
Karena terlalu jengkel, Bang Erlang menarik sapu tersebut. Tak ada tenaga besar yang di pakainya namun tenaga seorang ibu-ibu tak akan mampu menandinginya. Seorang Gizha yang masih sehat saja tak mampu melawannya apalagi seorang ibu-ibu tua.
Ibu Ratna terseret kesana kemari oleh tarikan Bang Erlang namun ibu masih ngotot ingin memegang sapu tersebut.
"Umaar.. Umaaaarr..!!!!!!!!!!" Teriak ibu dengan suara melengking.
Praka Umar datang berlari dan tergopoh-gopoh, mimik mukanya panik melihat Bang Erlang menatapnya penuh dengan ancaman.
"Ikut saya ke ruangan..!!" Perintah Bang Erlang.
"Heeehh.. beraninya kau memerintah menantuku. Apa kau tidak tau kalau dia ini senior???? Hanya aku yang boleh memerintah dia..!!!!" Kata ibu Ratna.
Bang Erlang tak menggubris dan terus berjalan namun ibu Ratna tak terima dan merasa terhina dengan sikap Bang Erlang yang terkesan kurang ajar padanya.
Melihat Bang Erlang seakan tak menggubris dirinya, Ibu Ratna kembali mengayunkan sapu dan menghantam ke arah kepala Bang Erlang tapi Prada Along menahannya.
"Ijin Bang, tolong ibunya di bawa demi keamanan ibu sendiri..!!" Pesan Prada Along.
Praka Umar peka situasinya sedang tidak menguntungkan. Ia segera membawa ibu mertuanya jauh dari tempat tersebut namun ternyata sang ibu mertua menolak mentah-mentah.
__ADS_1
"Kamu jangan kurang ajar ya Umar. Kalau kamu nggak mau nurut dengan saya, kamu pisah saja dengan Ratna. Sudah ada dua laki-laki yang tidak bersyukur mendapatkan anakku, apa kamu akan mengulang kebodohanmu juga?????" Bentak ibunya Ratna.
"Tapi ibu salah." Kata Praka Umar.
"Apa salahnya?? Aku mencari menantu laki-laki yang banyak uang, yang bisa menghidupi putriku dengan layak, yang bisa membuat pandangan matanya percaya diri karena hartanya. Untuk apa saya menikahkan Ratna dengan pria yang tidak punya harta. Buka matamu Umar..!! Pangkat si Drajat dan di Erlang itu di bahu, itu tandanya mereka masih memikul beban sebagai bawahan, pangkatmu saja sudah di lengan, itu tandanya bebanmu sudah di angkat mereka sebagai bawahanmu..!!" Teriak ibu dengan nada sok pintar.
"Ya Allah ibu.. dengar saya bicara Bu........"
"Alah, kalau kamu takut biar ibu saja yang hadapi..!!" Ibu melangkah menuju ruangan Bang Erlang.
Disana Bang Drajat hanya menggeleng dan mengelus dada melihat kelakuan ibu dari mantan kekasihnya. 'Sudahlah.. aku tidak mau tau kalau sudah berurusan dengan Erlang. Begitulah Doberman kalau sedang mengamuk. Pria dengan julukan Pitbull itu memilih memantau dari jauh.
:
"Sebenarnya saya ini sibuk dan tidak ada waktu untuk meladeni Nini tua renta macam anda, tapi berhubung anda ini adalah ibu dari mantan kekasih saya, baiklah.. saya akan selesaikan semua masalah dan bermain tebak-tebakan lama." Jawab Bang Erlang dengan suara bass-nya yang khas. "Saya tidak akan mengingatkan penyebab kandasnya hubungan saya dengan Ratna tapi saya hanya akan membahas soal perlakuan anda pada Gizha yang saat itu masih menjadi istri dari Letnan Drajat. Gizha sedang hamil dan anda menculiknya.. di rumahnya."
"Mana ada saya begitu dan saya tidak tau kalau Gizha tinggal di rumah dinas." Ibunya Ratna menolak dugaan Bang Erlang.
"Oohh begitu ya, padahal saya tidak menyebutkan dimana alamat tinggal Gizha." Bang Erlang mematikan jawaban Ibu.
__ADS_1
"Dia menghancurkan hidup anakku, apa salah kalau aku membela anakku?? Janji Drajat saat itu akan menikahi Ratna, tapi ternyata Drajat malah menikahi Gizha." Teriak ibu di ruangan Bang Erlang.
"Hhsstt..!!" Dengan tenang Bang Erlang meletakan telunjuknya tepat di depan bibirnya agar ibu bisa lebih tenang. "Berarti tidak ada jodoh untuk mereka." Sebenarnya hatinya sangat sakit saat membahas masa lalu sang istri bersama sahabatnya namun kehormatan Gizha sepenuhnya berada di tangannya.
"Kurang apa anakku Ratna, dia sangat cantik.. dia juga pekerja keras. Hanya laki-laki buta yang tidak cinta dengan anakku Ratna. Bahkan body Ratna lebih bagus dari body istrimu Gizha itu. Kau menikahi bekas temanmu sendiri khan? Kasihan..!!" Ledek ibu Ratna.
Bang Erlang mengepalkan tangannya, batinnya sungguh teriris pedih namun ia pahami ibu hanya sedang memancing amarahnya. Jika kontrol dirinya hilang maka tidak hanya Gizha yang akan tertimpa masalah, tapi ia pun akan terseret masalah.
"Begitu ya?? Seorang wanita yang pernah bersuami tentu saja berbekas tapi berbeda dengan sosok yang di katakan gadis namun rasanya seperti pernah bersuami. Yaa.. setidaknya saya belum pernah mengincip body putri anda yang seksi itu. Oohh maaf.. itu menurut anda, tapi bagi saya ukuran body Gizha cukup dan sangat membuat saya kenyang." Jawab Bang Erlang tak lagi memandang sopan santun.
"Kurang ajar.. kau benar-benar kurang ajar. Aku akan laporkan kamu pada Kopda Ajat." Ibu mengobrak-abrik meja Bang Erlang lalu pergi meninggalkan ruangan dengan penuh percaya diri dan Bang Erlang membiarkan begitu saja.
"Astagfirullah.. Dhuuss.. wedhuuusss.. malah dadi kurve. Grandong wedhok." Gerutu Bang Erlang gemas sendiri tapi kemudian ia bersandar di kursinya dan menaikan papan nama yang sempat di serak kan ibu Ratna dan sama sekali tidak membaca jabatannya di sana. Ia mendesah berat.
Bang Erlang menengadah menatap langit-langit ruangan. "Bekas ya?? Itu kata yang terlalu menyakitkan. Tapi bagiku kamu tetaplah berlian.. berlian yang terindah. Cukup kamu mencintaiku dan tak ada lagi Drajat di hatimu.. itu sudah lebih dari sempurna sayang." Gumamnya sampai tak terasa air matanya menetes. "Abang sayang sekali sama kamu Gizha.
.
.
__ADS_1
.
.