
"Emang ada yang salah?" sahut Gavin tanpa menghentikan aktifitasnya untuk beberes.
Garda sedikit kebingungan untuk menjawab, karena sebenarnya tidak ada yang salah jika putranya berubah menjadi anak yang rajin membantu.
"Memang tidak salah, tapi aneh aja!" jawab Garda dengan nada dinginnya.
"Aneh? Ayah itu yang aneh!" celetuk Gavin sambil berlalu meninggalkan Ayahnya bagai seorang pecundang.
"Gimana? Apa Ayah mendapat jawaban?" tanya Vina seraya mendekat ke arah suaminya. Dan pria itu hanya mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban.
"Dia terlihat begitu dekat dengan pembantu baru yang kamu bawa pulang itu. Memangnya kamu tahu asal usulnya?" Garda balik bertanya kepada istrinya.
"Ya, kalau asal usul keluarganya aku nggak tahu. Yang aku tahu dia sedang kebingungan mencari pekerjaan, lalu aku membantunya. Dia juga termasuk orang yang sopan, jujur dan giat bekerja," terang Vina kepada suaminya.
"Dia gadis atau janda?" mendadak pertanyaan Garda membuat Vina mengerutkan dahi. Dari awal dia tidak menanyakan status Lala, dan ketika Gavin menceritakan kedekatannya dengan janda, dia juga sama sekali tidak mengira jika itu adalah Lala.
"Dia janda Tuan, " sela Santi yang saat itu mendengar percakapan Garda dan Vina. Sontak keduanya menoleh ke arah Santi yang ada di belakang mereka, dan tatapan mata kedua majikannya itu mengisyaratkan kepada Santi untuk kembali memberi keterangan lebih lanjut.
"Maaf Tuan jika saya menyela, tetapi memang itu kenyatannya. Lala itu memang janda," jelas Santi sembari menundukkan kepala.
Tentu Garda dan Vina sama sama tertegun mendengar pernyataan itu. "Janda?" gumam Vina dengan kedua kelopak mata yang terbuka. Sementara Garda hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa tidak habis pikir dengan putranya.
"Aku tidak bisa membiarkan ini semakin berlarut!" seru Garda sembari melangkah menuju ke dapur untuk menghampiri Gavin dan Lala yang tengah membereskan sisa sisa kantong bingkisan yang tidak terpakai. Melihat suaminya yang berjalan penuh amarah, Vina pun lekas menahannya.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau kemana? Mau ngapain? Tolong tenangkan diri dulu biar tidak terjadi keributan," tutur Vina kepada suaminya. Tetapi nasehat itu sepertinya tidak digubris oleh Garda. Vina begitu panik melihat amarah suaminya, lain hal nya dengan Santi. Dia sangat senang dan penasaran melihat Lala akan di marahi oleh majikannya.
"Mampusss kamu Lala, biar tahu rasa kamu! Dasar janda tidak tahu diri!" cela Santi kepada Lala di dalam hati sambil tersenyum masam.
Tinggal beberapa langkah lagi Garda akan sampai di dapur, sementara Vina masih nampak mengejar dan berusaha menahannya. Aksi tersebut tertangkap mata Gaston, sehingga pria beruban putih itu bertanya.
"Kamu mau kenapa Garda?" tanya Gaston. Sejenak Garda menghentikan langkah ketika mendengar ayahnya bertanya.
"Mau memberi pelajaran pada anak yang susah di atur!" jawab Garda. Tentu hal itu membuat Gaston kembali bertanya. " Garda? Memangnya dia kenapa?"
"Dia menyukai pembantu yang berstatus janda. Apakah peringatan kita kemaren kurang jelas? Bukannya menurut, dia malah berani secara terang terangan menunjukkan kedekatan dengan pembantu itu!" ungkap Garda dengan wajah yang geram.
"Pembantu siapa?" tanya Dara yang ikut menyela. Mertua Vina tersebut rupanya juga ikut mendengar pembicaraan mereka. Dan tanpa basa basi, Garda lekas menyebutkan siapa orang yang dia maksud.
"Dia? Dia janda?" tanya Gaston sedikit kurang percaya karena Lala memang terlihat seperti seorang gadis.
"Iya, dia janda yang dekat dengan Garda. Aku mau memberi peringatan kepada mereka agar menghentikan hubungan mereka. Jika perlu aku akan mengusir janda itu!" seru Garda tanpa melepas tatapan ke arah Lala yang sedang sibuk bekerja.
"Tidak! Kamu tidak bisa melakukannya!" tegur Dara. Sontak tegurannya itu membuat putranya kembali bertanya.
"Apa maksud Mommy? Tentu aku punya hak untuk mengusirnya, yang penting aku bayar dia. Sekalipun harus membayar tiga kali lipat akan aku berikan, asal dia pergi jauh dari kehidupan Gavin!" terang Garda dengan nada penuh antusias.
"Mommy tidak meragukan uangmu, tapi Mommy meragukan Gavin!" sahut Dara dengan tak kalah tegas. Tentu jawaban itu membuat semuanya heran.
__ADS_1
"Apa maksud Mommy?" tanya Garda.
"Jika menurut kamu dengan mengusir seorang pembantu lalu memberinya banyak uang itu akan menyelesaikan masalah, lalu bagaimana jika ternyata Gavin yang mengejar pembantu itu? Maka cara kamu itu justru akan membuat Gavin semakin berontak karena kamu telah mengusir wanita yang dia sukai." ungkap Dara menyampaikan pendapatnya.
"Tidak Mom! Itu tidak mungkin! Gavin tidak mungkin mengejar seorang pembantu, apalagi janda. Yang ada pasti pembantu itu yang kegatelan pada Gavin!" Terang Garda. Namun sayang, jawaban itu justru memancing amarah Mommynya karena merasa tersinggung.
"Stop Garda! Kamu sudah melampaui batas dalam menilai seseorang. Kamu boleh kesal dengan putramu, tapi jangan mudah menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya. Cukup kamu urus saja Gavin, tapi kamu tidak perlu merendahkan pembantu itu!" tegur Dara. Beliau berkata dengan nada yang kasar untuk melampiaskan amarahnya, sehingga membuat tenaganya sedikit terkuras.
Gaston segera memberi kode kepada Garda untuk diam dan tidak perlu lagi menjawab apalagi membantah ucapan Dara. Karena jika perdebatan itu di teruskan, maka kesehatan Dara akan kembali memburuk. "Sudah cukup," lirih Gaston di telinga Garda sembari mengelus pundaknya.
Antara kesal dan etika, Garda sulit untuk mengendalikan dirinya, sehingga dia memilih untuk terlebih dahulu masuk ke dalam kamar. Sementara Gaston dan Vina mengajak Dara agar segera kembali ke kamar untuk beristirahat.
"Tegur suamimu jika ingin bertindak semaunya kepada seorang pembantu! Ingatkan dia, bahwa ibunya dulu juga bukan keturunan darah biru!" pesan Dara kepada menantunya ketika mereka tengah berjalan menuju ke kamarnya.
"Sudah Oma, jangan bahas itu lagi. Nanti kepala Oma pusing," tutur Gaston kepada istrinya.
"Tapi jika tidak di utarakan, Oma malah kepikiran. Oma tidak mau putra Oma jadi orang yang semena mena, apalagi sampai membawa perbedaan kasta!" ungkap Dara kembali menjelaskan isi kepala dan hatinya.
"Iya iya, nanti Opa tegur Garda. Sekarang lebih baik Oma tidur lebih awal biar nggak makin stress," ujar Gaston menasehati Dara, lalu istrinya pun menurut karena memang kepalanya mulai terasa berat.
Setelah mengantar mertuanya kembali beritirahat, Vina lekas kembali ke kamarnya untuk menemui suaminya. Vina khawatir jika saat itu Garda nekat membuat keributan dengan putranya. Ketika tiba di depan pintu kamarnya, Vina segera membuka pintu tersebut. Lalu dia dapati suaminya tengah berdiri di depan jendela memandangi langit gelap malam itu.
"Syukurlah, aku kira kamu akan nekat menegur Gavin dan Lala," cakap Vina ketika sudah masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Jika bukan karena Mommy, aku pasti sudah usir janda itu malam ini juga! Tapi lihat saja, hari ini aku memang masih gagal, tetapi tidak untuk hari esok dan seterusnya. Apalagi ketika dia kita ajak kembali ke rumah, maka kita yang akan mempunyai kekuasaan penuh atas dirinya!"