan itu kini menyatu. Dan lagi, Lala di buat salah tingkah dengan ucapan majikannya. Karena melihat lawan bicaranya begitu pasif, Gavin akhirnya mengambil keputusan yang terbaik.
"Baiklah, berarti mulai sekarang kita resmi jadian ya,"
Satu kalimat yang di ucapkan oleh Gavin berhasil membuat tubuh Lala terasa panas dingin mendengarnya. Meski rasanya tidak percaya, tetapi semua itu nyata di hadapannya. Ketika melihat reaksi Lala yang belum bisa menerima begitu saja status baru mereka, Gavin kemudian kembali meyakinkan hati kekasihnya tersebut.
"Sayang, kamu harus yakin jika kita mampu menghadapi kenyataan. Selama kita bersatu, kita pasti mampu melangkah bersama," tukas Gavin selanjutnya. Kemudian Lala berusaha menganggukkan kepala untuk memberi jawaban seraya berkata,
"Ba-baik Tu-tuan,"
"Loh, kok panggilnya Tuan sih? Aku ini kekasih kamu loh? Harusnya, kamu juga panggil aku dengan kata sayang!" Seru Gavin. Dia merasa tidak suka dengan panggilan yang di berikan oleh Lala kepadanya.
__ADS_1
"Apa? Sayang?" Kejut Lala mendengarnya.
"Iya, pokoknya mulai sekarang kita saling panggil sayang, oke!"
Kali itu Lala tidak bisa menolak kemauan lelaki yang baru saja menjadi kekasihnya tersebut. Tetapi, Lala meminta jika di depan para keluarga, panggilnya tetap Tuan.
"Baiklah kalau itu mau kamu, tapi kalau aku panggilnya tetap sayang meski ada mereka!"
Glek! Sepertinya Lala akan mendapat masalah baru. Apalagi di rumah majikannya sekarang ada dua wanita yang sama sama sedang mengejar cinta Gavin.
"Gavin, cepat pulang dan bersiap pergi ke kantor. Ayah mengajak Santi datang ke sini untuk menjaga Lala, jadi kamu tidak ada alasan untuk berdalih jika tidak ada yang menjaga dia!" Seru Garda ketika baru saja masuk ke ruangan Lala.
"Tidak, hari ini aku akan cuti. Dan aku akan kembali bekerja jika Lala sudah sembuh dan pulang ke rumah!" Sahut Gavin dengan tegas, dan jawaban itu kembali memancing amarah Ayahnya.
"Tuan, pergi bekerja saja. Saya nggak perlu di jagain," Ujar Lala berusaha menasehati Gavin. Tetapi, Gavin justru menberikan jawaban yang membuat Garda serta Santi tercengang.
"Enggak sayang, aku akan tetap di sini menemani kamu sampai kamu sembuh,"
__ADS_1
"Apa? Sayang?" Kejut Garda dan Santi secara bersamaan di dalam hatinya masing masing. Santi begitu kesal mendengarnya,
tetapi dia hanya bisa menyimpan kekesalannya itu di dalam hati. Lain halnya dengan Garda, dia tentu seketika meluapkan kekesalan itu.
"Gavin, apa maksud kamu memanggil dia dengan sebutan sayang?" Tanya Garda tanpa basa basi kepada putranya. Mendengar pertanyaan yang tertuju kepadanya, Gavin pun menoleh.
"Ya nggak ada maksud apa apa Ayah, emang dia kan sekarang udah jadi kekasihku, jadi wajar kalau aku panggil dia dengan sebutan sayang," Jawab Gavin dengan begitu santai.
"Gavin....!" Bentak Garda. Laki laki yang kini usianya berkepala lima itu tidak bisa menerima keputusan putranya yang semaunya sendiri menjadikan Lala sebagai kekasih tanpa persetujuannya.
"Sudah cukup! Hentikan perdebatan kalian!" Mendadak ada satu suara yang muncul secara tiba tiba di antara perdebatan antara Gavin dan Ayahnya.
"Mommy, dia sudah keterlaluan. Diam diam diam mereka sudah memiliki hubungan sedekat itu. Apa salah jika aku menegurnya?" sangkal Garda kepada Dara yang rupanya juga ikut datang ke Rumah Sakit itu. Bukannya menjawab pertanyaan putranya, Dara justru menatap ke arah Gavin sambil berkata.
"Gavin, kamu pernah bilang sama Oma jika kamu hanya kasihan kepada Lala dan ingin menolongnya, tetapi kenapa sekarang kalian malah menjalin hubungan dekat?" tanya Dara kepada cucunya.
"Iya Oma, dari awal aku memang berniat membantu Lala. Tetapi, perasaan ini muncul dengan sendirinya dan semakin kuat. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Dan maaf Oma, kali ini aku ingin menentukan jalan hidupku sendiri. Dengan atau tanpa restu dari kalian, aku akan tetap bersama dengan Lala. Karena aku melihat sosok Oma dan Bunda ada pada Lala, itu sebabnya aku ingin menjadikan dia sebagai pendamping hidupku. Aku tidak peduli dengan status ataupun usianya, yang aku tahu aku nyaman bersama dia,"
__ADS_1