
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit akhirnya Disha dan Gizha di ijinkan pulang ke rumah. Dalam beberapa hari itu juga Bang Erlang dan Bang Drajat tidak saling bertemu wajah. Hingga tak sengaja saat itu keduanya saling berhadapan di depan pintu kamar rawat.
Wajah keduanya begitu kaku, tapi siapa sangka Bang Erlang dan Bang Drajat saling berjabat tangan kemudian berpelukan khas pria, tentu hanya mereka saja yang paham situasinya.
"Bagaimana Disha? Sudah sehat?" Tanya Bang Erlang.
"Sudah, perkembangan janin dan mental ibunya sudah sangat baik." Jawab Bang Drajat. "Bagaimana dengan Gizha?"
"Pendarahannya berhenti total. Baby kecilq juga sudah ada perkembangan hanya Mamanya yang masih dalam pantauan."
"Sabar, mudah-mudahan di lancarkan semua Lang." Bang Drajat menanggapi sahabatnya.
Si kembar saling menatap kemudian langsung berpelukan erat seakan mengurai rasa rindu mereka bagaikan tidak bertemu setelah bertahun tahun lamanya.
Ada rasa bersalah dalam hati kedua pria, memang tidak seharusnya mereka memisahkan saudara kembar dan jika ada masalah berarti, hanya komunikasi saja yang bisa menyelamatkan segalanya.
Si kembar pun berjalan bergandengan tangan dengan senyum cantik mereka.
"Ayo gandeng sayang..!!" Bang Erlang mengulurkan tangan pada Bang Drajat.
"Kau kesayangan yang pengen ku hantam sejak lama." Jawab Bang Drajat melihat tingkah Bang Erlang.
"Laaahh kenapa kalau laki-laki yang bergandengan tangan selalu jadi masalah??" Tanya Bang Erlang.
Keduanya pun terkikik kemudian berjalan di belakang para bumil.
\=\=\=
"Iyo.. iyoo dek.. Astagfirullah. Abang dengar." Bang Erlang memakai sepatunya sambil mendengarkan Gizha yang entah meributkan apa saat dirinya mau berangkat kerja.
"Kalau Abang dengar, Abang nggak akan mengulang lagi dan lagi meletakan handuk basah di atas bantal." Kata Gizha dengan omelannya.
Bang Drajat yang juga ikut mendengarnya tertawa renyah. Rasanya puas sekali mendengar Letnan Erlangga yang biasa memberi arahan dan berteriak di depan anggotanya kini malah berbalik menunduk saat istrinya bersuara.
"Maas, kenapa pakaiannya berantakan begini??? Disha capek menata lemari lagi Maas, kenapa sih Mas ini nggak pernah ingat hal sepele begini..!!!" Suara Disha juga membahana di rumahnya.
"Iya dek. Maaf, Mas nggak sengaja." Jawab Bang Drajat nyengir karena dirinya sempat membuat ulah.
Tak lama Gizha keluar dengan berjalan pelan sambil membawa sepiring sarapan pagi untuk Bang Erlang. Perutnya yang besar membuat langkahnya semakin lambat saja.
"Itu hal sepele Bang. Apa sulit mengingatnya????" Tegur Gizha sambil menyuapi Bang Erlang bak seorang anak yang akan berangkat ke sekolah.
"Hahahaha.. tau rasa lu." ledek Bang Drajat.
"Mas nggak usah menertawakan orang lain, Mas juga sama teledornya..!!" Disha pun menyuapi Bang Drajat.
__ADS_1
Di saat yang sama para ajudan mereka, Prada Along dan Prada Ardhan melihat kedua Dantonnya sedang di suapi istri masing-masing. Mereka menjemput Dantonnya karena hari ini akan di adakan kegiatan di luar Batalyon.
"Selamat pagi Danton..!!" Sapa Prada Along memberi hormat pada kedua Dantonnya kemudian melangkah menuju rumah Bang Erlang begitu pula sebaliknya.
"Selamat pagi. Sarapan dulu kamu Long..!!!" Perintah Bang Erlang.
"Siap.. sudah Danton..!!" Jawab Prada Along.
"Kamu nggak mau makan masakan istri saya???" Tegur Bang Erlang.
"Siap.."
"Siap apa?? Cepat masuk dan ambil sarapan. Makan sendiri ya.. nggak ada yang nyuapin..!!!" Ucap Bang Erlang membuang rasa malu dan gengsinya.
Hal yang sama juga terjadi di rumah Bang Drajat.
"Cepat ambil sarapan..!!" Perintah Bang Drajat pada Prada Ardhan.
...
Gizha menunduk tak bisa mengenakan sepatunya karena perutnya sudah mengganjal.
"Uugghh.. sakit sekali punggung Gizha Bang." Ucap seseorang menirukan gaya bahasa Gizha kemudian duduk dan menirukan gaya duduknya yang perlahan-lahan. "Kipas mana Bang?? Begah sekali perut Gizha..!!"
Gizha pun melirik tingkah menyebalkan Bang Erlang. "Gizha begini karena siapa??"
"Black panther apa kucing loteng??" Ledek Gizha.
Bang Erlang tertawa saja mendengarnya kemudian mengusap perut Gizha dengan sayang. "Sayaaang.. cepat lahir donk..!!! Kasihan Mama tuh sudah payah gendong kamu setiap hari. Nanti kita main di sungai..!!"
Gizha tersenyum melihat begitu sayangnya Bang Erlang pada calon anaknya. "Hmm Bang, kenapa ya rasanya Gizha basah terus?"
Kening Bang Erlang berkerut. "Oya? Sejak kapan?"
"Sejak tadi pagi." Jawab Gizha.
"Habis Abang tengok???" Tanya Bang Erlang menegaskan.
Gizha mengangguk. Bang Erlang melihat jam tangannya. "Sakit atau tidak? Abang masih ada kegiatan. Nanti malam baru bisa antar kontrol."
"Nggak apa-apa Bang. Nggak sakit." Jawab Gizha tidak ingin membuat Bang Erlang cemas.
Bang Erlang mengecup kening Gizha kemudian memeluknya. Saat itu Gizha memercing merasakan ada yang sakit di bagian bawah perutnya.
Setelah puas memeluk Gizha, Bang Erlang menciumi perut Gizha dan si kecil di perut Gizha menendang hidung nya. "Waduuhh.. anak Papa lincah sekali. Mau ajakin main bola ya?? Semalam khan sudah.. pakai tendangan sudut lagi.. masih kurang ya? Coba bilang Mama, Maa.. adik masih kurang main bolanya..!!" Bang Erlang mencolak colek perut Gizha.
__ADS_1
"Paaa.. anaknya di ajarin yang baik donk..!! Yang masih kurang Mama atau Mama??" Tegur Gizha.
"Hehehe.. Papa ma yang masih kurang."
...
Sore hari sekitar pukul lima. Gizha duduk meluruskan kaki usai membersihkan rumah, tubuhnya sudah sangat lelah apalagi perutnya sudah sangat besar menjelang persalinan. Mendadak ia merasakan keringat dingin.
tok.. tok.. tok..
Mendengar suara ketukan pintu, Gizha segera bangkit dari posisi nyamannya lalu membuka pintu.
Gizha terpaku melihat sosok wanita yang belum pernah di jumpainya, sosok tersebut kemudian masuk ke dalam rumah dan mengedarkan pandangan mata melihat isinya.
"Selera rendah, kenapa bisa anakku suka." Gumamnya.
Barulah saat itu Gizha sadari bahwa sosok wanita tersebut adalah ibu dari Bang Erlang.
"Mamaa?? Silakan duduk Ma..!!"
"Kalau saya mau duduk ya tinggal duduk. Nggak usah kamu perintah." Kata Mama Bang Erlang dengan ketus. Matanya melirik perut Gizha yang sudah besar tapi kemudian beliau pun duduk.
"Mama mau minum apa?"
"Nggak usah, paling kamu hanya punya air putih." Jawab Mama Bang Erlang.
"Gizha bawa koper Mama ke dalam kamar ya."
"Nggak perlu. Kamu bisa jalan benar saja sudah syukur." Mama Bang Erlang terus menatap perut besar Gizha.
Mendengar ucap ketus Mama mertuanya, perut Gizha bereaksi. Rasa mulas hilang dan timbul menyerangnya tapi ada satu keinginan Gizha yang belum terwujud.. yaitu meminta restu Mama mertua.
Gizha menekuk kaki dan memegang tangan Mama mertuanya. "Ma.. maafkan Gizha yang tidak mengenali Mama. Gizha minta maaf atas segala salah Gizha, jika boleh.. tolong restui pernikahan Gizha dan Bang Erlang, juga tolong do'akan Gizha agar bisa melahirkan anak Bang Erlang dengan lancar dan tanpa hambatan..!!"
Mama memalingkan wajahnya, Gizha menyentuhkan tangan Mama pada perutnya. Mama seakan tidak mau tau tapi tangannya sedikit bergerak saat ada tendangan menyentuh telapak tangannya tapi tiba-tiba Gizha menunduk.
"Mamaa.. perut Gizha sakit Maa..!!"
Saat itu Bang Erlang sudah tiba di rumah. "Astagfirullah.. Deekk..!!" Bang Erlang langsung membantu Gizha untuk berdiri. "Kamu kenapa dek? Apa yang sakit??" Bang Erlang panik melihat wajah pucat Gizha. "Mama apakan Gizha????"
.
.
.
__ADS_1
.