Djiwa

Djiwa
21. Keputusan.


__ADS_3

Banyaknya panggilan telepon sama sekali tak di gubris Bang Erlang.


"Ayo turun ke sungai, tempat sekecil ini tidak mungkin saya tidak bisa menemukan Erlang." Bang Drajat mengajak Prada Along dan Prada Ardhan ikut bersamanya.


Benar saja, tak lama berjalan.. Bang Drajat melihat Bang Erlang sedang berendam di dalam air.


"Astagfirullah Laang.."


Prada Ardhan dan Prada Along berlari mengikuti Bang Drajat. Mereka merasa Letnan Drajat memiliki telepati hingga mampu menemukan keberadaan Letnan Erlangga.


"Kau lagi. Aku tidak ingin melihatmu..!!" Kata Bang Erlang. Matanya nanar menyimpan ribuan rasa sakit di hati.


Tanpa pikir panjang Bang Drajat ikut masuk ke dalam sungai yang dingin itu. Ia pun ikut menyulut rokok menghalau dingin yang sama sekali tidak meredakan rasa dinginnya.


"Kau ingat, kita dulu pernah di hukum pelatih karena ketahuan menggoda dan selalu anak pelatih?" Bang Drajat mengingatkan masa lalunya.


"Kau yang kurang ajar menjepret 'back boom' nya pakai karet." Kata Bang Erlang.


"Itu idemu Dob..!!!"


"Aku nggak tahan lihat body belakangnya. Mana kalau balik badan tabrakan sama bumper nya. Donal duck nggak sih. Depan belakang nonjol" Jawab Bang Erlang.


"Matamu Dob.. B******k mu tidak hilang juga." Bang Drajat tertawa terbahak, kalau soal yang satu ini mereka memang tidak pernah keluar jalur dan selalu sepemikiran.


Tanpa di sadari mereka berdua bercanda dengan waktu yang cukup lama. Mengingat masa pendidikan dan kebersamaan mereka. Sering di hukum bersama karena kepergok kabur bersama.


"Dob.. apa kau sudah mempunyai jawaban untuk kelangsungan hidup kita selanjutnya?"


Bang Erlang menarik nafas lalu membuangnya perlahan. "Insya Allah."


"Kuharap kamu pun bisa memaafkan aku." Kata Bang Drajat.


"Kata-kata yang sama seperti saat kamu mengambil Ratna dariku?"


"Percayalah.. aku menyesal bertemu dengan Ratna." Jawab Bang Drajat memang penuh penyesalan.


"Seperti kau menyesali pertemuanmu dengan Disha?" Tanya Bang Erlang.


"Itu dua hal yang berbeda Lang. Yang jelas, kedua wanita itu sama-sama telah membuat hidupku berantakan.. hanya saja..........."


"Apa?"

__ADS_1


"Sudahlah.. biarkan aku saja yang merasakannya. Kau jangan pernah merasakan apa yang kurasakan..!!" Jawab Bang Drajat. "Ayo pulang.. Ayah bisa cemas memikirkan kita juga..!!"


:


Bang Drajat dan Bang Erlang usai menunaikan sholat. Mereka masih terdiam dengan pikiran masing-masing. Keduanya bersujud memohon ampun pada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala takdir yang telah terjadi. Tangis dalam sujud, mereka berserah hingga hati mereka perlahan tenang.


Setelah kembali duduk, Bang Drajat dan Bang Erlang saling pandang.


"Kamu sudah siap?" Tanya Bang Drajat.


Keduanya pun saling menatap dan sekali lagi mencoba menjalin komunikasi.


"Demi apapun aku ingin sekali menghajarmu Jat." Kata Bang Erlang.


"Kenapa tidak menghajarku Letnan. Aku tau kau ini sebenarnya garang dan sumbu pendek."


"Aku menahan diri demi anak istriku. Gizha sudah sangat ketakutan dan tertekan dengan masalah ini. Aku tidak ini amarahku malah membuatnya semakin sakit. Biar aku saja yang sakit.. istriku jangan..!!" Jawab Bang Erlang.


Bang Drajat tersenyum kecut mendengarnya tapi inilah kehidupan. Tidak segala hal di dunia ini bisa kita dapatkan meskipun kita begitu menginginkannya. Mendengar kata 'istri' dari mulut sahabatnya jelas ada penekanan yang menjelaskan bahwa dirinya akan membentengi segala hal tentang Gizha.


"Baiklah.. ayo kita kembali ke kamar. Ayah, Papa dan lainnya pasti sudah menunggu...!!" Ajak Bang Drajat.


:


"Jawab Gizha.. masalah ini harus segera selesai..!! Calon cucu papa harus mendapatkan kejelasan..!!" Pinta Ayah Rojaz membujuk putrinya.


Mata Gizha berkaca-kaca menatap wajah Bang Drajat namun kemudian ia menunduk.


Bang Drajat sejenak memejamkan mata sampai akhirnya membuang nafas perlahan, sampai akhirnya batin itu benar-benar siap dan kuat.


"Dek.. katakan saja apa yang ada di dalam hatimu. Mas ikhlas dan sudah siap untuk mendengarnya." Kata Bang Drajat.


"Mas Drajat.. Gizha mohon maaf yang sebesar besarnya. Gizha mencintai Bang Erlang. Sudilah kiranya Mas Drajat melepaskan Gizha..!!" Jawab Gizha.


Bang Drajat berusaha berbesar hati, ia menarik garis senyum di wajahnya. "Baiklah.. Mas akan memenuhi permintaanmu. Tapi tidak sekarang.. nanti kalau kamu sudah melahirkan. Hanya saja.. berhubung seluruh keluarga ada di sini, biar menjadi saksi.. kamu Argizha Maharani.. mulai hari ini.. detik ini juga, bukanlah istri saya lagi."


Tubuh Gizha lemah dan sempat terhuyung tapi Bang Erlang dengan sigap menahannya.


"Hari ini juga saya katakan.. Saya Drajat Djiwa Pasopati.. secara sadar, dan tanpa paksaan dari pihak manapun, akan menikah Adisha Maharani usai persalinannya kelak. Saya menyadari kesalahan saya, bukan karena tanggung jawab semata.. tapi memang ada hati saya untuk putri Pak Rojaz." Imbuh Bang Drajat.


"Disha tidak mau Mas. Disha bisa menghidupi anak Disha sendiri dan Disha sudah katakan tidak akan menuntut apapun dari Mas Drajat." Tolak Disha.

__ADS_1


"Saya tau kamu kecewa, saya mohon maaf atas segala ucapan dan sikap saya yang tidak pantas dan pastinya menyakiti hatimu.. maafkan sikap saya yang tidak dewasa. Saya sadari kejadian ini bukan sepenuhnya kesalahanmu."


Mata Disha berkaca-kaca mendengarnya. Memang benar hatinya masih terasa sakit tapi ia pun tau Bang Drajat tidak bercanda atau sekedar menebus 'dosa'.


Bang Drajat mengulurkan tangan agar Disha meraihnya.


"Kita mulai lembar kisah yang baru.. dimana hanya ada Drajat, Disha dan anak kita." Kata Bang Drajat.


Disha menatap wajah Gizha. Wajahnya pun sendu.


"Gizha adalah sepenuhnya hak milik Letnan Erlangga. Mas janji tidak akan pernah kembali ke masa lalu, tidak akan bermain api dengan sahabat sendiri. Pegang janjiku..!!"


Baru setelah mendengarnya.. Disha bersedia meraih tangan Bang Drajat dan menggenggammya. Sungguh Ayah, Papa, dan para Abang baru bisa bernafas lega setelah beberapa hari ini senam jantung dan nyaris henti nafas.


"Saya tau ini kekeluargaan.. tapi alangkah baiknya jika ada hitam di atas putih dan bermaterai. Kami dari pihak wanita butuh kepastian dan kejelasan. Begitu pun kamu Erlang..!!" Permintaan dari Bang Ranjha untuk menyelamatkan kedua gadis kecilnya.


"Baik Bang, tidak masalah. Saya Gustiar Erlangga.. tidak akan pernah lagi membahas apapun yang telah terjadi. Tidak ada banyak kata dari saya.. Saya akan menyayangi dan mencintai Gizha seperti dulu. Kejadian ini tidak akan mengubah apapun dari hati saya. Bukan kata-kata yang akan menenangkan batin Gizha, tapi bukti janji saya..!!"


Bang Ranjha pun menyiapkan segala kebutuhan dan permintaan dari Ayah Rojaz.


...


"Kenapa Bang?" Gizha menatap suaminya yang belakangan ini memang begitu melow. Galaknya memang melunak sejak kehamilannya, suaranya jauh lebih lembut.


"Nggak apa-apa. Abang bahagia akhirnya bisa menikahimu." Jawab Bang Erlang.


"Sebahagia itu?"


"Lebih dari apapun." Bang Erlang "Boleh meluk khan?" Tanya Bang Erlang dengan bodohnya.


"Bukannya selama ini Abang sering nerobos palang?" Tanya Gizha.


"Eiya ya." Tiba-tiba Bang Erlang jadi merasa canggung.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2