
"Erlang.. Mama sama sekali nggak tau."
"Siapa yang meminta Mama untuk datang kesini?? Kalau Mama datang hanya untuk menyakiti istriku, lebih baik Mama kembali ke Jakarta..!!" Bentak Bang Erlang yang tidak bisa menerima kehadiran Mamanya.
"Bang.. jangan kasar sama Mama..!!" Pinta Gizha. "Eegghh.. Bang, Gizha nggak tahan..!! Perut Gizha sakit sekali..!!"
Bang Erlang segera membawa Gizha ke mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Mama nggak usah ikut." Suara keras Bang Erlang masih terus terdengar memusuhi Mamanya.
Mama seakan tak mendengar dan terus mengikuti langkah putranya.
"Alooong.. buka pintu mobil..!!" Perintah Bang Erlang.
Melihat ibu Bang Erlang ada disana, Prada Along membuka pintu dan Bang Erlang menurunkan Gizha perlahan, tapi saat Prada Along membuka pintu untuk ibunya, Bang Erlang menendang pintu tersebut.
"Jalan Long..!!!"
Prada Along tak bisa berbuat apapun, matanya hanya bisa melirik littingnya, Prada Ardhan.
Prada Ardhan mengerti keadaannya, ia segera mengambil motornya di garasi rumah Bang Drajat. Dirinya baru saja kembali dari rumah sakit usai mengantar ibu Danton yang kemungkinan besar akan melahirkan hari ini. "Mari saya antar Bu..!!"
"Terima kasih le." Kata ibu Bang Erlang.
"Sama-sama ibu.!!"
...
"Alhamdulillah..!!" Bang Drajat bersujud syukur atas kelahiran putranya. Rasanya begitu terharu menyaksikan perjuangan Disha.
Kini Bang Erlang yang cemas setengah mati karena Gizha sudah terlihat tidak kuat di pembukaan lima.
"Maa.. mamaa..!!!" Gizha memanggil Mamanya. Entah Mama yang mana yang begitu di rindukannya.
"Mama nggak bisa datang sayang. Sama Abang saja ya..!!" Bujuk Bang Erlang.
"Tolong panggilkan Mama di luar..!!" Pinta Gizha.
Bang Erlang seakan tidak punya pilihan, secepatnya ia memanggil Mamanya.
"Masuklah, Gizha ingin bertemu Mama..!!"
Mama segera masuk dan menggenggam tangan Gizha. "Ini Mama..!!"
"Gizha minta maaf ya Ma. Tolong restui pernikahan Gizha dan Abang..!!" Pinta Gizha lagi karena tadi di rumah, Mama Bang Erlang belum menjawabnya. "Maaa.." Gizha sampai merosot memeluk kaki Mama mertua.
"Ya.. terserahmu saja..!!" Jawab Mama singkat dan hal itu membuat Bang Erlang sangat jengkel. Gizha mencium tangan Mama mertuanya dengan penuh rasa hormat.
Setelah puas dengan sang Mama, Gizha bergeser dengan lututnya mencium kaki Bang Erlang. "Gizha minta maaf jika Gizha terlalu menyusahkan Abang. Gizha mohon do'a dari Abang, semoga Gizha kuat melahirkan anak Abang..!!"
__ADS_1
Batin Bang Erlang sungguh terpukul. Rasanya sesak melihat apa yang telah Gizha lakukan padanya. Ia mengajak Gizha berdiri namun Gizha menolak sebelum Bang Erlang merestuinya juga.
"Abang akan selalu mendoakanmu dan Abang merestuimu melahirkan anak kita." Jawab Bang Erlang namun Gizha tidak sanggup lagi mengangkat tubuhnya.
Dengan berlinang air mata Bang Erlang mengangkat Gizha hingga ke ranjang tindakan.
Mama Bang Erlang meninggalkan tempat, ia tidak ingin lama berada di ruangan tersebut.
:
"Dorong Bu..!!"
Sekuatnya Gizha mengejan namun belum ada hasil. Gizha sudah meronta-ronta merasa kesakitan, hati Bang Erlang tak kalah pedihnya melihat perjuangan Gizha. Ia mengusap peluh di kening Gizha.
"Sedikit lagi sayang. Satu kali saja." Bujuk Bang Erlang.
Gizha menggeleng nyaris menyerah. Bang Erlang pun Gusar.
"Istri sholehah Abang, ayo dek.. kasihan si kecil. Diam pengen bernafas sayang. Satu kali lagi ya..!!" Dengan lembut Bang Erlang kembali membujuk Gizha.
Mau tidak mau akhirnya Gizha menurut. Genggaman erat Gizha terasa mematahkan tulang jarinya dan tak lama, sosok kecil melesat dari pintu surga dunia milik Bang Erlang.
"Allahu Akbar.. Alhamdulillah ya Allah." Bang Erlang nyaris pingsan namun ia segera bersujud syukur kemudian kembali memeluk Gizha. "Anak kita sudah lahir dek.."
Suara tangis memecahkan kesunyian ruang persalinan.
Bang Erlang kembali mengucap syukurnya. "Alhamdulillah.. gagah sekali aku." Gumamnya di balik rasa gundahnya.
~
"Alhamdulillah.. ucap syukur di luar sana."
Tepat saat itu para Opa berlarian tergopoh-gopoh menuju ruang tindakan persalinan, meninggalkan Para Oma yang sibuk mempersiapkan kamar untuk cucu mereka di rumah. Di belakang Papa Erky ada sosok gadis muda membuntut sambil bergandengan.
Mata Ayah Rojaz melihat sosok lain di sana.
"Ini..........."
"Mamanya Erlang." Kata Papa Erky melanjutkan pertanyaan Ayah Rojaz.
Ayah Rojaz nampak terkejut tapi kemudian seorang perawat pria dari sisi ruang yang lain datang memapah langkah Bang Erlang.
"Lho Lang.. kenapa????" Ayah Rojaz sampai panik melihat menantunya lemas dan hampir pingsan.
"Letnan Erlang tidak tahan melihat istrinya kesakitan karena mendapat jahitan. Ibu sudah bersih dan beres, tapi Pak Erlang tidak kuat." Kata perawat tersebut.
"Alaah Laaang, ngisin-ngisini Papa." Papa Erky segera menghampiri putranya lalu menepuk punggungnya.
"Saya hanya nggak tega Pa. Gizha kesakitan sekali. Setelah Gizha tidur baru saya tinggal." Jawab Bang Erlang.
__ADS_1
"Itulah pengorbanan seorang wanita, seorang istri." Kata Papa Erky.
Sejenak Bang Erlang termenung kemudian melirik Mamanya namun rasa benci di hatinya tak bisa hilang begitu saja. Dulu saat ia masih kecil, dirinya pernah terlantar di jalanan karena Mamanya menjual seluruh aset sang Papa saat Papa Erky sedang penugasan di luar pulau, semua demi modal bisnis dan berkali-kali tertipu karena ambisinya bahkan karena ulah Mamanya juga, dirinya dan adik perempuannya harus kehilangan kakak laki-laki.
Setiap mengingat kepedihan itu, hatinya selalu terasa sakit kala teringat dirinya mengemis di pinggir jalan hanya untuk bisa makan. Kepanasan, kehujanan, kesepian ia rasakan sembari mengasuh Rinjani yang saat itu berusia dua tahun.
Nasib baik Papa Erky segera pulang dan mencari mereka dan pada akhirnya mereka tinggal di rumah dinas. Papa Erky pun menceraikan Mama. Hanya berselang setahun lamanya mereka hidup bertiga hingga Papa Erky kembali menikah dengan seorang wanita muda namun baik hati. Bisa di maklumi keadaan seorang duda yang tidak sanggup mengurus anak-anak sendirian. Beruntunglah masih ada wanita yang bersedia menerima kondisi Papa Erky apa adanya, juga dirinya dan adik perempuannya. Dari pernikahan keduanya, lahirlah seorang anak laki-laki yang kini masih bersekolah SMA.
"Itu konteks buat wanita yang bisa di sebut seorang wanita dan juga ibu. Tapi ada juga wanita yang tidak bisa di sebut ibu." Ucap Bang Erlang setengah menyindir.
Mama masih bisa menegakan wajahnya namun tidak dengan parasnya yang terbersit rasa penasaran.
"Bang Er, minta uang..!!" Masih dalam suasana tegang, Rinjani memecah kesunyian.
"Mau beli apa?" Tanya Bang Erlang. "Salim dulu, masa lama nggak ketemu Abang, sekalinya ketemu malah nodong..!!"
"Sebentar saja..!!" Rinjani menodongkan tangannya.
Bang Erlang menengok ke arah sekitar dan ia melihat juniornya berdiri tak jauh darinya. "Rish.. bawa uang cash nggak? Saya kehabisan uang cash."
"Siap.. bawa Bang. Butuh berapa?" Tanya Bang Girish.
"Sepuluh ribu aja."
"Siap..!!" Bang Girish mengeluarkan seluruh uang pecahan dari sakunya dan memberikan uang sepuluh ribu pada Bang Erlang.
"Idiiihh.. sepuluh ribu itu uang apa??" Tangan Rinjani menyambar semua uang di tangan Bang Girish. "Ini saja.."
"Rinjaniiiiiiii..!!!!!" Suara Papa Erky dan Bang Erlang bagai paduan suara.
"Yeeeaayy.. Rinjani mau jajan dulu..!!" Ucapnya sambil berlari namun tidak memperhatikan kondisi di sekitar.
braaaakk... buuugghhh..
"Aawwhh.. Baang Er, sakiiiiit." Rinjani merintih kesakitan usai menabrak tong sampah.
"Rasakan.. kamu sama mbak mu itu sama saja. Banyak tingkah. Belum tenang kalau belum lihat Abang sakit kepala." Ucap kesal Bang Erlang puas melihat adiknya celaka.
"Jadi Abang kesal lihat Gizha??" Gizha langsung menangis menghapus air matanya.
"Loh dek.... Bukannya kamu tidur???" Bang Erlang menoleh gelagapan, panik melihat Gizha menangis.
.
.
.
.
__ADS_1