Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Tetap Tinggal


__ADS_3

"Diam Garda, jika tidak tahu kejadian yang sebenarnya, jangan suka main menyalahkan orang lain!" sahut Dara menanggapi ucapan putranya. Beliau kemudian keluar dari kamar tersebut dengan diiringi Lala di belakangnya.


"Mulai sekarang, Lala akan tinggal di sini!" ujar Dara ketika beliau sudah duduk di sofa.


"Apa? Kenapa dia harus tinggal di sini?" kali ini Gaston yang terlihat begitu keberatan. Tetapi, lain halnya dengan Vina dan Dara yang setuju dengan saran tersebut.


"Aku setuju Oma, sepertinya jika dia tinggal di sini, maka Gavin tidak akan sering sering bertemu," sahut Garda.


"Tidak, Opa tidak setuju!" tolak Gaston.


"Opa ini kenapa sih? Apa Opa ada masalah juga dengan Lala?" tanya Dara merasa heran dengan jawaban suaminya. Tentu pertanyaan Dara tersebut membuat Gaston kebingungan untuk menjawab.


"Ya enggak lah, Oma ini tanya kok aneh aneh!" seru Gaston sambil memalingkan muka karena merasa di permalukan oleh istrinya.


"Kalau gitu ya sudah, Opa nggak usah ngelarang Oma untuk menyuruh Lala tinggal di sini," sahut Dara.


Ketika mereka sedang bercakap cakap, mendadak terdengar ada suara mobil yang datang. Perhatian mereka pun tertuju ke luar rumah. "Siapa yang datang?" tanya Gaston.

__ADS_1


"Sepertinya itu mobil Gavin," sahut Vina ketika sempat melihat warna mobil yang datang dari kaca jendela.


"Apa? Gavin? Kalau gitu dia harus segera sembunyi lagi!" seru Garda dengan panik sambil menunjuk ke arah Lala.


"Heh, buruan kamu masuk ke dalam kamar lagi!" titah Gaston kepada Lala. Kedua laki laki itu kebingungan sendiri melihat kedatangan Gavin, berbeda dengan Vina dan Dara yang terlihat tenang.


"Baik Tuan," jawab Lala sembari berjalan masuk ke dalam kamar. Setelah Lala masuk, dengan cepat Garda mengunci kamar tersebut lalu menyembunyikan kuncinya di dalam saku.


Beberapa detik kemudian, Gavin menampakkan diri di hadapan mereka, lalu berkata. "Sepertinya aku akan tinggal di sini sampai Ayah menyuruh Lala kembali ke rumah!"


"Aku akan tinggal di sini sampai Lala kembali ke rumah!" Sekali lagi Gavin mengulangi ucapannya. Ternyata diam diam, dia tahu jika Lala masih berada di rumah Opanya, karena sebelum dia datang membawa mobil, dia sudah lebih dulu menyelinap ke samping rumah untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Sementara mobilnya dia parkir di luar gerbang sebelum akhirnya benar benar dia bawa masuk ke halaman.


"Tidak. Kamu harus pulang. Di kantor ada banyak pekerjaan!" tegas Garda.


"Aku minta cuti dulu aja," sahut Gavin dengan santai.


"Tidak bisa. Kamu harus kembali bersama kami!" tegas Garda sekali lagi.

__ADS_1


"Tidak mau!" tolak Gavin kemudian. Perdebatan diantara keduanya tidak berujung, hingga akhirnya Garda menunda kepulangannya. Setelah perdebatan itu selesai, Garda begitu geram kepada putranya lalu ingin segera masuk ke dalam kamar. Akan tetapi, langkahnya kembali berhenti ketika dia mendengar satu kalimat.


"Aku mau tidur di kamar tamu saja, mana kuncinya Ayah?" tanya Gavin kepada Garda. Suami Vina itu tentu terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga dia berbalik badan lalu memberi teguran.


"Oma masih punya banyak kamar yang bisa kamu tempati, selain kamar itu!" sahut Garda dengan begitu dingin.


"Tidak. Aku akan tetap tidur di kamar ini, jika tidak ada kuncinya, aku akan congkel pintu tersebut lalu aku palu biar bisa terbuka," jawab Gavin tanpa berfikir. Garda menghembuskan nafas, setelah mendengar ucapan itu, dia berbalik badan lalu bertanya kepada Gavin.


"Apa kamu sengaja mengatakannya? Mengapa mendadak kamu ingin tidur di kamar tamu? Katakan alasan kamu!" bentak Garda kepada putranya. Lalu dengan enteng Gavin menjawab,


"Karena di dalam kamar itu ada Lala!"


Seketika semua merasa terkejut karena ternyata Gavin mengetahui semuanya. Namun, Garda dan Gaston masih berusaha menyangkal ucapan Gavin.


"Aku akan percaya jika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika Lala memang tidak ada di kamar itu!" tegas Gavin sekali lagi.


"Ah sudah, sudah. Kalian ini pasti berdebat kalau ketemu. Sekarang duduklah, mari kita bicarakan baik baik!" seru Dara, lalu pada akhirnya suami, anak serta cucunya tersebut bersedia untuk di persilahkan duduk.

__ADS_1


__ADS_2