Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Pertanyaan Konyol


__ADS_3

Sejak pagi itu, Lala kepikiran dengan tingkah aneh sang majikan. Ingin merasa senang, tapi dia takut kePEDEan. Ingin melupakan begitu saja, tetapi kalimat dan senyuman sang majikan masih terngiang di memory.


"Sudahlah Lala, lupakan!" tegur Lala kepada dirinya sendiri.


Waktu terus berjalan dan hari telah berganti sore. Entah mengapa, Lala merasa deg degan menanti kedatangan sang majikan. Dia begitu penasaran, sikap baik majikannya tersebut hanya berlaku pagi itu, atau akan terulang pada sore hari. Jika berubah, mungkin benar jika pagi tadi majikannya memang kesambet. Tetapi jika sikapnya sama, Lala pasti akan semakin di buat penasaran.


Sudah mulai terdengar deru mobil di halaman rumah, dan bisa di pastikan itu adalah mobil Gavin. Lala melihat dari balik tirai, dan dia berniat mencari tahu bagaimana reaksi majikannya sore itu, dengan cara menyambutnya ketika sudah masuk ke dalam rumah.


"Selamat sore Tuan," sapa Lala sembari menundukkan kepala.


Hingga lima detik menunggu, Lala belum mendapat jawaban. Dia pun juga belum berani mengangkat kepalanya. Sehingga otaknya mulai berpikir jika mungkin majikannya sudah kembali ke sifat aslinya yang dingin. Namun, mendadak dia di kejutkan oleh satu kalimat dari sang majikan.


"Eh, maaf lama jawabnya. Saya sedang membalas chat teman saya. Selamat sore juga,"


Degh, jantung Lala kembali di buat berdetak tidak karuan mendengar jawaban itu. Bukan hanya menjawab sapaannya, tetapi Gavin juga sempat mengucapkan kata maaf. Sungguh ucapan langka yang tidak pernah di duga oleh Lala sebelumnya. Karena terlalu terkejut mendengar ucapan sang majikan, Lala tidak mendengar jika Gavin kembali bersuara.


"Oh ya, malam ini akan ada teman temanku yang main ke rumah. Jadi tolong bereskan ruang tamu dan kamar tamu, karena kemungkinan mereka akan menginap." titah Gavin kepada Lala. Namun sayangnya, janda muda itu masih mematung dan tidak mendengar titah itu.

__ADS_1


"Lala, Lala, kamu baik baik saja kan?"


Sontak pertanyaan itu semakin membuat Lala gelagapan dalam menjawab.


"Iiii-ya Tu-tuan, sa-saya baik baik aja," jawab Lala belepotan.


"Kalau gitu, kamu dengar apa tidak perintah saya tadi?" tanya Gavin kemudian.


"Perintah? Ma-maaf Tuan, perintah yang mana?" Tanya Lala dengan ragu. Tentu dia sangat khawatir jika sampai mengundang kemarahan sang majikan karena dia tidak mendengarkannya. Akan tetapi, lain dari yang di duga oleh Lala, Gavin sama sekali tidak marah, bahkan dia mengulang kembali perintahnya dengan suka rela.


"Benar benar sulit di percaya," ujar Lala dalam hati ketika majikannya sudah menutup pintu kamarnya. Karena tidak mau membuat kesalahan, Lala segera melaksanakan perintah sang majikan untuk membersihkan ruang tamu serta kamar tamu.


Satu ruangan sudah berhasil Lala kerjakan dalam hitungan menit, karena memang ruang tamu itu selalu di bersihkan Lala setiap hari. Kini, dia tinggal menuju ke kamar tamu untuk dia bersihkan. Namun, mendadak muncul pertanyaan di benaknya ketika dia mulai memasuki kamar tersebut.


"Katanya Tuan mau ada tamu dan mau nginap? Kira kira tamunya cowok apa cewek ya? Jangan jangan cewek? Kalau iya, berarti yang membuat Tuan berubah sikap mungkin karena dia terlalu bahagia menyambut tamunya ini? Apa benar begitu? Apa itu artinya tamu yang akan datang malam ini begitu spesial untuk Tuan Gavin? Jadi, dia baik padaku itu karena ini,"


Pertanyaan pertanyaan konyol itu mulai muncul di benak Lala. Akan tetapi, entah mengapa di hatinya muncul kekecewaan ketika dia berpikir bahwa tamu majikannya itu perempuan. Apa mungkin Lala merasakan cemburu?

__ADS_1


"Tidak. Jangan gila Lala! Kamu benar benar akan gila jika sampai jatuh cinta pada laki laki seperti itu!" Lala menjawab sendiri pertanyaan yang dia ciptakan sendiri.


Setelah lima belas menit berada di dalam kamar itu, Lala pun keluar karena semua tugasnya sudah selesai. Dia kembali ke belakang, untuk menanti jika sewaktu waktu majikannya memberinya tugas lagi.


Hari sudah mulai gelap, dan nampak Gavin keluar dari kamar. Tak berselang lama, terdengar bel berbunyi dari arah pintu. Dan ketika Lala hendak melangkah untuk membukakannya, Gavin justru menahannya.


"Tidak perlu kamu buka, biar aku sendiri yang menyambutnya!" titah Gavin kepada Lala.


"Baik Tuan," jawab Lala sembari menundukkan kepala. Pertanyaan dalam kepalanya kembali bermunculan ketika majikannya terlihat begitu antusias menyambut tamunya.


"Masak iya, kalau tamunya laki laki dia nampak begitu bersemangat seperti itu?" Tanya Lala dalam hati. Dan ketika baru saja pertanyaan itu muncul di kepalanya, tak lama kemudian jawaban pun muncul ketika Gavin mengajak teman temannya masuk.


"Ayo masuk Bro, udah jangan sungkan sungkan!"


Glek!


"Astaga, tamunya semua cowok? Jangan jangan? Tuan Gavin itu tidak normal?" Dugaan Lala semakin konyol mengenai Gavin. Tetapi, karena tidak mau membuat kesalahan dan takut jika mengganggu acara majikannya, Lala lekas ke belakang dan tidak keluar jika tidak di panggil.

__ADS_1


__ADS_2