Djiwa

Djiwa
18. Usaha keras.


__ADS_3

Gizha tersadar dan mendapati tubuhnya penuh dengan balutan perban.


"Yaaahh.." Gizha membangunkan Ayah Rojaz tapi ayahnya tidak mendengar. Hanya suara dengkur merespon panggilan Gizha.


**Cckkllkk**..


Seseorang membuka pintu kamar rawat dan Gizha berharap sosok itu adalah perawat tapi yang di lihatnya malah sosok Pak Guru killer dan menyebalkan.


"Mau kemana?" Tanya Bang Erlang.


"Tolong bangunkan Ayah." Pinta Gizha.


"Jangan, Ayahmu mungkin baru saja bisa tidur karena mencemaskan kondisimu."


"Kalau begitu tolong garuk punggung Gizha. Tangan Gizha nggak bisa gerak." Pinta Gizha lagi.


"Saya????" Bang Erlang menoleh ke arah sekitar sambari menunjuk dirinya dengan bingung.


"Memang di ruangan ini siapa yang Gizha ajak bicara?" Tanya Gizha.


Bang Erlang terdiam sejenak. 'Alaah, hanya bocah ingusan saja.. nggak akan ngaruh meskipun Gizha tanpa pakaian.'


"Ya sudah sini." Bang Erlang mendekat. Tau posisinya akan terlihat oleh Pak Rojaz, Bang Erlang pun sedikit menutup tirai.


Ada rasa ragu dalam hatinya saat akan mengangkat pakaian Gizha tapi dorongan rasa penasaran juga terasa semakin kuat.


"Jangan bilang Ayah ya..!!" Kata Gizha.


"Nggak akan. Untuk apa mengadukan hal seperti ini. Kalau tubuhmu molek seperti barbie baru saya cemas." Jawab Bang Erlang.


"Awas saja kalau Abang jatuh cinta sama Gizha." Ancam Gizha karena merasa di sepelekan.


"Kalau jatuh cinta ya menikah saja. Buat apa menahan rasa jatuh cinta. Jatuh saja sudah sakit, masa sudah cinta nggak jadi nikah." Kata Bang Erlang.


"Memangnya kalau Abang jatuh cinta berani melamar Gizha di depan Ayah dan Abang-abang Gizha??" Tantang Gizha mencibir Bang Erlang.


"Berani lah. Memangnya kenapa Abang harus tidak berani?? Kecuali kalau kamu hamil duluan karena Abang.. baru Abang cemas karena malu, di hati banyak beban. Kalau baik-baik melamar anak orang masa mau di tolak."


"Kalau di tolak Bang??" Tanya Gizha.


"Kamu cerewet sekali dek."


"Kalau di tolak ya terpaksa Abang pakai jalur prestasi. Lamaran di tolak, peluru nyasar." Jawab Bang Erlang santai.


Gizha tak paham maksud Bang Erlang dan hanya diam saja, tapi yang ia rasakan saat ini adalah tangan Bang Erlang sudah menjalar pada tubuhnya dan meremasnya kuat penuh de_sahan. Lebih parahnya lagi, Gizha tak tau sejak kapan pria itu berada satu ranjang dengannya.


"Baang.."

__ADS_1


"Jangan teriak dek..!!" Pinta Bang Erlang dengan suara berat.


"Kata Ayah nggak boleh pegang-pegang Bang."


"Abang tau Abang salah. Abang tanggung jawab. Besok pagi Abang akan melamarmu di hadapan Ayahmu langsung. Selesai sekolah, kita nikah ya..!!" Ucap Bang Erlang. Ia mendekati Gizha yang sulit bergerak lalu menyambar bibirnya.


Mata Gizha berkedip-kedip bingung tapi sesaat kemudian Bang Erlang menarik diri.


"Astagfirullah hal adzim." Bang Erlang mengusap wajahnya dan kemudian segera, pria itu tidak lagi menatap Gizha.


Gizha menyentuh bibirnya yang masih terasa aneh. Ada yang berdesir di dalam dadanya tapi ia tidak memahaminya.


***


"Ayah.. Ayah pernah nggak ciuman bibir sama Mama?" Tanya Gizha.


"Kalau mau berangkat kemanapun, Ayah selalu mencium Mama kalau pamit." Jawab Ayah Rojaz.


"Kalau Bang Katon sama Bang Gumarang??"


"Sama seperti Ayah." Jawab Bang Katon singkat.


"Hmm.. itu hal biasa." Jawab Bang Gumarang yang sedang mengambil cuti tahunannya di rumah Ayah.


"Iihh.. bukan itu. Ciuman sampai dekat, dekaatt sekali.. sampai di perut rasanya geli."


Cckkllkk..


Bang Gumarang dan Bang Katon langsung menghampiri Bang Erlang dengan senyum namun kemudian keduanya merangkul bahu kanan dan kiri Bang Erlang. Mendadak senyuman tersebut hilang. "Ikut kami..!!" Ajak Bang Gumarang.


~


"Ampuuuuunn Baaang..!!" Bang Erlang mengangkat kedua tangan tak sanggup lagi menahan hantaman kedua Abang.


"Jadi benar semalam ada maling?"


"Pagi ini memang saya datang untuk menemui Pak Rojaz. Saya akan melamar Gizha." Kata Bang Erlang.


"Alasan saja kau, sudah tertangkap basah begini baru bilang lamar. Coba kalau Gizha nggak selugu itu, pasti dia nggak cerita." Omel Bang Katon.


"Berani sekali kau menyentuh adikku. Punya berapa nyawa kau le??" Bang Gumarang mengangkat wajah Bang Erlang dengan berang. "Kau lamar pun kami nggak akan setuju. Mana ada kami restui adik kami itu sama pria mesum macam kau, adik kami itu kami jaga baik-baik bukan untuk kau rusak. Kenapa kau datang mendobrak palang yang kami buat. Kau ingin nafasmu putus sekarang???" Bang Gumarang membuang wajah Bang Erlang dengan kasar.


"Siap.. tidak Bang...!!"


"Lalu bagaimana sekarang? BAP atau sel tiga hari?" Tanya Bang Katon.


Bang Erlang menimbang hukuman, jika dirinya memilih BAP berarti dirinya akan berkasus hingga kemudian hari. Ia tidak ingin putra putrinya tau masa kelam Papanya karena tidak bisa mengontrol diri. Namun jika dirinya mengambil sel maka ia harus menerima sanksi remuk sekujur tubuh dari kedua Abang Gizha lantaran berani melecehkan putri perwira tinggi.

__ADS_1


"Ijin Abang.. saya pilih sel." Jawab Bang Erlang.


"Okeeee.. besar juga nyalimu..!!" Bang Gumarang tersenyum licik. "Jantan juga kau yaa"


\=\=\=


Gizha merasa sepi dua hari ini tidak melihat wajah Bang Erlang. Entah kenapa ada hati yang sunyi dan hampa.


"Bang Erlang kemana ya Yah?" Tanya Gizha.


"Di hukum sama Abangmu." Jawab Ayah Rojaz.


"Jadi Bang Erlang belum melamar Gizha di depan Ayah?"


"Memangnya Bang Erlang bilang begitu?" Ayah Rojaz masih melihat layar ponselnya dengan kacamata minus, bulat boboho.


"Iya. Katanya mau melamar Gizha tapi sekarang tak tau Abang membawanya kemana." Kata Gizha menampakan raut wajah kecewa.


Melihat putrinya tidak bahagia, Ayah Rojaz menghubungi salah seorang putranya. "Rang, itu biawak jangan di apa-apakan.. Ayah sendiri yang akan menangani."


"Sudah nggak Yah, Erlang baru masuk rumah sakit. Saya kelepasan hantam dia." Jawab Bang Gumarang.


...


Ayah Rojaz terus memandangi Bang Erlang yang tumbang karena ulah kedua putranya yang terbakar amarah.


Tak lama Bang Erlang sadar dan melihat Pak Rojaz duduk tak jauh darinya.


"Kamu bisa melawan, kenapa tidak melawan. Anggota pasukan khusus kenapa cemen sekali." Tegur Ayah Rojaz.


"Siap.. ini hukuman yang pantas karena tidak bisa menjaga kehormatan wanita. Jika saya mati juga tidak menjadi soal." Jawab Bang Erlang.


"Nyali dan mental beriringan, tapi jaga nafsu saja tidak mampu." Ledek Ayah Rojaz. "Apa sekarang masih ada yang mau kamu sampaikan?"


Bang Erlang berusaha meraih dompetnya dan Ayah Rojaz mengambilkannya untuk Bang Erlang.


"Ijin Dan, jika di ijinkan.. bolehkah saya melamar putri komandan Argizha Maharani?"


Ayah Rojaz melihat tangan Bang Erlang masih kaku dan gemetar penuh luka mengeluarkan sebuah cincin dari dompetnya. "Kotaknya patah Dan.. di injak Letnan Katon."


"Putriku masih kecil."


"Menyelamatkan harga diri tidak harus menunggu dewasa. Setelah Gizha lulus, saya akan menikahinya dan saya akan membebaskan pilihan yang luas untuknya, apapun keinginannya akan saya penuhi asal selalu ikut kemanapun saya pergi." Janji Bang Erlang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2