
Tangis bayi Bang Erlang semakin kencang terdengar, mbak Kinan mengetuk pintu kamar Bang Erlang.
"Gizhaa.. bayimu kenapa??"
"Mbaak.. tolong..!!!!!" Suara Gizha mengagetkan semua orang. Bang Ranjha yang panik segera membuka pintu kamar.
"Hhhkk.."
"Lang, kamu kenapa??" Bang Ranjha segera menghampiri.
"Si adek p*p Bang." Jawab Bang Erlang.
"Astagfirullah.."
plaaakk..
Bang Ranjha menepak kepala Bang Erlang saking kesalnya. "Buatnya semangat membara, giliran yang begini nyalimu ciut. Jadi laki jangan seperti t*i Lang." Tegur Bang Ranjha.
"Papa bisa diam nggak??????" Mbak Kinan balik menegur Bang Ranjha yang sedang berada dalam mode gagah kemudian menciut karena teguran sang istri.
"Iya ma, maaf." Bang Ranjha merendahkan nada suaranya. Ia pun melirik keponakan tampannya. "Anaknya Drajat mirip papanya, yang ini pun begitu, kenapa satu pun tidak ada yang mirip si kembar. Semua mirip bapaknya." Gerutu Bang Ranjha.
"Kalau mirip sama Drajat semua, saya bisa gelut Bang." Jawab Bang Erlang seenaknya.
Seketika mata Bang Ranjha melotot karena ucap Bang Erlang mengandung unsur gara-gara. Ia segera menginjak kaki Bang Erlang. "Susah payah kamu damai, sekarang mau cari ribut, kamu ini memang suka sekali membuka pintu neraka." Gumam Bang Ranjha.
Seketika Bang Erlang menyadari ucapannya yang salah. Ia melirik Gizha yang sudah tajam meliriknya. "Abang bercanda." Katanya.
"Nggak lucu Bang." Jawab Gizha masih kesal.
Mbak Kinan mengambil alih untuk merawat bayi Gizha dan terlihat sekali Mbak Kinan sangat menyayangi keponakannya.
__ADS_1
"Lama sekali tidak ada tangis bayi di rumah kita Pa." Kata Mbak Kinan.
"Kamu mau lagi Ma? Papa siap bayar setoran nih." Bang Ranjha terlihat begitu semangat saat Kinan mengindikasikan kerinduan pada tangis bayi dan keramaian bocah di rumahnya.
"Nggak ada ya Pa, please deh. Maksud Mama itu lain kali kita bawa si Rambo ke rumah kita." Jawab Mbak Kinan seketika mematahkan semangat juang Bang Ranjha. "Lagipula di umur segini kenapa masih pikir anak sih Pa."
"Laah.. nggak ingat Ma? Ayahmu saja masih kuat memproduksi Gizha dan Disha. Masa iya kita nyerah???" Kata Bang Ranjha masih membujuk Mbak Kinan.
"Apa Papa lupa kalau Mama pakai k*****s**si???" Ucap tegas mbak Kinan.
"Apa salahnya kita punya anak lagi. Papa lihat Mama masih kuat. Ngomel saja masih speed seratus kilometer per jam." Kata Bang Ranjha.
Mbak Kinan kembali menidurkan baby mungil Bang Erlang lalu mendekati Bang Ranjha, suami Mbak Kinan itu pun langsung mundur teratur. Benar saja, di usianya yang bisa di bilang tidak muda lagi, Mbak Kinan mampu menghajar Bang Ranjha habis-habisan tanpa ampun. Rasanya predikat atlet MMA tak akan bisa pudar dari Mbak Kinan.
"Ampun Maa.. Ma.. Mamaaa..!!" Bang Ranjha hanya bisa menjerit-jerit tanpa bisa melawan istrinya itu.
Kini Bang Erlang hanya bisa meneguk salivanya dengan kasar. Ia pun tau Gizha juga memiliki keahlian dan pengalaman yang sama meskipun tidak terjun dalam dunia atlet seperti kakaknya.
"Urus anak kita Bang..!!" Pinta Gizha dengan tatapan mematikan.
"Pegang yang benar Abaaang..!! Jangan seperti bawa nampaaaan..!!!!" Pekik Gizha seketika naik darah melihat kelakuan Bang Erlang.
"Slow Lang, jangan gugup pegangnya."
Bang Erlang berusaha untuk tenang dan mencoba seluwes mungkin tapi bayinya malah menangis semakin kencang.
"Jangan terlalu erat pegang tangannya Erlang..!!!! Pakai perasaan..!!!!!!" Bentak Bang Ranjha.
Bang Erlang tersentak hingga nyaris saja menjatuhkan bayinya. Ia pun segera mendekapnya.
"Laaang..!!"
__ADS_1
"Erlaaaaang..!!!!"
"Abaaaang..!!!!!!!!!!"
"Ya Allah, Astagfirullah." Seketika Bang Erlang mendekap bayinya. Terasa hangat bagai kucing menggeliat di tubuhnya. Aroma wangi bayi begitu membius, menenangkan batinnya. "Uuush sayang, ini Papa le. Maaf ya, Papa belum pintar gendong Abang." Gumamnya.
Seisi ruangan baru bisa bernafas lega apalagi Bang Erlang mulai bisa menggendong bayi kecilnya.
"Perut Gizha sampai nyeri lihat Abang. Yang benar donk Bang kalau urus anak..!!" Tegur Gizha.
"Ya bagaimana?? Abang terlatihnya gendong senjata sama gendong kamu." Jawab Bang Erlang membungkam mulut Mbak Kinan dan Bang Ranjha yang memilih pura-pura tidak mendengar.
Gizha meremas ujung selimut saking malunya mendengar jawaban Bang Erlang.
:
Di tempat Bang Drajat ternyata juga terjadi hal yang jauh berbeda, hanya saja Bang Drajat masih bisa sedikit lebih tenang saat Disha membantunya menggendong bayinya.
"Pelan dek..!! Mas takut.. badannya lembut sekali. Mas takut nyenggol tulang." Pinta Bang Drajat.
"Mas ini kenapa sih takut sekali. Lihat Bang Erlang donk.. gagah sekali, bisa gendong bayinya sendiri, wajahnya terlihat kebapakan." Protes Disha.
"Apanya yang gagah?? Dari mananya kebapakan?? Kalau kamu lihat kelakuannya tadi.. nggak akan keluar itu pujian. Pasti kamu lipat lidahmu. Jangankan gendong sendiri, pegang pahanya saja Erlang berjingkrakan." Ucap kesal Bang Drajat.
"Masa sih Mas?"
"Eeeeee.. nggak percaya. Erlang itu kalau di suruh pencitraan memang paling demen. Aslinya mah nol buntet..!! Nol puthul..!!"
.
.
__ADS_1
.
.