Djiwa

Djiwa
25. Khilaf lebih baik.


__ADS_3

Bang Erlang berjalan cepat menghentikan langkah Gizha.


"Mau kemana? Setelah buat Abang nggak karuan kamu mau pergi begitu saja??"


"Itu hukuman buat Abang. Dari kemarin Abang marah nggak jelas. Gizha salah apa Bang? Cerita di antara Gizha dan Mas Drajat sudah selesai, tidak ada lagi yang tersisa tentang Mas Drajat. Bahkan sekarang Abang lihat.. di perut Gizha ini anak siapa??" Kata Gizha.


"Maaf, Abang salah."


"Selama Abang belum baikan sama Mas Drajat, kita nggak usah bicara Bang. Ini hanya soal ketentraman. Gizha dan Disha bersaudara, otomatis Abang dan Mas Drajat ipar an..!!" Gizha berjalan masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.


tok.. tok.. tok..


"Deekk.. sayang.. buka pintunya sayang..!! Abang minta maaf..!!" Bujuk Bang Erlang.


Tak ada suara dari dalam kamar. Bang Erlang merosot lemas di dinding samping pintu kamar. Kepalanya semakin pening karena Gizha ternyata hanya memberi harapan palsu. Degub di dadanya masih juga belum stabil.


//


Bang Drajat duduk di sofa masih menata perasaan.


"Kamu mau kemana?" Tegur Bang Drajat melihat Disha menyeret kopernya.


"Tempat seharusnya Disha berada. Disini bukan tempat Disha Mas..!!"


"Lalu dimana tempat yang seharusnya? Bukankah ini tempat yang kamu mau???" Sindir Bang Drajat seakan masih tidak bisa menerima kehadiran Disha dalam hidupnya.


"Biarkan Disha pergi...!!" Pinta Disha.


"Membawa anakku??" Wajah marah Bang Drajat sudah tidak bisa di kondisikan.


"Dan Mas tak menginginkan nya ada di dunia." Jawab Disha.


Bang Drajat begitu jengkel dengan sikap Disha. Entah kenapa dulu dirinya pernah jatuh hati pada gadis itu. Gadis yang sudah memporak porandakan hidupnya.


"Kenapa sikap dan sifat mu tidak bisa seperti Gizha??" Bentak Bang Drajat.


"Aku bukan Gizha.. aku Dishaaaa..!!!!!" Disha balik meninggikan suaranya.


Tak menyangka di luar rumah sudah ada Bang Erlang yang mendengar segala ucapan Bang Drajat dengan sangat jelas. Niat hati meminta maaf demi sang istri malah harus mendengar kenyataan yang menyiratkan bahwa sahabatnya masih mencintai istrinya.


"Masuk ke kamarmu...!!!! Kamu di larang keluar rumah..!!!!" Suara Bang Drajat memekakkan telinga mengisi seluruh ruangan.

__ADS_1


"Kenapa Mas tidak membunuh Disha saja?? Kalau Disha mati selesai sudah semua perkara.. Mas tidak akan terbebani dengan hadirnya Disha dan anak ini.. selebihnya terserah Mas mau melakukan apa." Kata Disha sudah frustasi dengan keadaannya. Ia benar-benar sudah tunduk dan menyesali kesalahan yang sudah di perbuatnya.


"Mudah sekali kamu katakan setelah semuanya berantakan, apa kamu tau bagaimana hancurnya perasaanku??"


Bang Drajat pergi meninggalkan Disha yang menangis di ruang tengah. Setiap hari selalu saja terjadi pertengkaran di antara mereka meskipun Bang Drajat sadari kini Disha lebih banyak diam.


Saat membuka pintu, Bang Drajat melihat Bang Erlang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Sejak kapan kamu disini?" Tanya Bang Drajat.


"Aku mendengar semuanya?"


"Aku tidak bermaksud begitu." Jawab Bang Drajat.


"Jika bukan demi anak istriku.. rumahmu dan seisinya sudah ku jatuhi mortir..!!" Ancam Bang Erlang dengan wajah garangnya.


"Kita mabuk????" Ajak Bang Drajat.


"Ayo..!!" Bang Erlang menyambut ajakan sahabatnya.


:


Bibir mereka masih banyak terdiam dan fokus mengunyah makanan. Isi kepala sudah penuh dengan masalah, hati mereka juga sudah sesak memendam prahara dalam rumah tangga.


"Aku minta maaf..!!"


"Aku minta maaf..!!" Ucap keduanya bersamaan.


"Kamu tidak perlu minta maaf, aku memang salah. Tapi jujur tadi hanya salah paham. Aku hanya membantu Gizha yang hampir terjatuh." Kata Bang Drajat.


"Pertanyaannya.. untuk apa kamu di halaman rumahku???"


"Aku mau minta bunga."


Kening Bang Erlang berkerut mendengarnya.


"Aku sedang berusaha melupakan Gizha dan menormalkan hatiku. Aku ingin memulai hubungan baik dengan Disha, tapi ternyata semua terasa berat karena.... ya kamu tau lah, melupakan Gizha bukan semudah kita membalik telapak tangan." Ucap Bang Drajat.


Sebenarnya hati Bang Erlang masih mendidih namun ia menghargai kejujuran sahabatnya.


"Aku sedang belajar menata hati dan merayu Disha lagi. Bagaimana pun kusadari di dalam rahimnya ada anakku." Kata Bang Drajat.

__ADS_1


"Cinta tidak membuatnya menangis dan membentaknya sampai seperti itu. Lagipula selama ini kau tidak pernah memperhatikan Disha. Kamu bisa membohongi orang lain tapi tidak dengan ku. Mungkin benar kamu masih ada rasa sama Disha tapi hanya satu persen saja, selebihnya benci karena kamu mencintai Gizha." Jawab Bang Erlang tanpa menatap wajah Bang Drajat. "Aku tau siapa kamu Jat, dan kamu pasti sangat mengenalku. Jangan pernah ganggu istriku, hilangkan rasa tidak pantas dalam hatimu atau akan kutunjukan segala keburukanku di hadapanmu..!!"


"Laang......."


"Cukup Jat.. aku sedang stress berat. Hatiku juga hancur-hancuran.. jika memang ada kesadaran diri seharusnya kita saling jaga posisi. Aku tidak mau kita ribut seperti anak kecil tapi ini bukan tentang memperebutkan LC, ini tentang wanita yang sudah di halalkan secara baik-baik." Ucap tegas Bang Erlang.


Bang Drajat memilih diam karena jika seorang Erlangga sudah mengamuk maka hanya akan ada runyam yang ia dapatkan.


Bang Erlangga bertumpu kepala di tangan kirinya, sela jarinya masih setia menjepit rokok. Saat ini tidak ada pelampiasan lain selain rokoknya.


"Puyeng?" Tanya Bang Drajat melihat sejak tadi sahabatnya itu gelisah tidak tenang dan berkali-kali membenahi posisi duduknya.


"Malaaam Maaasss.. mau di temani?" Seorang gadis menyela duduk di antara Bang Drajat dan Bang Erlang.


"Saya sudah ada teman." Jawab Bang Drajat memonyongkan bibirnya menunjuk Bang Erlang.


"Itu hanya teman nongkrong, saya mau kok nemenin bobo cantik." Kata gadis itu sambil tersenyum manis menatap Bang Erlang. "Haiii.. apa bisa minuman itu menghangatkan tubuhmu? Udara disini dingin sekali." Ucapnya menyapa Bang Erlang.


"Maaf, saya lagi malas..!!" Tolak Bang Erlang.


"Kamu tidak akan kecewa." Kata gadis itu.


"Tapi akan ada hati lain yang kecewa. Saya memang sedang sangat ingin melakukan nya, tapi bukan kamu orangnya." Jawab Bang Erlang sekaligus menghujam dua hati.


Bang Erlang berdiri lalu merogoh sakunya dan meletakan uang di atas meja. "Kalau mau khilaf sekalian saja sama yang di rumah. Sama saja dosanya."


Bang Drajat pun ikut berdiri.


"Kamu mau kemana?" Tanya Bang Erlang.


"Ya mau pulang juga. Katamu khilaf di rumah saja." Jawab Bang Drajat. "Apa kau mau ikut menanggung dosaku?"


Bang Erlang dan Bang Drajat meninggalkan wanita yang masih terpaku disana.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2