Djiwa

Djiwa
22. Ribut.


__ADS_3

Kecanggungan juga terasa pada diri Bang Drajat. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk saja menemani Disha tapi tangannya terus mengusap perut gadis yang mendadak masuk dalam kehidupannya.


"Mas nggak mau ngopi dulu? Biasanya jam segini Mas ngopi." Tanya Disha.


"Mas nggak lagi kerja, jadi nggak perlu ngopi. Disini saja menemani kamu." Jawab Bang Drajat.


Disha mengangguk. "Disha tidak memaksa, kalau Mas bosan.. keluarlah Mas..!!" perasaannya kini datar saja.. sudah tidak seperti dulu, rasa itu seakan musnah saat Bang Drajat memintanya untuk menggugurkan kandungan.


Bang Drajat pun merasa ada yang berubah dari diri Disha, tidak seperti biasanya. Disha yang ia kenal kini jauh lebih kalem nyaris menyerupai Gizha.. mungkin karena mereka kembar identik jadi nyaris seluruhnya sama.


"Apa tidak boleh kalau Mas disini saja?" Tanya Bang Drajat.


"Silakan kalau Mas tidak keberatan."


Baru kali ini Bang Drajat merasakan hatinya begitu sakit perkara hal yang tidak ia pahami.


***


Disha sudah tidur dan Bang Drajat perlahan keluar dari kamar rawat. Sengaja Ayah Rojaz meminta kamar tidur putrinya di pisahkan namun tetap dengan penjagaan super ketat.


Tanpa suara Bang Drajat berjalan melewati Prada Ardhan yang sudah mendengkur di kursi ruang tunggu, begitu pula dengan Prada Along yang tertidur dalam keadaan sleep call dengan kekasihnya.


Bang Drajat mengintip Gizha yang terlihat tidur nyenyak dalam pelukan Bang Erlang. Ada nyeri menghujam jantung tapi dirinya harus ikhlas dan tegar. Hanya dirinya dan Tuhan saja yang tau perasaannya saat ini.


'Kalau kamu bahagia, Mas juga bahagia dek. Erlang bukan orang sembarangan, dia akan melindungi dan menyayangimu.. Maafkan Mas yang tidak peka dengan keadaan sampai kamu terlepas dari pelukanku.'


:


Melihat Gizha sudah tidur nyenyak, Bang Erlang keluar dari kamar. Meskipun terlihat tenang tapi hatinya sama sekali tidak merasa tenang. Ia pun seorang pria dan pastinya paham bagaimana cara pria mencintai wanitanya. Terlepas dengan cara seperti ini tentu saja tidak semudah itu untuk melupakan.


'Tidak mungkin tidak ada sisa rasa dalam hati Drajat untuk Gizha. Aku harus lebih keras menjaga keutuhan rumah tanggaku meskipun darah dan nyawa taruhannya.'


Bang Erlang menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan kasar.


"Sabar Lang, menyembuhkan luka di hati istrimu juga tidak mudah. Bagaimana pun juga Gizha pernah mengandung janin pria lain." Gumamnya menyemangati dirinya sendiri. "Slow.. jangan emosii.. hhhfffffff."

__ADS_1


Secepatnya ia membakar sebatang rokok di jemarinya dan menghisapnya mengalihkan pikiran yang tak karuan. Bang Erlang setengah memejamkan matanya merasakan perutnya sedikit teraduk dan merasakan mual.


\=\=\=


Satu minggu kemudian.


Gizha sudah bisa beraktivitas. Mual dan muntah yang ia rasakan perlahan memudar. Gizha pun bisa memasak masakan request suami tercinta. Tahu, tempe bumbu rica super pedas dan tumis kangkung.


//


Bang Erlang berdiri sekuatnya menahan mual yang mengaduk-aduk isi lambungnya. Keringat dingin mengucur membasahi kening dan menetes membasahi pelipis.


Konsentrasi Bang Erlang nyaris buyar di terpa teriknya sinar matahari. Tak lama apel pagi pun usai. Bang Drajat segera menghampiri sahabatnya.


"Kenapa Dob??"


"Nggak enak badan. Tolong pasang tato Jawa donk..!!" Pinta Bang Erlang karena badannya benar-benar terasa lemas.


Bang Drajat segera menopang tubuh Bang Erlang dan membawanya ke tempat yang teduh. "Ada koin nggak?" Tanya Bang Drajat.


"Ada.. di saku celanaku Pit..!!" Jawab Bang Erlang kemudian duduk dan menelungkupkan kepala di sisi pot bunga.


"Atas..!!"


Tak membuang banyak waktu Bang Drajat segera merogoh saku celana Bang Erlang. Posisi mereka ambigu sampai dari jauh terlihat daun bergoyang-goyang.


"Angkat badanmu sedikit Lang, celanamu ketat sekali..!!" Pinta Bang Drajat.


"Masukan lagi tanganmu..!!"


"Disini???" Tanya Bang Drajat masih merogoh saku tersebut sampai tak sadar posisi Bang Erlang sudah berbaring terlentang dan Bang Drajat masih merogoh saku sedikit mengambang di atas tubuh sahabatnya.


"Jangan nyenggol kerisku g****k..!!!" Protes Bang Erlang.


"Lagian kamu.. ini bukan saatnya asah keris, kamu naf_su lihat aku ya????" Tuduh Bang Drajat cemas, ia ingin beralih tapi salah posisi dan akhirnya jatuh menimpa Bang Erlang karena tangannya tersangkut di saku celana.

__ADS_1


"Jaaatt.. aku masih waras, masih doyan perempuan.. jangan-jangan kamu yang nyeleweng..!!" Bang Erlang ikut panik apalagi tangan Bang Drajat masih berada di sana. "Aseeemmm... Singkirkan tanganmu.. aku iso im***en ndadak..!!!!!!" Pekik Bang Erlang.


Keributan mereka berdua di balik sebatang pohon menarik perhatian Bang Gumarang, para rekan serta para ajudan. Bang Gumarang pun mendekatkan sumber keributan tersebut.


"Astagfirullah.. apa yang kalian lakukan??????" Tegur Bang Gumarang.


:


"Sakiiit Baaaaang..!!!" Pekik Bang Erlang yang akhirnya di tangani sendiri oleh Abang iparnya.


"Jago berkelahi tapi tidak kuat di keroki, apa kamu ini???" Ledek Bang Gumarang. "Macam-macam saja kelakuan kalian.. bagaimana kalau orang lain jadi salah menerka?????"


"Hhhkkk.." Bang Erlang menunduk kembali mengeluarkan isi perutnya. Kerongkongannya terasa begitu pahit. "Hoooeekkk.."


Prada Along terus memijati tengkuk Dantonnya.


"Ngidam ya Lang?" Tanya Bang Gumarang.


Bang Erlang hanya mengibaskan tangan tak paham dengan maksud Abang iparnya.


"Ini namanya kamu ngidam le, istrimu hamil.. kamu yang mual." Kata Bang Gumarang.


"Nggak paham aku Bang." Jawab Bang Erlang masih terfokus pada perutnya yang melilit tak karuan.


Bang Gumarang pun terfokus pada pekerjaannya 'menggaruk' punggung Bang Erlang.


"Loong.. tolong belikan saya kinde* Jo* donk..!!"


"Ya Tuhan.. kamu mau balapan jajan sama bontotnya Abang??" Ledek Bang Gumarang.


"Ya sudah.. telur gulung saja..!!" Pinta Bang Erlang terbawa gengsi.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2