
Dhisa bersandar pada sisi ranjang. Bang Drajat terlalu kasar memperlakukan dirinya, bahkan Bang Drajat tak memberikan rasa sayangnya sama sekali dan hanya mementingkan egonya saja sebagai pria, tapi tak mengapa karena memang mereka berdua tidak ada ikatan apapun. Hanya saja seperti apa katanya tadi, Bang Drajat memperlakukan benar-benar seperti seorang wanita penghibur.
...
"Terima kasih banyak Danton.. mudah-mudahan semakin banyak rejekinya." Ucap Prada Along saat Bang Erlang membelikan sarapan untuk seluruh anggota yang hari ini di libatkan dalam acara olahraga bersama di Markas utama.
"Sama-sama. Cepat sarapan dulu..!! Nanti kita cepat kembali ke Batalyon.. Ibu-ibu sedang ada kegiatan bersama khan? " Tanya Bang Erlang.
"Siap Danton."
Bang Erlang memilih tidak sarapan karena kemungkinan besar Gizha pasti mual dan tidak berselera untuk sarapan pagi.
"Danton tidak makan?" Tanya Prada Along.
"Saya nggak bisa makan sebelum memastikan istri saya sudah makan. Kamu tau sendiri istri saya mual parah, mana tega saya mengisi perut saya sendiri sedangkan istri saya disana kelaparan." Jawab Bang Erlang.
Prada Along tersenyum mendengar jawaban Dantonnya, Danton yang begitu ia segani karena wibawanya. Letnan Erlangga adalah pria yang bisa menempatkan diri di manapun berada.
:
Dari jauh Bang Erlang melihat 'Gizha' sedang muntah hebat tapi kemudian langkahnya terhenti saat batinnya merasa ada yang aneh dan benar saja saat itu dirinya berpapasan dengan Gizha yang sesungguhnya.
"Abang..!!" Sapa Gizha. "Sudah selesai kegiatannya?" Tanya Gizha lagi, terlihat wajah Gizha pucat, ia mengusap peluh dan mengeringkan bibirnya dengan tissue.
Refleks Bang Erlang membuang nafas lega. Ia pun memeluk Gizha. "Abang tidak akan pernah salah mengenalimu sayang. Abang janji."
Gizha mendongak menatap wajah sendu Bang Erlang. "Terima kasih... Suamiku." Jawab Gizha.
Bang Erlang tersenyum salah tingkah dengan pipi memerah. Ia mendaratkan kecupan hangat di kening Gizha untuk menghilangkan rasa canggungnya.
"Boleh Gizha bantu Disha?" Tanya Gizha.
"Oke." Bang Erlang mengangguk membiarkan Gizha membantu saudara kembarnya. Bang Erlang pun mengambil rokok di saku celananya.
Saat Ghiza mengurus saudara kembarnya, bola mata Bang Erlang menyisir ke arah sekitar untuk mencari keberadaan Bang Drajat namun tidak di ketahui dimana sahabatnya itu berada.
"Baaang.. Abaaaang..!!! Tolong Disha Bang..!!" Teriakan Gizha dari dalam toilet.
Mendengar teriakan sang istri, Bang Erlang pun segera menghampiri dan benar saja.. Disha sudah tidak sadarkan diri di dalam toilet.
__ADS_1
"Baaang, tolong Disha..!!" Pinta Gizha.
"Kamu jalan pelan-pelan keluar dari toilet. Hati-hati jalannya licin..!!" Kata Bang Erlang mengingatkan kemudian mengangkat tubuh Disha. "Cepat hubungi Along dan Ardhan dek..!!"
~
"Ya Allah Danton.. ibu kenapa??" Prada Along membuka pintu mobil Bang Erlang.
"Ini bukan istri saya. Ini Bu Drajat..!!"
Tak lama Prada Ardhan datang dengan berlari tergopoh-gopoh melihat Bang Erlang di susul Gizha di belakangnya.
"Jangan lari dek..!!" Suara Bang Erlang menegur Gizha yang berlarian karena panik.
Gizha pun berjalan lebih pelan karena Bang Erlang sudah menegurnya.
Pandangan mata Bang Erlang beralih pada Prada Ardhan. "Dimana Dantonmu???"
"Ijin.. tidak tau Dan." Jawab Prada Ardhan.
"Apa saja kerjamu sampai tidak tau Dantonmu pergi kemana. Cepat cari sekarang juga dan sampaikan kalau saya membawa istrinya ke rumah sakit tentara..!!" Perintah Bang Erlang
:
Bang Drajat berlari menuju ruang tindakan darurat, ia melihat Bang Erlang sedang menghubungi seseorang.
"Laang.. dimana Disha??" Tanya Bang Drajat menyentuh bahu Bang Erlang dan kelabakan saat melihat tulisan di atas pintu ruang tindakan. "Kenapa Disha masuk ruang tindakan gawat darurat???"
Dengan kasar Bang Erlang mematikan sambungan telponnya dan menepis tangan Bang Drajat.
"Kau tau Disha sedang mual-mualnya masa kehamilan, kenapa kamu tidak mendampinginya????"
"Aku sedang ada briefing bersama Danyon." Jawab Bang Drajat.
"Briefing apa??? Mana ada sesama jajaran perwira tidak saling tau? Kenapa juga aku tidak di colek??" Mata Bang Erlang semakin tajam menatap Bang Drajat. "Kamu nggak usah macam-macam Jat..!! Jangan pernah menyakiti hati ibu dari calon anakmu..!!!"
Bang Drajat diam saja mendengar omelan dari sahabatnya. Mungkin benar memang sahabat terbaiklah yang paling mengerti diri.
"Istriku sudah lelah mengurusi dirinya sendiri, bisakah kamu bekerja sama sedikit mengurus Disha? Dia hamil anakmu..!!!!" Kata Bang Erlang memberi peringatan keras pada Bang Drajat.
__ADS_1
"Iya.. nanti aku akan menjaga Disha." Jawab Bang Drajat.
"Janji tidak hanya sampai di mulut saja Jat..!!!!!"
Belum selesai ucap Bang Erlang, dokter senior yang juga seorang dokter kandungan keluar dari ruang tindakan.
"Bang.. ijin.. Bagaimana keadaan Disha??" Tanya Bang Drajat.
"Gizha pingsan kelelahan, Disha sudah normal dan stabil." Jawab dokter.
"Astagfirullah.. piye sih????" Bang Erlang menerobos masuk ke dalam ruang tindakan di ikuti oleh Bang Drajat.
:
Faktor pikiran dan kelelahan membuat kondisi Gizha melemah. Dari segi panjang maupun berat pun sangat kurang. Berbeda dengan kondisi janin Disha yang stabil bahkan sehat dan sesuai dengan yang seharusnya.
Bang Erlang menunduk tanpa daya di samping Gizha. Untuk masalah lain dirinya masih sanggup menghadapi, tapi tentang anak istri, terasa jantung di ambil dari raganya.
"Aku minta maaf..!!"
"Simpan semua kata maafmu..!! Aku tidak perhitungan tentang apa yang sudah Gizha berikan untuk Disha. Tapi ulahmu yang tidak memperhatikan Disha membuat Gizha harus dua kali lipat lebih ekstra perhatian untuk Disha. Susu, sampai pakaian.. Gizha belikan untuk Disha karena kamu tidak memperhatikan kebutuhannya. Disha mungkin bukan istrimu Jat, tapi anak itu anakmu..!!!! Sadarlah Jaaatt..!!" Bentakan Bang Erlang membuat Gizha terbangun karena kaget.
"Kenapa Bang?" Tanya Gizha cemas.
"Nggak ada apa-apa. Setelah infusnya habis kita pulang ya..!!" Ajak Bang Erlang dengan senyumnya. "Eehh dek.. di kota ada supermarket dan toko baru lho. Tokonya lengkap sekali. Jalan-jalan yuk..!!"
"Masa Bang?? Tapi jalanan menuju kesana terlalu berbatu, jaraknya juga jauh dari asrama. Satu setengah jam Bang." Kata Gizha.
"Nggak apa-apa. Besok hari Jum'at, Abang sudah ijin Danyon.. besok kita nginap di kota. Abang ngidam belanja nih." Alasan Bang Erlang. "Kamu tenang saja, Abang sendiri yang nyetir mobilnya. Di jamin aman dan nggak goncang, kecuali kamu sendiri yang minta Abang goncang."
Bang Drajat tersenyum kecut dan tidak berani berkomentar sambil menunggu Disha yang masih tidur.
.
.
.
.
__ADS_1