Djiwa

Djiwa
35. Rasanya jadi ayah.


__ADS_3

Bang Erlang ikut memercing seolah merasakan sakit. Terjadi pendarahan yang tidak normal hingga Gizha harus mendapatkan perawatan pasca nifas secara ulang.


Ramai tamu di luar sana tak membuat Bang Erlang lantas meninggalkan Gizha begitu saja. Perhatiannya yang sedang terfokus pada Gizha membuatnya melupakan keberadaan Rinjani.


//


"Sudah tenang?" Tanya Bang Girish. Bang Girish terpaksa membawa gadis itu ke kamar mess nya.


Rinjani memalingkan wajahnya, ia tidak ingin bicara dengan siapapun saat ini.


"Keluargamu sedang mencarimu. Saya hanya bisa minta ijin sama Bang Gumarang sebentar saja membawamu kesini..!!" Kata Bang Girish.


"Siapa suruh Om bawa Rinjani kesini?" Jawab Rinjani.


"Apa saya harus mendorongmu masuk satu lubang bersama almarhumah ibumu??" Ucap tegas Bang Girish.


Rinjani terdiam mendengarnya namun terdengar isakan tangis kecil, terlihat nyata bahwa gadis tersebut berusaha keras untuk tabah menghadapi kenyataan hidup.


"Rinjani ingin di besarkan Mama..!! Dengan tangan Mama sendiri dan bukan orang lain." Kata Rinjani.


"Ucapanmu itu bisa menyakiti hati Mamamu yang sekarang. Bukankah Mamamu juga sangat menyayangimu. Bedanya kamu tidak terlahir dari rahimnya." Sebisa mungkin Bang Girish memberi pengertian pada Rinjani.


"Rinjani merindukan sosok Mama." Ucapnya kemudian tak lagi menjawab apapun.


"Di dunia ini, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan." Kata Bang Girish kembali mengingatkan dan saat itu tangis Rinjani berhenti.


...


Bang Erlang menggendong jagoan kecilnya. Gizha yang masih tidur karena pengaruh obat belum bisa merespon apapun hingga sore hari tiba.


Disha yang sudah bisa berjalan kesana kemari juga sudah bisa menjenguk Gizha meskipun langkahnya sedikit tertatih.

__ADS_1


"Gizha masih belum bangun ya Bang?" Tanya Disha.


"Belum Dish. Biarkan Gizha lebih banyak tidur, kalau Gizha bangun pasti banyak pikiran dan ada saja yang di kerjakan." Jawab Bang Erlang sambil memaksakan senyumnya.


Mata Bang Erlang melirik sahabatnya yang asyik berceloteh sendiri mengajak bicara putranya. Terlihat sekali Drajat sedang menjalani fase ternyamannya sebagai seorang ayah sekaligus seorang 'suami' bagi Disha.


Merasa ada mata yang meliriknya, Bang Drajat pun mengarahkan pandangannya. "Aku ingin bicara sebagai sahabatmu, sebagai seorang pria juga sebagai mantannya Gizha."


Disha mendengarnya tapi sejak putranya lahir, ia lebih percaya pada Bang Drajat dan membuang seluruh kesakitan yang ia alami selama ini.


"Ayo..!!" Bang Erlang menuruti ajakan sahabatnya.


~


"Sungguh aku tidak ingin ikut campur dengan urusan rumah tanggamu dengan Gizha tapi aku ingin kamu lebih memperhatikan kondisi mental Gizha. Hatinya tidak lebih kuat dari Disha." Kata Bang Drajat.


Mendengar ucap Bang Drajat, amarah Bang Erlang seketika terpancing apalagi dirinya masih dalam keadaan berduka. "Apa selama ini aku tidak cukup memperhatikan Gizha? Apa matamu pernah melihat aku menyakiti hati dan fisiknya??? Jangan karena kamu pernah bersamanya lantas kamu mengatakan seakan-akan aku baru saja bertemu dengan Gizha."


"Urusi saja istrimu, segera nikahi Disha. Bukankah lebih nyaman hidup dengan pasangan halal." Sindir Bang Erlang tak kalah menyakitkan.


Bang Drajat memilih diam daripada harus memancing masalah di saat hati dan pikiran Bang Erlang tidak stabil. Dirinya hanya merasa tidak tega melihat keadaan Gizha yang terus menerus tertimpa masalah.


"Kalau tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku pergi..!!" Kata Bang Erlang.


Bang Drajat mengangguk lalu mengalihkan perhatian pada bayi kecilnya.


...


Malam hari Gizha sudah bangun, ia tak lagi menemukan wajah sendu Bang Erlang.


"Di luar masih ramai ya Bang?"

__ADS_1


"Masih. Kamu mau keluar?" Tanya Bang Erlang dengan senyumnya, memang dengan sengaja ia menyembunyikan segala apapun yang di rasakannya, semua demi Gizha. Agar kondisi mentalnya bisa lekas pulih.


"Nggak. Gizha mau di sini saja. Badan Gizha masih terasa sakit Bang." Jawab Gizha.


Bang Erlang mengusap pipi Gizha namun kemudian suara tangis putranya membahana memenuhi seisi kamar.


Gizha pun terperanjat. "Baang, si adek kenapa nangisnya kencang sekali??"


"Sebentar, Abang cek dulu..!!" Kata Bang Erlang lalu berjalan menuju ranjang bayinya lalu mengamati bayinya yang terus menangis.


"Di angkat Bang, jangan di lihatin aja..!!"


"Abang angkat sendiri dek?? Nggak ada yang bantu??" Tanya Bang Erlang.


"Iya Bang, cepaat..!!!!" Pinta Gizha karena bayinya semakin kencang menangis.


"Abang nggak berani dek..!! Badannya lembek seperti marsmallow." Ucap Bang Erlang sembari menyentuh paha jagoan kecilnya. "Aaaaa.. astagaaa.. nggak berani dek, Abang takut badan si Rambo jadi remuk." Tolak Bang Erlang berjingkrakan karena panik. "Ya ampuuunn, di Rambo p*p, hitam pulaa.. Abang mau muntah lihatnya."


"Abaaaang..!!!!!! Jangan drama deh..!!!!!" Gizha kesal sekali melihat tingkah Bang Erlang.


"Tolong lah sayang, Abang merinding.. anak kita gerak terus niiihh.." pekik Bang Erlang.


"Abaaaaaaaaaanngg..!!!!" Gizha sampai emosi karena Bang Erlang tidak berani menyentuh bayinya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2