Djiwa

Djiwa
37. Ribut.


__ADS_3

"Busyet, senja amat baby lu Jat?" Bang Erlang kaget karena saat berjemur dengan putranya, kulit bayi sahabatnya itu sedikit lebih gelap.


"Nah lu, nggak kalah Maghrib." Bang Drajat balik meledek anak Bang Erlang. "Lagian.. sadar diri donk.. masa bapaknya 'item' manis begini minta anaknya putih bersih seperti bule."


"Gue manis. Lu kali.. 'item' angus." Kata Bang Erlang.


Keduanya pun kemudian tertawa saling melirik bayi masing-masing.


"Alhamdulillah alis anakku nggak mirip Disha. Tebal sudah macam ulat bulu aja." Kata Bang Drajat.


"Sama, untung hidung anakku nggak mirip Mamanya. Pesek..!! Matanya pun mata segaris." Ledek Bang Erlang tertawa terbahak.


plooookk..


"Astagaaaa.. ulah siapa lempar sendal???" Tegur Bang Erlang dengan suara menggelegar kuat.


"Gizha..!!! Kenapa??????" Gizha berkacak pinggang di depan teras rumahnya.


"Eehh ayank.. kirain siapa?" Bang Erlang cengar cengir melihat Gizha melotot menatapnya.


"Pesek dan mata segaris?????" Gizha mengulang ucapan Bang Erlang.


"Ingat ya Bang, perkataan adalah salah satu dari lima perkara yang tidak bisa di tarik kembali dalam hidup ini. Abang sudah membuat body shaming dalam hidup Gizha juga anak Gizha." Kata Gizha.


gleekk..


Saliva Bang Erlang bagai tak tertelan saking paniknya dengan ucapan Gizha, memang apa yang dia ucapkan hanya sekedar candaan tapi ternyata hal tersebut membuat istrinya sangat kesal.


"Mak_sud Abang bukan begitu."


"Aahh sudahlah.. Gizha kesal sama Abang. Gizha mau lapor PM..!!" Ancam Gizha kembali masuk ke dalam rumah dengan berjalan sangat pelan karena belum begitu pulih pasca persalinan.


Para anggota yang membantu Bang Erlang menurunkan tenda duka cita seketika menunduk menahan tawa untuk memberi muka pada Danton yang agaknya tengah kelabakan karena istrinya sedang marah.


"Naahh.. marah khan, segala pesek di bawa-bawa. Aku saja tidak berani nyebut pesek." Kata Bang Drajat.


"Mas juga mau masuk Pos PM??" Entah sejak kapan Disha berdiri di bingkai pintu rumah.

__ADS_1


"Tau rasa lu..!!" Bang Erlang puas sekali melihat ekspresi wajah sahabatnya yang ikut panik. Ia pun segera masuk menyusul Gizha.


"Nggak dek, maksud Mas tuh meledek Erlang. Dia khan usil sekali. Sekali-kali donk Mas ledek juga." Kata Bang Drajat.


"Alasan." Disha pun masuk ke dalam rumah.


//


"Mandilah..!! Sudah berapa hari kamu tidak mandi. Demam mu juga sudah mereda..!!" Kata Bang Girish pada Rinjani.


"Seluruh keluarga hanya fokus sama mbak Gizha saja. Tidak ada yang memikirkan Rinjani apakah Rinjani masih hidup atau sudah mati." Jawab Rinjani.


"Pikiran mu memang pendek sekali. Mama mu sudah lima kali bolak balik menjengukmu tapi kamu belum sadar juga, Papa mu juga terus mengawasi mu. Lagipula apa salahnya kalau keluargamu memperhatikan kakak iparmu. Kakak iparmu baru saja melahirkan, wajar jika beliau memperhatikan menantunya." Bang Girish memberi pengertian pada Rinjani.


"Apakah melahirkan itu sesuatu yang spesial sampai keluarga harus memperhatikan Mbak Gizha secara berlebihan??" Celetuk Rinjani.


"Kamu masih anak-anak, pikiranmu mungkin tidak menjangkau sampai kesana."


"Rinjani sudah sweet seventeen om. Mana mungkin Rinjani nggak paham. Itu adalah hal yang wajar, yang akan di alami setiap wanita. Lalu apa yang harus di lebihkan, melahirkan ya tinggal keluarkan saja." Ucap Rinjani secara serampangan.


"Bicara memang mudah, apa kamu mau merasakan hamil biar mulutmu itu diam dan tidak asal bicara???" Tegur Bang Girish. "Letak kemuliaan wanita juga dari perjuangannya melahirkan anak dari suaminya. Pilihannya setengah mati atau mati."


Kening Bang Girish berkerut dan terdiam sejenak menatap sosok Rinjani. 'Rinjani ini polos atau pura-pura polos?? Masa usia tujuh belas tahun nggak paham tentang hubungan suami istri. Apa perlu di test???'


Bang Girish menutup pintu kamar dan menguncinya rapat kemudian membuka kaos lorengnya tapi ekspresi wajah Rinjani terlihat datar saja.


'Dia anteng sekali. Waahh sudah pro nih??'.


Bang Girish merangkak ke atas ranjang dan mengecup kening Rinjani, dengan bibirnya itu ia mendorong kening Rinjani sampai berbaring telentang.


"Kamu kenapa nggak nolak saya? Apa pengen di lanjutkan??" Tanya Bang Girish.


"Apanya yang di lanjutkan?" Rinjani balik bertanya.


"Nggak usah pura-pura nggak paham. Kamu juga pengen khan?"


"Pengen apa sih Om. Sudah aahh.. Ini sudah keputusan, ini juga soal harga diri. Semua Rinjani samakan, kalau mau di urut sama Rinjani.. Om harus bayar dulu seratus ribu per tiga puluh menit. Rinjani nggak mau di bayar lima puluh ribu lagi. Om tau nggak harga kopi kejiwaan sama roti kopi saja sudah naik, masa uang saku Rinjani nggak naik??" Protes Rinjani.

__ADS_1


"Maksudmu opo???" Kini Bang Girish bingung dengan arah pembicaraan Rinjani.


"Mulai cutinya Bang Erlang tahun lalu, tarif urut yang Rinjani tetapkan adalah seratus ribu rupiah per tiga puluh menit..!! Kira-kira Om ada uang nggak????" Ledek Rinjani meremehkan.


Bang Girish berdehem melihat wajah meyakinkan namun begitu lugu dengan segala kecongkakannya. Bang Girish menyimpan senyumnya, ia mengambil dompet di saku celana lorengnya lalu mengambil lima lembar uang merah lali melipatnya dua lembar dan menyelipkan di giginya. "Ambil dua lembar ini pakai bibirmu, nanti tiga sisanya akan jadi milikmu..!!" Pinta Bang Girish mengajak Rinjani bercanda.


"Okee.. siapa takut..!!"


Bang Girish terkejut tanpa persiapan apapun Rinjani sudah naik di atas paha Bang Girish dan langsung menghambur padanya. Syoknya Bang Girish membuat dua lembar uang tersebut terlepas, hanya kedua bibir yang saling berjumpa.


Keduanya pun saling menatap, ada rasa aneh berdesir di dada Rinjani. Tubuh Bang Girish seketika merespon hal tidak terduga.


"Om Gi jadi di urut?" Tanya Rinjani menghalau rasa yang tidak ia mengerti.


"Jangan lakukan hal seperti ini di depan laki-laki lain kecuali Abangmu..... dan saya..!!" Kata Bang Girish.


"Memangnya kenapa Om? Rinjani cuma cari uang untuk beli sesuatu. Kalau laki-laki pasti bayarnya mahal khan."


"Siapa saja laki-laki yang sudah membayar mu??? Biar kupatahkan batang lehernya...!!" Ancam Bang Girish.


"Ya baru Om Gi aja. Memangnya kenapa sih?? Jadi tukang urut khan halal. Mbah Sarti saja tukang urut laki-laki di kampung belakang saja banyak uang karena ramai." Oceh Rinjani.


"Kalau kamu yang jadi tukang urut.. pelangganmu bisa saling bacok, saling tikam, baku hantam..!! Bukannya otot jadi waras.. malah jadi kaku." Omel Bang Girish.


"Mana yang kaku Om? Coba Rinjani lihat..!!"


Bang Girish sampai melotot mendengarnya. "Ojo..!!"


"Kenapa?? Rinjani bisa." Kata Rinjani dengan lugunya.


"Ojoo.. Kowe sawan girap-girap, aku sing ajur." Jawab Bang Girish mulai tidak tenang.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2