
Bang Girish celingukan dengan resah. Ia ingin mengutarakan niatnya tapi kali ini dan hari ini adalah moment penting keluarga kecil Bang Erlangga.
"Bicara sekarang atau tidak nih??" Gumamnya.
Setelah membolak-balik hati dan pikiran, ia pun mantap untuk mendekati Bang Erlangga.
"Bang.. ijin.. saya mau bicara."
"Nanti ya, saya mau tidurkan si Rambo dulu..!!" Tolak Bang Erlangga. Ia bergegas pergi menuju ruang kecil yang di jaga beberapa orang Taja.
"Saya mau menikahi Rinjani Bang..!!" Ucap Bang Girish seketika menghentikan langkah Bang Erlangga.
"What??? Ulang lagi..!!" Pinta Bang Erlangga.
"Saya mau menikahi Rinjani dan menjadikan adik Abang satu-satunya wanita di hidup saya. .!!"
"Begitu kah? Kamu punya bekal apa sampai berani punya niat menikahi adik saya Rinjani??" Tanya Bang Erlangga.
"Saya punya bekal untuk buatkan Abang keponakan yang lucu..!!" Jawab Bang Girish.
Mendengar jawaban itu bola mata Bang Erlang melotot. Tangannya memberi sedikit tanda sayang di pipi juniornya.
"Temui saya besok di kantor, di jam kosong. Sekarang saya capek sekali." Perintah Bang Erlangga malas dan berusaha menghindari Bang Girish.
"Siap.. kalau sudah ada jawaban tolong segera di putuskan ya Bang..!! Sebab kalau saya yang mengambil keputusan.. anak kita bisa satu litting." Kata Bang Girish amat sangat lembut tapi sarat dengan ancaman mematikan.
"Kamu mengancam saya???" Tanya Bang Erlangga kesal dengan ucapan Bang Girish yang seakan menekannya.
"Saya nggak perlu mengancam Bang. Abang bisa lihat sendiri kalau Rinjani maunya nempel terus sama saya. Kira-kira apa perlu saya balas menempel?" Bang Girish memasang wajah polos dengan nada bicara tenang tapi jelas hal itu tidak bisa membuat hati Bang Erlangga tenang.
Benar saja, baru beberapa menit mereka bicara.. Rinjani sudah mendekat dan bergelayut di lengan Bang Girish.
__ADS_1
Bang Girish tersenyum licik menatap wajah seniornya yang seketika meradang.
"Apa sih kamu..!!" Bang Erlangga menarik lengan Rinjani. Dirinya masih tidak rela adik perempuan satu-satunya berdekatan dengan seorang Girish yang notabene ia tau sifatnya. "Alooong..!!" Teriak Bang Erlangga memanggil ajudannya.
Mendengar suara teriakan komandannya, Prada Along segera berlari menghampiri.
"Siap Dan, arahan??"
"Gendong di Rambo..!!" Bang Erlang menyerahkan si Rambo pada Prada Along, ia pun langsung berhadapan dengan Bang Girish. "Jangan banyak senyum nggak jelas kamu Gi..!!"
Melihat kakaknya terlihat sangat marah, Rinjani pun beralih berdiri di hadapan sang Kakak.
"Abang kenapa sih marah melulu. Memangnya nggak boleh kalau Rinjani dekat dengan Bang Girish?" Tanya Rinjani.
"Nggak boleh. Pulang kamu..!!!" Bang Erlangga begitu tidak ingin sang adik berdekatan dengan Bang Girish.
"Tapi bagaimana dengan anaknya Rinjani sama Bang Girish?"
plaaaakk..
"Sudah kamu apakan adik saya????"
Bang Girish mundur menjauh tapi nampaknya Bang Erlangga sudah terlanjur emosi.
"Ini salah paham, dengar saya dulu Bang..!!" Bang Girish mencoba menghindar tapi Bang Erlang sudah mencengkeram kerah pakaian Bang Girish.
Dari jauh Bang Drajat melihat ada sesuatu yang tidak biasa. Ia pun menyerahkan putranya pada Disha. "Bawa anakku dulu dek. Erlang ribut sama Girish."
"Ribut kenapa Mas?"
"Mana mas tau dek." Bang Drajat segera berlari untuk melerai pertikaian para sahabat nya.
__ADS_1
~
"Kamu jangan asal hantam.. tanya dulu sama Rinjani, di apakan saja adikmu ini..!!" Bang Drajat masih menahan Bang Erlangga yang sejak tadi belum bisa mengontrol rasa marahnya.
"Sumpah Bang, harus berapa kali saya bilang, saya belum apa-apakan Rinjani."
"Belum sama tidak itu beda jauh Rish. Apa sih mau mu???" Bentak Bang Erlangga.
"Saya mau nikah sama Rinjani..!!" Kata Bang Girish.
"Saya nggak setuju, enak saja kamu." Tolak Bang Erlangga.
"Yang mau nikah khan saya, bukan Abang." Jawab Bang Girish semakin memancing emosi Bang Erlangga. Kepalanya berdenyut mendapatkan lawan bicara seperti Bang Girish.
"Kalau saya nggak mau, kamu mau apa???" Tantang Bang Erlangga.
"Nggak apa-apa sih. Tapi gimana tuh yang di perut Rinjani."
"Jangan mencla mencle kalau jawab Rish.. kamu sudah buat apa saja sama Rinjani????" Suara Bang Erlangga semakin meninggi.
"Aahh.. malu saya bilangnya Bang. Ini prestasi tak terduga."
Bang Erlang memegangi kepalanya, seketika pusing di kepalanya menyerang berhadapan dengan makhluk menyebalkan seperti Letnan Girish.
.
.
.
.
__ADS_1