Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Bodoh kamu!


__ADS_3

Setelah menerima panggilan dari sang Ayah, Gavin masih terdiam tanpa suara. Begitu pula dengan Lala. Keduanya masih larut dalam perasaan masing masing.


"Sebenarnya ada perlu apa ya, Tuan Gavin mengajakku duduk di sini?" tanya Lala dalam hati. Tetapi, untuk saat itu lidahnya yang terbiasa lincah mendadak kaku karena kejadian yang baru saja dia alami.


Namun, pada menit selanjutnya, Gavin mulai mencairkan suasana. Sejenak dia singkirkan sifat arogannya, demi mempertanggung jawabkan segala kesalahannya. Meski awalnya dia ragu, tetapi pada akhirnya dia yang lebih dahulu membuka suara.


"Aku minta maaf," ujar Gavin. Untuk saat itu, hanya itu kalimat singkat yang mampu dia ucapkan. Dia memilih menunggu tanggapan dari Lala, barulah dia akan mulai mengutarakan isi kepalanya.


"Minta maaf untuk apa Tuan? Seharusnya saya yang minta maaf. Karena semenjak saya tinggal di sini, Tuan mendapat banyak masalah. Saya juga ingin berterima kasih kepada Tuan yang sudi membantu saya," sahut Lala.


Mendengar jawaban dari Lala, Gavin tersentak hatinya. Dia di anggap pahlawan oleh Lala, padahal tanpa Lala tahu bahwa dirinya adalah dalang dari kejadian malam itu. Dan Gavin semakin tersentak ketika Lala melanjutkan kalimatnya.


"Maaf sebelumnya Tuan, saya sudah mengambil keputusan untuk pergi dari sini. Kondisi saya juga sudah pulih. Saya juga akan berpamitan langsung kepada Nyonya Vina, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau yang sudah bersedia menolong saya waktu itu. Saya sangat berhutang budi pada keluarga ini. Tetapi saya sadar, keberadaan saya di sini hanya menimbulkan banyak masalah," cakap Lala mengutarakan semua perasaannya.


"Jangan bicara seperti itu. Sebenarnya bukan kamu yang membuat maslaah, tetapi temanku sendiri dan juga mantan suamimu itu. Lagian, kalau pergi dari sini, apa kamu mau pulang? Bagaimana jika mantan suamimu kembali mengejar kamu lalu bertindak kekerasan seperti kemaren? " tanya Gavin. Saat itu, dia benar benar membuang semua sifat angkuh dan tak acuhnya. Dan hal itu membuat Lala semakin sulit mempercayai jika majikannya tersebut rupanya juga mengkhawatirkan keadaannya.

__ADS_1


"Sebelumnya terima kasih atas perhatiannya Tuan, tetapi mungkin semua itu sudah menjadi takdir saya jika harus kembali bertemu dengan mantan suami saya lalu menerima kekerasan seperti hari hari lalu. Karena sepertinya, kemanapun saya berlari, dia bisa menemukan saya," sahut Lala dengan nada yang lesu. Dia nampak sudah menyerah pada keadaan.


"Bodoh kamu!" jawaban Gavin sontak membuat Lala terkejut. Baru saja dia dengar kalimat yang menyejukkan dari mulut majikannya tersebut, kini kalimat yang kembali dia dengar ternyata kurang menyenangkan karena di anggap bodoh. Namun, setelah Lala mendengar kelanjutan kalimat itu, hati Lala kembali di buat meleleh.


"Harusnya kamu jangan pasrah pada takdir. Takdir bisa di rubah jika kamu mau berusaha!" tutur Gavin kepada Lala, dan janda itu paham apa maksud ucapan sang majikan.


"Ini juga termasuk usaha saya Tuan, dengan tinggal di rumah ini. Tetapi, nyatanya dia masih bisa menemukan saya," sahut Lala.


Keduanya kembali terdiam. Mendadak Gavin teringat awal mula ketika Lala menolak jika di suruh belanja keluar, dan pada malam itu dia baru paham jika alasannya adalah agar tidak ketemu dengan mantan suaminya. Dia semakin merasa bersalah ketika dia malah meminta mantan suami Lala untuk menemui Lala di rumahnya, hanya karena dia gengsi bertanya tentang masalah mereka. Belum lagi kejadian malam itu bersama Bagas, Gavin seakan di perlihatkan semua kesalahannya.


"Lebih baik kamu tetap di sini. Karena kamu akan lebih aman. Untuk kejadian malam ini, aku janji tidak akan terulang lagi." ujar Gavin kepada Lala dengan penuh keseriusan. Tentu saja Lala kembali terkejut. Malam itu, Gavin benar benar menampakkan sisi lain dari kepribadiannya yang selama ini di kenal oleh Lala.


Belum sampai Lala menjawab ucapan Gavin, pria itu kembali bersuara, tapi kali itu Gavin meminta pertolongan kepada Lala.


"Jika kamu masih berkenan tinggal di sini, ada satu permintaanku," cakap Gavin.

__ADS_1


"Permintaan? Permintaan apa Tuan?" tanya Lala.


"Aku mohon jangan ceritakan kejadian malam ini pada Bunda, cukup kita berdua saja yang tahu. Aku juga sudah memberi pelajaran kepada temanku. Selain itu aku juga sudah memberinya ganti rugi sepuluh juta kepada dia karena dia merasa tidak terima saat aku hajar," ungkap Gavin.


"Apa? Se-sepuluh juta Tuan? Itu banyak sekali," sahut Lala dengan mulut menganga. Sampai detik itu bahkan dia belum pernah memiliki atau bahkan sekedar melihat uang dengan nominal sepuluh juta.


"Uang itu tidak seberapa di banding dengan harga diri kamu yang akan melayang jika temanku sampai kebablasan," jawab Gavin.


Seketika hati Lala luluh lantak mendengar pernyataan itu. Pria yang selama ini dia anggap sebagai pria yang paling menjengkelkan, ternyata mau berkorban materi sebanyak itu untuk dirinya. Belum lagi jika di tambah dengan uang yang kemaren Gavin berikan kepada mantan suaminya dan juga yang Gavin keluarkan untuk biaya berobat ketika sakit. Mengingat semua kebaikan itu, mendadak Lala menjadi orang yang paling banyak hutang kepada sang majikan. Dengan apa lagi dia membayar semua hutang itu jika bukan dengan pengabdian. Karena, untuk membayarnya dengan uang, dia tidak akan mampu.


"Terima kasih Tuan, sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih. Saya tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan Tuan sekeluarga. Yang bisa saya lakukan hanya mengabdi pada keluarga ini. Saya bersedia kerja di sini tanpa di gaji, hingga pengabdian saya setara dengan semua nominal uang yang sudah Tuan keluarkan." ujar Lala sembari menundukkan kepala.


"Jadi, kamu masih bersedia tetap tinggal di sini?" tanya Gavin dengan begitu semangat, kemudian Lala pun mengangguk. Setelah mendapat jawaban dari Lala, Gavin merasa lega. Setidaknya, jika nanti kedua orang tuanya pulang, dia tidak akan mendapat masalah baru. Setelah berbincang bincang selama tiga puluh menit, Gavin kemudian menyuruh Lala untuk segera masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Sementara dirinya juga kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Setelah tiba di kamarnya, Gavin merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kasar. Matanya belum bisa terpejam, tetapi malam itu semua beban pikiran yang selama ini mengganggunya mendadak hilang. Hatinya terasa lega dan bercampur bahagia. Akan tetapi, dia sendiri juga belum mengerti apa yang membuatnya merasa bahagia? Apakah mungkin Gavin mulai tertarik pada Lala?

__ADS_1


__ADS_2