Dinikahi Majikan Arogan 3

Dinikahi Majikan Arogan 3
Rencana


__ADS_3

Gavin mempersilahkan teman temannya untuk duduk, kemudian dia mulai mengambil beberapa jamuan yang sudah dia persiapkan sejak tadi siang dan telah dia simpan di dalam lemari es. Ketika mengambil jamuan tersebut, dia melihat Lala duduk di kursi tempat makan untuk para asisten rumah tangganya di dapur. Dengan ramah, Gavin pun kembali menyapa. Tetapi, sebelum pria itu bertanya, Lala sudah gugup duluan ketika majikannya tersebut masuk ke area dapur menuju ke lemari es.


"Kenapa kamu masih duduk di situ? Lebih baik kamu masuk ke kamar dan beristirahat!" seru Gavin kepada Lala.


"Emm, apa Tuan sudah tidak memerlukan bantuan lagi?" tanya Lala dengan sedikit kaku.


"Tidak, kamu pergi saja ke kamar kamu. Kalau butuh sesuatu, nanti aku samperin ke sana," sahut Gavin. Mendengar perintah majikannya yang terdengar hangat di telinga dan jiwa, Lala pun lekas beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan menuju kamarnya. Meski berbagai macam pertanyaan masih bermunculan di kepalanya mengenai sikap sang majikan, tetapi Lala berusaha untuk berpikir positif. Mungkin saja memang majikannya sudah benar benar berubah.


"Bodo amat lah, apapun alasan dia. Mau dia normal atau nggak normal, yang penting dia udah berubah menjadi lebih baik!" gumam Lala sembari berjalan menuju ke kamar. Dan setelah tiba di kamarnya, dia lekas membuka pintu, lalu kembali menutup dan menguncinya. Mengingat ada beberapa pria yang sedang berada di rumah sang majikan. Meski Gavin sudah merubah sikapnya, tetapi dia tetap harus waspada dan hati hati.


Melihat Lala sudah kembali ke kamarnya, Gavin tersenyum simpul. Entah apa yang membuatnya bahagia dengan keadaan itu, tetapi rupanya semua itu merupakan bagian dari rencananya malam itu.


"Yes, perfect!" ujarnya sambil membawa beberapa botol minuman dari dalam lemari es.


"Wih, seru nih!" seru Bagas ketika melihat Gavin mendekat sambil membawa beberapa botol minuman di tangannya. Bukan hanya minuman, tetapi Gavin juga telah menyiapkan berbagai macam makanan kecil sebagai pelengkap malam mereka. Usai menyiapkan semua minuman dan makanan, yang terakhir Gavin kembali ke dapur untuk mengambil beberapa gelas kecil untuk menuang minuman tersebut. Dan setelah semua tersaji, barulah mereka memulai acara malam itu.


"Silahkan bro, kalian minum sepuasnya. Kalau kurang, biar aku tambah lagi," ujar Gavin kepada Bagas dan teman temannya.


"Siap bro, makasih sebelumnya." sahut Bagas sembari mengacungkan kedua jempolnya.

__ADS_1


"Sama sama, tapi kamu ingat kan apa tugas kamu malam ini?" tanya Gavin kepada Bagas.


"Beres!" jawab Bagas dengan menggerakkan tangannya ke posisi hormat. Setelah itu, mereka mulai menikmati minuman memabukkan yang sudah Gavin hidangkan. Karena ternyata, Gavin sengaja mengundang kawan kawan lamanya untuk berpesta miras.


Botol demi botol telah terbuka dan isinya sudah mulai membuat kewarasan mereka menghilang. Bungkus bungkus makanan kecil juga mulai berserakan. Dan di saat itulah, Gavin meminta Bagas untuk melancarkan aksinya.


"Sekarang saatnya kamu melakukan tugas kamu Bro!" titah Gavin kepada Bagas.


"Siap Bos," jawab Bagas. Pria itu kemudian mulai berdiri lalu berjalan dengan sempoyongan.


Setelah menjauh dari ruang tamu, rupanya Bagas berjalan menuju ke kamar Lala. Beberapa waktu lalu ketika Bagas masih sadar, Gavin sudah menunjukkan dimana letak kamar Lala. Untuk apa Bagas menuju ke kamar Lala?


"Sepertinya itu Tuan Gavin, mungkin dia membutuhkan bantuan," ujar Lala dan kemudian dia lantas berdiri untuk membukakan pintu. Tak lupa juga, dia pasang wajah ceria penuh senyuman menyambut sang majikan. Namun, setelah pintu kamar itu dia buka, Lala melihat satu wajah asing di balik pintu.


"Halo cantik, belum tidur?" tanya Bagas dengan mulut beraroma minuman keras.


"Ya Tuhan, siapa pria ini? Dan mau apa dia kemari?" tanya Lala dalam hati dengan panik.


"Ma-maaf, anda siapa? Dan kenapa anda mencari saya?" tanya Lala dengan bibir gemetar dan kepala tertunduk.

__ADS_1


"Jangan tegang gitu dong, santai aja. Boleh aku masuk?" tanya Bagas sambil melangkah masuk ke dalam tanpa menunggu persetujuan Lala.


"Mau ngapain anda masuk ke kamar saya?" tanya Lala semakin panik. Apalagi ketika Bagas mendorong tubuhnya hingga menempel di dinding.


"Udah aku bilang, jangan tegang! Santai aja, aku cuma mau kenal dekat aja sama kamu, " jawab Bagas dengan mengeluarkan senyum buayanya. Tubuhnya semakin mendekat ke arah Lala, sehingga tubuh keduanya hampir saja merekat.


"Tolong menjauhlah. Jangan seperti ini!" bentak Lala sembari memalingkan wajahnya dengan bibir gemetar. Bukannya menjauh, Bagas justru semakin mendekatkan ujung hidungnya ke leher Lala, sehingga sontak membuat janda itu melayangkan tendangan ke pangkal paha pria mabuk tersebut.


Buughhh,


"Aww. Sakit... Kurang a-jar! Sini kamu!" seru Gavin sambil menarik paksa lengan Lala yang hendak berlari keluar kamar. Lala berusaha memberontak untuk melepaskan cengkeraman tangan Bagas, tetapi pria itu terus manariknya. Bahkan dia mendekap tubuh Lala dari belakang, lalu menghempaskannya ke kasur dengan kasar. Dengan bringas Bagas pun ikut naik ranjang tersebut. Dia kunci kaki Lala agar tidak bisa melawan dan berlari, setelah itu dia mulai menjamah bagian inti dari tubuh Lala.


"Tolooong, tolooong...." teriak Lala meminta tolong, tetapi Bagas malah menertawakan permintaan tolong tersebut.


"Teriaklah sekencang kencangnya. Karena tidak akan ada yang menolongmu! Haa...ha...ha..." Sahut Bagas dengan tangan yang terus berusaha menjamah area inti tubuh Lala dan juga area dada. Tepat di saat dia hendak menyingkap pakaian yang di kenakan oleh Lala, mendadak ada satu hal yang tidak di duga oleh Bagas. Karena pada saat itu, dia merasa ada yang menarik tubuhnya dari belakang, lalu memberinya tamparan berkali kali di wajahnya.


Plaaakkkk....plaaakkkk...


"Lancang sekali! Kamu apakan dia?" geram Gavin sambil mencengkeram kerah baju Bagas menggunakan satu tangan, sementara tangan satunya terus memberikan tamparan kepada pria mabuk tersebut.

__ADS_1


__ADS_2