Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Rendang daging


__ADS_3

Setelah melewati malam yang berbeda, Lala bangun dengan penuh semangat. Jiwanya yang semalam sempat terguncang karena kejadian yang menimpanya, kini tidak lagi dia rasa setelah mendapat perlakuan spesial dari sang majikan. Bagi Lala, baru kali itu ada orang yang mau berkorban materi demi dirinya. Dan ternyata, itu juga pengalaman pertama bagi Gavin untuk mengorbankan sejumlah materi demi seorang perempuan yang notabennya adalah sebagai seorang asisten rumah tangga.


Lala bersiap untuk melakukan rutinitas pagi di rumah sang majikan. Dan setelah beraktifitas selama enam puluh menit, terlihat Gavin keluar dari kamarnya. Pria itu berjalan menghampiri Lala yang tengah membersihkan perabot di dapur.


"Selamat pagi Lala," sapa Gavin kepada janda muda itu.


"Selamat pagi Tuan," jawab Lala dengan sedikit canggung. Ada rasa gugup ketika majikannya mendekat. Tetapi dia berusaha bersikap tenang.


"Apa kamu tidak memasak?" tanya Gavin basa basi.


"Memasak? Tuan ingin di masakkan apa? Saya pernah bekerja di rumah makan, jadi sedikit sedikit saya ada pengalaman memasak yang baik. Jika Tuan mau, akan saya coba masakan satu menu masakan untuk Tuan," sahut Lala.


"Boleh, jika kamu tidak keberatan," jawab Gavin.


"Tentu tidak Tuan. Saya justru senang jika Tuan bersedia memakan masakan saya," timpal Lala kemudian. Dia lantas bergegas mengambil daging di lemari es dan segala perlengkapan bumbunya. Karena pagi itu, dia akan memasak rendang daging. Lala begitu bersemangat mengolah daging tersebut menjadi hidangan yang lezat, dia bekerja semaksimal mungkin agar majikannya menyukainya.


Selama menunggu Lala memasak, Gavin masuk ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Lalu beberapa menit kemudian dia keluar dengan membawa ponsel dan tas, serta telah mengenakan pakaian kerjanya. Kini, dia tengah duduk manis di kursi tempat makan sembari menunggu hidangan siap di sajikan.


Setelah menunggu selama tiga puluh menit, masakan Lala pun matang. Karena hanya memasak sedikit dan hanya cukup satu porsi saja, maka tidak membutuhkan waktu lama bagi Lala untuk mengolahnya.


"Silahkan Tuan, semoga Tuan menyukainya." ujar Lala seraya menyuguhkan satu piring rendang daging yang aromanya menggoda.

__ADS_1


"Terima kasih, sepertinya lezat sekali," sahut Gavin memuji masakan Lala meski baru mencium aroma dan belum mencicipinya.


Lala tersenyum ceria mendengar pujian dari sang majikan. Dia berharap majikannya benar benar akan menyukainya setelah mencicipi rendang daging tersebut. Dan Lala juga berharap majikannya akan ketagihan dengan masakannya.


"Emmm, sesuai," ujar Gavin kembali memuji masakan Lala setelah mencicipinya. Padahal, beberapa waktu lalu Gavin menolak mentah mentah ketika Vina menyuruh Gavin makan masakan Lala


"Benarkah Tuan? Jika Tuan suka, setiap hari saya akan memasak untuk Tuan," jawab Lala.


"Tidak. Aku tidak mau!" sahut Gavin.


Mendadak wajah Lala terlihat kecewa ketika mendengar Gavin menolak untuk di beri masakan Lala lagi. Namun, ucapan Gavin tersebut ternyata masih terpotong. Dan Lala kembali tersenyum ketika majikannya meneruskan kalimatnya.


"Tentu aku tidak mau jika setiap hari kamu beri masakan seperti ini, karena aku maunya setiap hari menunya ganti."


" Baik Tuan, setiap hari akan saya beri menu masakan yang berbeda untuk Tuan. Tetapi,..." ucapan Lala mendadak terpotong.


"Tetapi apa?" tanya Gavin.


"Tetapi stok bahan masakan di lemari es terbatas Tuan. Di sana hanya ada daging sapi saja," ujar Lala.


"Oh hanya masalah itu? Baiklah, besok pagi kita belanja ke supermarket mencari bahan bahan masakan yang kamu butuhkan. Kebetulan besok kan aku cuti," cakap Gavin.

__ADS_1


"Belanja ke super market Tuan?" tanya Lala sedikit panik.


"Iya, ke super market. Tetapi kamu tidak perlu khawatir karena aku sendiri yang akan mengantarkan kamu dan menemani kamu belanja sampai kamu pulang,"


Degh, mendadak jantung Lala berhenti berdetak mendengar ucapan sang majikan yang berniat mengantar sekaligus menemani dia belanja. Lala benar benar sulit mempercayai semuanya karena keadaan berubah seratus delapan puluh derajat seiring perubahan sikap sang majikan.


"Terima kasih sebelumnya Tuan, anda sudah peduli pada keselamatan saya," ujar Lala menyampaikan rasa terima kasihnya, kemudian Gavin membalasnya dengan senyuman.


Setelah selesai menyantap menu sarapannya, Gavin kemudian segera berangkat kerja. Bahkan, dia menyisakan rendang daging tersebut di meja agar bisa di makan Lala. Hal itu benar benar membuat Lala semakin kagum melihat kebaikan sang majikan


"Terima kasih Tuhan, begitu mudah sekali bagi Engkau membolak balikkan hati dan sikap manusia." Tak henti henti Lala mensyukuri nikmat yang dia dapat.


Selama di perjalanan, Gavin di buat tersenyum sendiri mengingat kedekatannya dengan Lala. Satu kedekatan konyol antara dirinya dan pembantunya itu benar benar tidak dia duga sebelumnya. Bahkan sempat muncul di benaknya satu pertanyaan konyol yang tidak bisa dia kendalikan.


"Apa mungkin aku dan dia berjodoh?" tanya Gavin dalam hati. Entah mengapa dia bisa berpikir seperti itu? Padahal belum ada dua puluh empat jam dia dekat dengan Lala, karena sebelumnya keduanya tidak pernah nyambung.


"Duh, mikir apa aku ini?" lagi lagi Gavin bertanya pada dirinya sendiri sembari menepuk nepuk dahinya seakan merutuki pertanyaan konyolnya tersebut. Namun, jika teringat bahwa nenek serta ibunya dulu awalnya adalah seorang pembantu, sementara kakek serta ayahnya dulunya adalah seorang majikan, mendadak Gavin kembali memikirkan pertanyaan konyolnya. Dara dan Vina memang sengaja menceritakan bagaimana kisah mereka dahulu sebelum menikah, hal itu bertujuan agar anak cucu mereka tidak terbiasa merendahkan seorang asisten rumah tangga. Karena jika Tuhan telah menuliskan takdir, maka sesuatu yang tidak mungkin terjadi pun bisa saja terjadi. Dan manusia tidak ada kuasa untuk menolaknya.


Hari sudah berganti sore dan Gavin pun sudah waktunya pulang dari kerja. Entah mengapa sekarang dia begitu bersemangat untuk kembali pulang ke rumah. Seakan akan ada anggota keluarga yang tengah menantinya, padahal di rumahnya tidak ada siapapun kecuali Lala. Jika memikirkan hal konyol tersebut, lagi lagi Gavin hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan aneh serta perasaannya sendiri pada saat itu.


Ketika tiba di rumah, Gavin lekas masuk ke dalam rumah. Tetapi dia tidak melihat sosok Lala. Awalnya Gavin mengabaikan begitu saja tentang keberadaan Lala, tetapi dia mulai di buat panik ketika dia kembali keluar dari kamarnya seusai mandi dan hendak menuju ke ruangan dapur, tetapi di sana Lala juga tidak ada.

__ADS_1


"Dimana dia?" tanya Gavin dalam hati, kemudian dia lekas melangkah menuju ke kamar Lala untuk memastikan kemana perginya janda tersebut. Tetapi di sana Gavin juga tidak menemukan siapa siapa, dan hal itu sempat membuatnya semakin panik. Dan di sela sela kepanikannya, ponselnya berdering. Di layar tertera foto Vina, tentu Gavin tidak berani untuk menerimanya karena Lala sedang menghilang entah kemana.


__ADS_2