Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Terpaksa


__ADS_3

Sebenarnya Gavin sangat tidak nyaman jika kedua orang tuanya ikut bersama dia ke rumah Omanya. Tetapi, demi menemui Lala, sejenak dia singkirkan masalah itu.


"Ayah beneran mau pergi ke rumah Oma lagi?" tanya Vina, lalu suaminya itu mengangguk.


"Kalau gitu, ajak Gavin bareng saja. Jangan biarkan dia bawa mobil sendiri," ujar Vina selanjutnya, dan lagi lagi Garda mengangguk. Tetapi, percakapan mereka di dengar oleh Gavin dan dengan cepat dia menolak.


"Tidak, aku tidak mau bareng sama kalian, aku bawa mobil sendiri aja!" tolak Gavin.


"Bareng atau kamu tidak boleh pergi!" sahut Garda tanpa banyak kata. Dan hal itu kembali membuat putranya kesal. Padahal, rencananya Gavin ingin mengajak Lala pergi keesokkan hari. Tetapi, dia malah tidak di beri izin bawa mobil. Pada akhirnya Gavin terpaksa harus menurut, lalu kemudian ketiganya segera bersiap untuk berangkat.


Setalah melakukan perjalanan selama beberapa jam, mereka kemudian tiba di rumah Dara. Sebelum berangkat mereka tidak memberikan kabar bahwa akan datang kembali, sehingga Dara dan Gaston sempat terkejut dengan kedatangan mereka yang tiba tiba.


"Loh, mau datang kok nggak bilang bilang dulu? Kan bisa Oma masakin dulu. Sekarang di meja makan udah tidak ada makanan," cakap Dara menyambut kedatangan anak cucunya.


"Emangnya ini ada apa kok tumben tumbenan datang lagi nggak bilang bilang. Biasanya juga paling cepat tiga bulan sekali." Gaston ikut melontarkan pertanyaan kepada mereka bertiga. Tetapi, dengan segera pertanyaan itu di sahuti oleh istrinya.


"Opa ini gimana, ada anak cucu datang itu harusnya senang, bukan malah di tanyain seperti itu!" tegur Dara.

__ADS_1


Setelah mendapat sambutan singkat itu, mereka kemudian segera masuk ke kamar kecuali Gavin. Ruangan yang dia tuju adalah dapur, karena dia sedang mencari Lala. Dan setelah tiba di ruangan yang dituju, dia terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Lala.


"Heh kamu, kenapa kamu malah enak enakan di situ? Lihat itu, pekerjaan masih numpuk malah main hp!" bentak Gavin kepada Santi yang tidak ikut membantu Lala bekerja. Sontak Santi terkejut dan salah tingkah, lalu segera meletakkan hpnya di meja kemudian membantu Lala membersihkan perabot dapur.


"Duh, kok ada Tuan Gavin sih?" gerutu Santi dalam hati, sementara Lala hanya tersenyum kecil melihat kejadian itu. Di satu sisi dia senang karena Santi mendapat teguran, dan di sisi lain dia bahagia karena Gavin berpihak kepadanya.


"Ada apa sih Gavin? Kok teriak teriak?" tanya Dara seraya mendekat.


"Itu Oma, pembantu Oma itu tidak tahu etika. Temannya sedang banyak kerjaan, dia malah duduk duduk santai sambil main hp!" jawab Gavin dengan kesal.


Santi berusaha berkilah, tetapi dia tidak akan bisa melawan majikan mudanya tersebut.


"Bikin ulah apalagi itu anak?" tanya Garda kepada Vina, lalu istrinya itu mengangkat kedua pundaknya tanda tidak mengerti. Setelah itu mereka berniat untuk keluar dari kamar dan melihat keadaan di dapur.


"Tidak apa apa Tuan, nanti istirahat bareng saja," tolak Lala ketika di suruh istirahat oleh Gavin.


"Nggak usah cari muka!" lirih Santi tepat di telinga Lala.

__ADS_1


"Udah, kamu jangan bantu dia. Sekarang tugas kamu, ganti layani aku!"


Sontak ucapan yang di lontarkan oleh Gavin itu menarik perhatian ayahnya yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.


"Apa maksud kamu Lala kamu suruh melayani kamu? Biarkan dia mengerjakan tugasnya!" seru Garda sembari memasang wajah geram.


"Maksud aku, Lala aku minta untuk buatkan aku teh , lalu aku suruh dia menemaniku untuk meminumnya," jawab Gavin dengan begitu santai. Tetapi, mendadak dia tercengang ketika mendengar titah dari ayahnya.


"Lala, tolong buatkan tiga teh sekalian!" titah Garda kepada Lala.


"Baik Tuan," jawab Lala sambil mengangguk, lalu dia lekas mengambil tiga buah cangkir tanpa banyak bertanya. Akan tetapi, lain halnya dengan yang di rasakan oleh Gavin. Dia seketika bersuara untuk menanyakan maksud ucapan Ayahnya.


"Kenapa minta di buatkan tiga? Emang buat siapa aja?"


"Buat kamu, Ayah dan juga Opa. Kita bisa kan nge teh bareng?" jawab Garda dengan nada yang masam.


Gavin tentu sangat tidak suka dengan jawaban itu, tetapi demi bertemu dengan Lala, dia harus berusaha tetap bersikap baik baik saja tanpa banyak perlawanan, meski hatinya menggerutu, "Duh, tuh kakek kakek ngapain sih ikut aku nge teh? Kan aku pengennya sama Lala!"

__ADS_1


Sementara Lala hanya bisa menahan tawa mendengar perdebatan majikannya tersebut.Dia mulai merasa jika Gavin tertarik kepadanya, tetapi Lala tidak punya kuasa untuk membalasnya.


__ADS_2