
Lala menyuguhkan tiga cangkir teh kepada tiga orang pria arogan beda generasi tersebut. Dan setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia kembali ke dapur. Selama duduk bertiga, Gavin hanya memainkan ponselnya. Bahkan dia tersenyum senyum sendiri ketika sesekali melihat layar ponsel tersebut.
"Kenapa nggak ikut duduk di sini?" satu pesan berhasil Gavin kirim kepada Lala. Tetapi dia terlihat gelisah menunggu balasan pesan tersebut karena Lala masih menyelesaikan pekerjaannya.
Barulah setelah sepuluh menit berlalu, ponselnya kembali bergetar tanda ada satu pesan yang masuk.
"Nggak berani Tuan," balas Lala di sertai emoji senyum.
"Sebenarnya aku mau ajak kamu jalan keluar, tetapi aku tidak bawa mobil sendiri," tulis Gavin selanjutnya.
Lala sempat terkejut mendengar ajakan itu, yang dia khawatirkan tentu adalah keluarga majikannya yang lain.
"Jangan Tuan, nanti di marahi sama Tuan Gaston dan Tuan Garda," balas Lala selanjutnya. Dia begitu khawatir jika mengundang kemarahan kedua majikannya tersebut. Tetapi, Gavin malah mencari cari masalah.
"Udah, jangan pikirkan mereka. Nanti lama lama juga akan menerima," balas Gavin selanjutnya. Ketika mereka sedang asyik saling mengirimkan pesan, tiba tiba Gaston bertanya.
"Apa sampai tehnya dingin kamu hanya akan senyum senyum melihat ponsel Gavin?"
"Apa sih Opa? Mending aku senyum sama ponsel, emang boleh kalau misal aku senyumnya sama Lala?" sahut Gavin sembari melirik ke arah Ayahnya yang pasti tidak suka mendengar jawaban itu. Ketika mereka sedang bercakap cakap, mendadak ketiganya mendengar sebuah teriakan.
"Awas Lala......" Praaaaaannkkkkkk.......
"Lala, kenapa Lala?" seru Gavin sembari mencari asal suara. Dia kemudian lekas berdiri dan berlari ke arah dapur dengan di iringi oleh Garda dan juga Gaston.
"Lala, kenapa dia Oma?" kejut Gavin ketika mendapati Lala sudah tergeletak di lantai dengan kucuran darah di kepalanya dengan beberapa pecahan perabot yang terbuat dari marmer.
"Dia tadi menyelamatkan Oma dari perabot yang mau jatuh , sehingga perabot itu mengenai kepalanya lalu dia pingsan. Jika tidak di selamatkan oleh Lala, mungkin Oma yang terluka dan tidak sadarkan diri," ungkap Dara menjelaskan.
__ADS_1
"Kalau gitu ayo cepat kita bawa Lala ke rumah sakit Oma," cakap Gavin dengan begitu panik sambil meraih tubuh Lala. Luka di kepala Lala yang belum kering sempurna kini kembali terkena benturan marmer sehingga membuat luka itu kembali terbuka.
"Iya, ayo bawa dia ke Rumah Sakit. Ayo Garda, Opa, bantu Gavin mengangkat Lala!" titah Dara kepada anak serta suaminya. Tapi saat itu Gavin menolak untuk di bantu.
"Tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri!" seru Gavin sambil berjalan mengangkat tubuh Lala menuju keluar rumah. Sementara Garda dan Gaston yang menerima penolakan hanya berdiri terdiam bagai pecundang yang tak berguna.
"Kenapa kalian diam saja? Ayo cepat siapkan mobilnya!" titah Dara kepada anak serta suaminya.
"Oh iya, iya Mom. Garda segera siapkan mobilnya," jawab Garda dengan gugup. Malam itu semua di buat panik oleh kejadian buruk yang menimpa Lala. Kecuali Santi, dia justru tersenyum melihat Lala celaka, bahkan berharap Lala sudah tidak bisa bekerja lagi di rumah majikannya.
"Ayo lebih cepat lagi!" seru Gavin kepada Ayahnya ketika berada di dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit. Dan Garda lantas menambahkan laju mobilnya.
"Lala, kamu bertahan ya... kita akan segera tiba di rumah sakit," ujar Gavin kepada Lala yang terkulai lemas di pangkuannya.
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Gavin lekas turun dari mobil lalu membawa Lala ke ruang penanganan IGD.
Seluruh keluarga Gavin yang melihat kepanikan Gavin hanya bisa terdiam dan menjadi penonton pasif. Mereka tidak menyangka jika rasa kepedulian Gavin benar benar begitu besar kepada Lala. Satu sifat yang mungkin tidak dimiliki oleh ayah serta kakeknya.
"Aku nggak ngira anak itu akan sangat peduli pada janda tersebut," ujar Gaston sambil menggelengkan kepala.
"Aku juga," sahut Garda.
"Kalian lihat sendiri kan? Bahkan Lala sudah menyelamatkan Oma. Oma berhutang budi sama dia, jika benda itu tidak mengenai Lala, mungkin yang sekarang tergeletak di Rumah Sakit ini adalah Oma. Jadi Oma mohon, jika Lala sudah sembuh, kalian berhenti berdebat tentang hubungan mereka!" tegas Dara kepada anak serta suaminya.
Kedua laki laki itu hanya terdiam mendengar petuah yang di sampaikan oleh Dara. Bahkan mereka sedikit menyesal karena selama ini selalu memandang Lala dengan sebelah mata.
Selama menunggu proses penanganan, Gavin nampak mondar mandir tidak tenang. Apalagi setelah melihat ada seorang Dokter yang keluar dari ruang penanganan dengan membawa kabar jika Lala membutuhkan transfusi darah karena terlalu banyak mengeluarkan sel darah merah.
__ADS_1
"Ambil saja darahku Dok, yang penting dia bisa selamat!" seru Gavin yang semakin di buat panik.
"Tidak semudah itu Tuan. Perlu di lakukan pengecekan, kalaupun jenis darahnya sama, prosesnya juga tidak bisa langsung. Ada prosedurnya," jawab pria berseragam putih tersebut.
"Jangan banyak alasan, cepat lakukan tindakan yang terbaik! Berapapun biayanya akan aku bayar!" geram Gavin dengan kedua bola mata melotot setelah mendengar penolakan yang di ucapkan oleh Dokter mengenai tawaran pendonoran darahnya.
Melihat Gavin yang mulai tidak bisa mengendalikan emosi, Dara dan yang lainnya mulai mendekat.
"Gavin, tenang Nak. Pasti Dokter bisa mengobati Lala. Kamu tenang ya, duduk aja dulu. Kita berdoa bersama sama," ujar Dara berusaha menenangkan cucunya.
"Pokoknya jika sampai terjadi apa apa sama Lala, Ayah dan Kakek harus bertanggung jawab!"
Sontak kalimat yang di lontarkan oleh Gavin itu mengundang tanya bagi dua pria di hadapannya.
"Loh, kenapa Ayah dan Kakek yang harus bertanggung jawab? Kan bukan kita yang mencelakai Lala. Itu murni kecelakaan," sangkal Garda, lalu di benarkan oleh Gaston.
"Tentu kalian yang harus bertanggung jawab, karena jika tadi kalian tidak melarang aku mengajak Lala untuk minum teh bersama, mungkin saat ini dia tidak akan celaka!" jawab Gavin tanpa basa basi.
Glek!
Seketika semua yang mendengar jawaban Gavin ingin tertawa, tetapi juga merasa kesal karena jawaban dia kurang masuk akal. Namun, Dara berusaha mengingatkan kepada semuanya agar tidak ada yang menanggapi ucapan Gavin supaya tidak terjadi perdebatan di Rumah Sakit itu.
"Sudah Gavin, kamu yang tenang ya Nak. Tidak ada yang menginginkan kecelakaan ini terjadi. Dari pada berdebat, lebih baik kita sama sama berdoa agar Lala segera mendapat pertolongan dan kembali sadar," tutur Dara dengan begitu lembut hingga pada akhirnya Gavin menurut.
Setelah berhasil membuat cucunya itu duduk lebih tenang, Dara senantiasa mendampinginya sambil sesekali mengelus lengannya. Hingga sepuluh menit kemudian, nampak beberapa tim medis keluar dari ruang IGD.
"Bagaimana kepada Lala Dok?"
__ADS_1