Djiwa

Djiwa
42. Ajakan mendadak.


__ADS_3

Secepatnya Bang Erlang mengejar Gizha yang tak lagi mendengar panggilannya.


"Dek.. Abang melakukan semuanya untuk melindungi kamu." Kata Bang Erlang.


"Gizha tau, tapi apa perlu Abang marah-marah seperti tadi? Gizha pun ikut Abang salahkan. Sudah lah, Gizha mau pulang ke rumah Papa."


Bang Erlang berjalan lebih cepat dan menghadang langkah Gizha kemudian segera memeluknya. Ia benar-benar tidak ingin mencari masalah dengan istrinya cantiknya.


"Maafkan nada keras Abang ya. Abang tidak bermaksud marah atau membentakmu. Abang hanya tidak bisa menerima perlakuan orang lain yang menyusahkanmu. Abang membela kehormatan istri, bukan orang lain."


"Jangan teriak lagi, Gizha nggak suka."


Ekor mata Gizha tak melepaskan lirikannya pada Bang Erlang.


"Sekalipun itu Ratna, Abang tidak akan pernah memaafkan nya. Menyentuh ranah rumah tangga sama saja menyenggol harga diri ku." Jawab Bang Erlang. "Please, tolong hargai keputusan Abang." Bang Erlang mengecup puncak kepala Gizha.


Gizha akhirnya menurut dan mengerti maksud suaminya. Ke dapur yuk.. lihat ibu-ibu masak apa. Masa yang punya gawe hilang melulu." Bang Erlang mengulurkan tangan untuk membujuk Gizha.


"Ayo.. Gizha menerima uluran tangan Bang Erlang dan mereka pergi ke tenda dapur besar untuk acara aqiqah nanti malam.


...


Gizha dan Disha membantu om-om Taja dan Baja untuk masak di bantu beberapa orang ibu pengurus ranting. Mereka bahu membahu memasak dalam suasana suka cita.


"Dimana Letnan Girish?" Tanya Bang Erlang.


"Ijin.. tidak tau Dan." Jawab seorang anggota.


"Kemana ya? Ada sibuk begini malah nggak tau ada dimana." Gumam Bang Erlang. Kemudian ia pun mengingat adik perempuannya. "Daripada Rinjani sendirian di mess transit, lebih baik aku ajak saja kesini..!!"


Beberapa kali Bang Erlang mencoba menghubungi adiknya itu namun tak ada jawaban, sekali lagi Bang Erlang mengulangnya tapi hasilnya tetap sama saja.


"Kemana Rinjani??"

__ADS_1


//


Rinjani duduk di atas sebuah batu dengan kacamata berwarna coklat tua. Rambutnya yang tergerai sudah bergerak kesana kemari tertiup angin.


"Om tidak kembali ke mess? Bukannya hari ini Bang Erlang ada acara aqiqah anaknya?" Tanya Rinjani.


"Biar saja, sudah banyak anggota. Hilang Abang saja tidak akan di cari." Jawab Bang Girish kemudian mengambil bungkus rokok dari saku celananya.


Tak lama ada seorang bapak mengantarkan secangkir kopi hitam panas dan susu hangat.


"Kenapa Om pilihkan susu untuk Rinjani. Rinjani mau kopi juga." Protes Rinjani karena ternyata Bang Girish memesankan susu untuk nya.


"Untuk apa anak kecil minum kopi? Jangan menabrak kepahitan kalau kamu tidak sanggup. Ambil saja kelembutan agar hatimu tenang." Kata Bang Girish sambil menyulut batang rokoknya.


"Kenapa Om selalu menganggap Rinjani anak kecil. Rinjani sudah dewasa Om. Sudah........."


"Sweet seventeen saja belum cukup untuk dikatakan dewasa. Pikiranmu pun juga harus seimbang dengan hatimu." Jawab Bang Girish. Asap rokok menghambur ke udara. Ia menatap hamparan pantai yang luas. Tak di gubrisnya panggilan telepon dari seniornya.


"Apa dulu cita-cita Om Gi jadi seorang tentara?" Tanya Rinjani.


"Kenapa harus jadi petani?"


"Apa ada yang salah dengan petani? Dulu saya penasaran bagaimana bisa dari sebuah 'rumput' bisa berubah menjadi bulir biji lalu menguning hingga menjadi sebuah filosofi padi semakin berisi semakin merunduk." Kata Bang Girish.


"Semakin orang tersebut berilmu maka semakin rendah hati pula jadinya." Jawab Rinjani mendengar ucap Bang Girish.


Bang Girish tersenyum tipis dan Rinjani bisa melihat tampannya seorang Letnan Girish di balik kacamatanya.


Di saat Rinjani mengalihkan pandangan ke arah lautan, Bang Girish pun menatapnya. Sungguh ia memandangi sempurnanya kecantikan yang telah Tuhan ciptakan. Senyum dan paras cantik Rinjani begitu membiusnya.


"Dek..!!"


"Apa?" Rinjani tak menatap wajah Bang Girish, ia hanya menjawab sekedarnya saja sebagai respon.

__ADS_1


"Nikah yuk..!!"


"Apaaa??"


"Kita nikah, kita punya anak." Ajak Bang Girish sampai membuat mulut Rinjani ternganga.


"Naon Om?? Nikah???? Nggak.. Rinjani nggak mau punya anak." Tolak Rinjani mentah-mentah.


"Kemarin bilang mau hamil, sekarang nggak mau. Bagaimana nih???" Tanya Bang Girish.


"Rinjani berubah pikiran. Pokoknya nggak. Rinjani nggak mau nikah, nggak mau juga punya anak." Jawab Rinjani.


...


Hari sudah beranjak malam. Belum ada tanda Rinjani di sekitar Batalyon. Sambil menggendong bayinya, hati Bang Erlang semakin gelisah.


"Alooong..!!!" Panggil Bang Erlang.


Dengan sigap Prada Along datang menghampiri. "Siap.. ijin arahan Dan..!!"


"Kamu lihat Letnan Girish?? Atau adik saya Rinjani???" Wajah Bang Erlang sudah sedemikian cemasnya.


"Tidak Dan.. ijin."


"Aduuhh.. kemana ya mereka. Belakangan ini mereka sering bersama, pasti mereka sedang bersama juga sekarang." Gumam Bang Erlang.


"Ijin Dan, apa perlu saya cari sekarang?" Tanya Prada Along.


Baru akan menjawab. Sebuah mobil terparkir tak jauh dari tempat Bang Erlang dan Bang Drajat membuat acara. Mata Bang Erlang menatap tajam saat Bang Girish turun lebih dulu dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Rinjani.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2