
Sungguh Bang Drajat juga ikut terpukul. Ingin rasa dirinya memeluk Gizha namun posisinya saat ini menjadi serba salah. Tubuhnya panas dingin, kepalanya mendadak pusing.
"Ardhan.. antar saya ke mess transit." Pinta Bang Drajat.
"Mau saya antar Jat?" Tanya Bang Gumarang.
"Nggak Bang, terima kasih." Jawab Bang Drajat kemudian berdiri tapi kemudian dadanya terasa sesak seakan ada yang menekannya. Bang Drajat hanya bisa memercing sekuatnya.
"Jaat..!!!" Bang Gumarang ikut menyangga tubuh Bang Drajat.
"Bisakah kita selesaikan semua ini sekarang juga??? Jangan membiarkan masalah ini berlarut-larut, sekali sakit dan langsung cari jalan keluarnya. Kita laki-laki masih bisa menahan diri meskipun sedikit memaksa, tapi para bumil tidak akan kuat.. mental mereka akan tertekan, kehamilan mereka masih sangat muda dan kemungkinan besar akan terganggu." Kata Bang Drajat.
"Aku butuh udara segar." Selangkah Bang Drajat berjalan, Bang Erlang segera berdiri dan menghadang langkahnya.
"Kita laki-laki. Kita sudah terlanjur membuat kesalahan fatal ini. Dua perempuan sudah hamil. Suka atau tidak, kita harus selesaikan, bertanggung jawab dan mencari solusi atas perkara yang sudah kita buat."
"Yang kuharapkan datang pada istriku Gizha, bukan Disha yang datang dengan cara seperti ini. Jika dia menyadari salahnya.. seharusnya dia katakan kalau Gizha sedang mendapat masalah dan bukan hanya diam. Bahkan dia tidak menolak saat aku mengajaknya berhubungan badan, taukah seberapa banyak aku menyentuhnya????" Bang Drajat begitu sakit hati dengan ulah Disha.
Disha mendekat dengan isak tangisnya. Ia berdiri di hadapan Bang Drajat. "Disha minta maaf Mas, semua masalah ini memang berawal dari Disha tapi sungguh tidak ada niat Disha membuat semuanya menjadi runyam. Disha mengikuti permintaan Gizha agar tidak bicara apapun sama Mas. Soal kita, Disha hanya tidak tau bagaimana cara menolak Mas Drajat saat mendekati Disha."
"Apapun alasanmu Disha, semua tidak bisa di benarkan." Bentak Bang Drajat. "Aku sangat menyesal pernah mengenalmu."
"Sebaiknya nanti kita lanjut di rumah saya. Ini masalah pribadi. Tidak enak kalau sampai masalah ini tersebar dan para anggota tau." Saran Bang Erlang.
...
Bang Erlangga menyandarkan tubuhnya yang lelah. Sejak tadi ia menahan rasa sesak dan ribuan hujaman rasa sakit di dalam dada.
'Kenapa harus seperti ini dek. Abang sungguh mencintaimu, menjagamu dan tulus dari lubuk hati terdalam ingin menghalalkan mu.'
Flashback Bang Erlang on..
"Nggak mauuuu.. takuuuuutt..!!" Tolak seorang gadis sangat takut meluncur dari atas tower rapling.
Bang Erlangga tersenyum kecil melihat ketakutan gadis yang baru saja masuk SMK otomotif itu.
"Ini lagi, ayo meluncur..!!" Kata seorang pelatih bela negara.
"Hssstt.."
"Siap Dan.." Anggota tersebut bereaksi saat Bang Erlang menyapanya.
"Yang itu bagian saya.. minggir kalian semua..!!" Perintah Bang Erlang.
__ADS_1
"Siap."
Bang Erlang berdiri dan melihat wajah ketakutan gadis bernama dada Argizha.
"Tidak ada pengecualian, mau laki atau perempuan.. seluruh peserta bela negara wajib turun rapling..!!" Perintah tegas Bang Erlang.
"Nggak.. nggak.. Gizha nggak mau." Tolak Gizha.
Bang Erlang melipat bibir menyimpan senyum tampan menanggapi gadis yang menyebut namanya sendiri, bernada lembut manja. Ia baru tau ada seorang gadis berkulit putih tanpa noda terselip di sekolah otomotif yang notabene akan bermandikan oli.
"Kamu tidak salah jurusan Non?" Tanya Bang Erlang.
"Nggak, Gizha pintar memperbaiki mobil-mobilan milik anak tetangga." Jawab Gizha.
Bang Erlang menunduk menyimpan tawa geli. "Berarti kamu pandai memperbaiki mainan anak kita." Gumam Bang Erlang.
"Apa??" Gizha tak begitu mendengar apa yang di ucapkan Bang Erlang.
"Nggak.. sepertinya untuk dua tahun ke depan kamu adalah murid saya." Kata Bang Erlang dengan senyum licik.
"Maksudnya??" Mata Gizha masih membulat bingung.
Bang Erlang membuka penutup nama dadanya.
"Aaaaaaaaaaaa..." Gizha kaget dan berteriak ketakutan. Ia meronta-ronta panik.
Dengan cepat Bang Erlang meraih tangan Gizha lalu menariknya ke dalam pelukan. "Diam atau badanmu remuk karena jatuh di tanah..!!"
Gizha terdiam, meringkuk dalam pelukan Bang Erlang. Tanpa sadar tangannya menyentuh dada bidang pria tersebut. Ada semerbak wangi freshwood maskulin yang begitu menenangkan.
"Masih mau di peluk?" Tegur Bang Erlang karena Gizha masih bersandar dan meraba dadanya.
"Maaf.. Pak Guru."
"Pak Guru.. panggil saya Mr. Alter."
"Ba_baik Mr Alter." Jawab Gizha gugup karena kini dirinya berhadapan dengan pria yang akan menjadi gurunya. Guru rekomendasi dari pihak sekolah karena pria tersebut sangat lihai dalam jurusan otomotif. Gizha melepaskan rangkulannya dan menunduk tak berani balik menatap pandangan Bang Erlang yang terus mengarah padanya.
"Bedakmu tidak rata. Kamu dandan pakai tepung cireng?" Ledek Bang Erlang.
Seketika raut wajah Gizha berubah, baru kali ini ada pria yang mengatai dirinya.
Bang Erlang pun meninggalkan Gizha yang masih cemberut padanya.
__ADS_1
'Aduuh ayune, yen ora sadar Gizha isih bocah, mesthi wis tak lamar.'
...
"Salah apa lagi sih Pak, perasaan saya salah melulu deh." Protes Gizha yang sudah lelah karena terus mendapat poin salah dari Bang Erlangga.
"Panggil pelatih.. kalau disini saya ini pelatihmu..!!" Kata Bang Erlang yang sama sekali tidak membuka identitasnya sebagai seorang tentara.
"Iyaaaa.. pe-la-tih." Gizha mengeja kata itu dengan rasa jengkel.
"Karena tali sepatumu warna putih, jadi.. pertama kamu harus mengambil sebatang rokok milik setiap om-om pelatih.. khusus om-om pelatih bantuan dari tentara tanpa ketahuan. Kedua kamu harus merayu seorang pelatih yang kamu anggap tampan." Perintah Bang Erlang.
"Haaaaahhh.. nggak mau." Tolak Gizha.
"Ini perintah, bukan tawaran.. Cepat kerjakan sekarang juga..!!"
:
Dengan susah payah, mengupayakan segala cara.. akhirnya Gizha berhasil mengambil enam bungkus rokok dari enam orang anggota Bang Erlang.
Dari jauh Bang Erlang hanya tertawa saja melihat kekonyolan Gizha yang membuatnya merasa terhibur dengan segala kepolosan gadis itu.
Gizha berlari menuju tempat Bang Erlang duduk dan bersandar menikmati rokoknya.
"Bagus sekali caramu.. bisa bisanya punya akal sebatang ranting di beri getah nangka lalu kamu gunakan untuk mengambil bungkus rokok. Saya curiga kamu antek-anteknya MacGyver." Kata Bang Erlang yang selalu meledek Gizha.
"Nggak usah banyak bicara atau Pak guru mau saya buat puyeng?" Ancam Gizha.
"Maksudmu apa?" Tanya Bang Erlang.
"Gizha bisa buat Mr. Alter kelojotan.." Gizha merangkak mendekati Bang Erlang kemudian menyentuh dada, perlahan jemari Gizha menyusuri tubuh Bang Erlang.
"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum................"
'Gizha ini maunya apa sih, kalau begini caranya bukan kelojotan lagi.. tapi kejang.'
.
.
.
.
__ADS_1