
Bang Erlang membuka pintu rumah dan terkejut bukan main saat menyalakan lampu ternyata Gizha sudah duduk melipat kedua tangan di depan dada.
"Kenapa belum tidur dek?" Tanya Bang Erlang sembari menelan salivanya dengan susah payah karena pakaian Gizha yang kembali begitu menggoda nalurinya.
"Nunggu Abang. Abang darimana? Lihat teras depan rumah kita masih ambruk, itu gara-gara siapa? Bukannya tadi Gizha minta Abang merenung.. apa hasilnya??? " Tegur Gizha.
Perlahan Bang Erlang menutup dan mengunci pintu ruang tamunya. "Hasilnya ubun-ubun Abang rasanya terbakar, panas, nyengat sampai tulang ekor. Kamu jangan ngerjain Abang lagi. Hal seperti itu bukan mainan dek..!!" Mata Bang Erlang terus menatap wajah Gizha.
"Jadi????" Gizha sedikit cemas namun ia tetap menutupi rasa gugupnya yang sama sekali tidak bisa di tutupi.
Bang Erlang mendekati Gizha dan sedikit mendorong
"Abang nggak tahan. Pengen bangeet ayaaank.. Nyolek tipis aja ya..!!" Pinta Bang Erlang dengan wajah begitu memelas. Tak tau bagaimana dasarnya, Bang Erlang jadi begitu manja dan merengek-rengek di hadapan Gizha.
"Nggak boleh Abang.. Abang nggak ingat pernikahan kita bagaimana???" Kata Gizha mengingatkan.
"Ingat, tapi yang ini nggak mau ingat..!!" Ucapnya dan hal itu malah membuat Gizha gemas.
"Baaaang...!!!!!"
Tak lagi menunggu persetujuan Gizha, Bang Erlang langsung menubruk Gizha.
//
Disha menatap hening dan gelapnya malam dari dalam kamarnya. Ia menghapus air matanya. Entah kenapa malam ini Bang Drajat menjadi tidak tega melihat Disha yang sedari tadi mengusap lengannya menghalau dinginnya angin malam.
"Udara dingin sekali, kenapa tidak tidur?" Tanya Bang Drajat.
"Belum ngantuk Mas." Jawab Disha tanpa melihat raut wajah Bang Drajat.
__ADS_1
Saat itu Bang Drajat memeluk Disha dan mengecup keningnya, entah ada angin apa membuatnya mampu melakukan hal itu.
Disha berusaha menghindar tapi Bang Drajat tetap memeluknya erat. Saat tangan Bang Drajat meraba perut Disha baru lah gadis itu tenang.
"Kita memang salah, semua serba salah." Ucapnya sembari menyerusuk ke sela leher Disha. "Mas sendiri yang salah tidak bisa membedakan antara kamu dan Gizha. Semua kekecewaan ini juga karena kesalahan Mas."
"Menjauhlah Mas, kembalilah ke kamar Mas sendiri. Disha mau tidur." Usir Disha. Mengingat segala kesalahannya, ia tidak ingin lagi semakin menambah dosa kesekian kali dalam hidupnya.
"Kita menikah saja..!! Kita besarkan anak kita ini sama-sama." Bujuk Bang Drajat.
"Nggak usah Bang, sejak awal Disha tidak menuntut pengakuan dari Papanya. Disha akan menanggung semua ini. Bukankah Disha juga tidak menuntut apapun dari Mas." Jawab Disha.
Hati Bang Drajat sedikit teriris mendengarnya. Penolakan Disha.
"Disha tau Mas tidak mencintai Disha, Mas hanya menginginkan tubuh Disha saja." Disha tak menutupi apapun lagi dari perkataannya.
"Tapi anak ini butuh Ayah. Mas akan menikahimu." Ucap Bang Drajat penuh dengan janji manis. Ia terus mendekati Disha, wajah tak ubahnya paras Gizha sedikit banyak bisa menutupi rasa rindunya pada wanita yang di cintainya itu.
Dengan jengkel Bang Drajat mengepalkan tangan dengan kuat. "Disha.. mau kita lakukan kapanpun.. kamu memang sudah kotor..!!!!!!!"
Ucapan itu menghentikan langkah Disha. Ia tersenyum pahit mendengarnya. Dhisa pun melepas lengan Bang Drajat.
"Baiklah kalau itu maumu..!!" Disha membuka pakaiannya. Ia menggulung rambutnya ke atas lalu berjinjit memeluk Bang Drajat. "Malam ini aku akan menjadi p*****rmu Om Drajat..!!" Disha menyambar bibir Bang Drajat dan seketika pria tersebut gelap mata.
:
Bang Erlang terengah-engah mengatur nafasnya yang memburu nafsunya semakin memuncak saat melihat Gizha merintih dan memeluknya erat merasakan servicenya untuk istri tercinta.
"Enak? Kamu suka??" Bang Erlang memastikan segala perlakuannya. Sungguh masih ada rasa gelisah dalam relung hatinya mengingat jalan pernikahan mereka yang berliku. Bukan hal mudah membuat perasaan dan pikiran Gizha terus terfokus padanya.
__ADS_1
Gizha mengangguk, hingga saat Gizha hampir menyelesaikan semua, Bang Erlang pun menyusulnya. Kini dirinya merasa melayang di awang-awang. Kelopak matanya setengah terpejam menenggelamkan pupil mata. Erangannya tak tertahan hingga dirinya memuntahkan lahar panas di dalam tubuh Gizha. "Bisakah hanya ada aku di hatimu? Aku cemburu."
***
Bang Erlang mengaduk susu untuk Gizha. Istrinya itu kembali tidur usai sholat subuh, rambutnya pun masih basah.
"Dek.. minum dulu susunya. Jangan kamu berikan lagi untuk Disha." Ucapnya penuh penekanan.
"Kalau bukan Gizha yang memperhatikan, lalu siapa lagi Bang?" Tanya Gizha.
"Biarkan Drajat yang turun tangan. Atau kamu tidak rela Drajat memberi perhatian pada Disha?"
"Baaang, kenapa harus ada pertanyaan seperti itu. Apa belum cukup Gizha menjadi istrimu??" Tegur Gizha karena Bang Erlang terus saja mencemburui pria yang pernah singgah di hatinya itu.
"Apakah pertanyaan Abang ada yang salah? Bukankah wajar semua kecemburuanku? Kamu masih memandangnya dengan tatapan yang tidak biasa. Abang laki-laki dek, jelas Abang paham kamu masih ada rasa sama Drajat. Tapi jika memang kamu tidak terima dengan cara Abang menjagamu, tolong beri Abang pengertian bagaimana caranya agar sikap dan rasa cemburu Abang tidak menyakitimu. Jujur Abang tidak ingin kamu menangis saat Abang salah bertindak dan tidak bisa mengontrol emosi. Kalau Abang tidak mencintaimu.. Abang tidak akan mau repot bersikap seprotektif ini sama kamu."
"Bukankah seharusnya Abang juga paham. Tidak semudah itu menghapus kebersamaan kita meskipun pernah terselip pria lain. Dan Gizha juga tidak mau repot merayu seorang pria kaku, dingin, menyebalkan dan usil jika Gizha tidak cinta." jawab Gizha.
"Oya?? Coba buktikan..!!!" tagih Bang Erlang dengan senyum nakal.
"Semalam khan sudah Bang, Gizha capek lho."
Jawab itu membuat Bang Erlang tertawa dan sejenak kegundahan hatinya lenyap.
.
.
.
__ADS_1
.