
"Pak Ajat, tolong hukum dan bereskan manusia di dalam ruangan itu. Beraninya dia menghukum menantuku..!!" Kata ibu Ratna.
"Maaf Bu, siapa yang ibu maksud?" Tanya Kopda Ajat.
"Itu si Erlang." Jawab Ibu Ratna.
Pupil mata Kopda Ajat membulat besar, bagaimana mungkin dirinya akan memberi pelajaran pada komandannya sendiri.
"Saya tidak bisa Bu."
"Kenapa?? Pindahkan saja tempat tugasnya di wilayah yang jauh..!!" Ibu Ratna berapi-api menginginkan Bang Erlang pergi menjauh.
"Yang ada saya yang bakal di mutasi karena cari perkara dengan komandan."
Ibu Ratna tidak paham dengan maksud Kopda Ajat, tapi dirinya tetap ingin mencari tau kepastian mengapa Kopda Ajat sangat tidak ingin berurusan dengan Bang Erlang.
"Jadi Erlang itu komandan? Masih d atasmu?"
Kopda Ajat tidak menjawab lagi karena sudah jengah dengan kelakuan mertua dari Praka Umar.
"Jadi benar ya?? Berapa tingkat di atasmu?" Tanya Ibu Ratna lagi.
"Jauh, sangat jauh bagaikan langit dan bumi." Kopda Ajat mencemaskan nasibnya sendiri karena ulah ibu mertua juniornya.
//
******tok.. tok.. tok******..
"Masuk..!!" Bang Erlang masih menengadah dan memejamkan matanya, ia sudah berusaha untuk tenang tapi hatinya masih saja tidak kunjung tenang.
"Bang..!!" Sapa Gizha masih takut.
Mendengar suara itu Bang Erlang mengerjab lalu mengusap air matanya.
__ADS_1
Bang Erlang mengulurkan tangannya menyambut istri tercintanya. "Kenapa masih di sini? Seharusnya kamu pulang saja..!!"
Gizha berlari dan menubruk Bang Erlang. Ia menangis sambil memeluknya erat.
"Heeii.. kenapa sayang? Semua sudah clear, sudah baik-baik saja." Kata Bang Erlang.
"Maaf.. maaf.. karena Gizha menikah sama Mas Drajat.. Abang hanya dapat barang bekas."
Bang Erlang sempat kaget dan tersentak, ternyata Gizha mendengar semuanya. Dalam keadaan usai persalinan seperti ini pasti hatinya akan jauh lebih sensitif dan mudah terluka.
"Tidak usah memikirkan yang tidak penting. Menjaga kestabilan emosimu jauh lebih penting. Apa artinya kata 'bekas', bekas pun hasil dari pernikahan.. bukan karena salah pergaulan." Jawab Bang Erlang.
"Tapi wajah Abang tidak menunjukkan hal seperti itu, Gizha tau Abang kecewa." Gizha langsung mematikan ucapan Bang Erlang. Ia pun juga kecewa namun saat itu dirinya memang sungguh sedang menolong saudara kembarnya.
Entah kenapa hari ini hati Bang Erlang tidak sekuat dan setegar biasanya. Ia balas memeluk Gizha. "Abang tidak kecewa, sungguh tidak kecewa.. Abang juga bukan malaikat yang selalu sempurna tapi jujur Abang akui, ada rasa sakit yang sulit di hilangkan. Abang cemburu jika harus membayangkan kebersamaan kalian dulu." Ucap jujur Bang Erlang. Di dalam dadanya sudah penuh sesak.
"Maaf.. maafin Gizha Bang. Maaf..!!"
Bang Erlang tidak tahan dengan semuanya, ia menyambar bibir Gizha dan mengecupnya dalam untuk beberapa saat.
Gizha mengerti perasaan Bang Erlang, ia pun membiarkan pria nya itu melakukan apapun untuk menuntaskan seluruh perasaan.
...
tok.. tok.. tok..
"Dob..!!! Itu mau bagaimana kambing nya..!!" Teriak Bang Drajat mengetuk pintu ruang kerja Bang Erlang karena sahabatnya itu sejak satu jam yang lalu tidak terlihat batang hidungnya.
cckkllkk..
Gizha membuka pintu ruangan dan rambutnya memang sedikit acak-acakan. Bang Drajat pun melongok melihat sahabatnya tidur terkapar di sofa panjang dengan amburadul seperti orang kalah judi.
Agaknya Bang Drajat lumayan memahami perang apa yang telah terjadi di antara Erlang dan Gizha.
__ADS_1
"Kamu ke tempat Disha saja dek. Biar Mas yang bangunkan suamimu..!!" Pinta Bang Drajat mengarahkan Gizha.
Istri Erlang itu segera meninggalkan tempat.
Bang Drajat duduk di dekat sahabatnya kemudian membenahi letak kancing baju seragam yang berantakan.
"Nanti lagi ya sayaaang.. Abang capek sekali." Gumam Bang Erlang merespon bang Drajat yang ia kira adalah Gizha.
Bang Drajat tertawa geli mendengar celotehan bang Erlang. Ia pun usil menyentuh dada bidang Bang Erlang.
"Ayaaaang.. nggak sabar ya..!!" Suara parau Bang Erlang masih kental menemani.
Baru kali ini Bang Drajat melihat sisi gelap seorang Erlang yang biasanya gagah penuh wibawa tapi kali ini bisa bersikap manja bagai bocah taman kanak-kanak yang minta di sayang ibunya. Merasa semakin gemas dengan Bang Erlang, Bang Drajat semakin memainkan jarinya.
Bang Erlang melonggarkan ikat pinggang yang sudah longgar lalu membuka kancing celananya tanpa tau siapa yang ada bersamanya saat ini.
"Ooohh edaan.. Heehh Dob.. buka matamu..!! Aku nggak ngajak main pedang ya. Cepat bangun..!!"
Bang Erlang membuka matanya dan melihat sahabatnya sedang duduk di sofa yang sama dengannya.
Bang Erlang terbangun dan bingung melihat Bang Drajat di dekatnya. "Lho.. Gizha mana??"
"Sama Disha urus kambing. Lu sendiri ngapa disini???' tegur Bang Drajat pura-pura buta tak paham situasi.
"Hmm.. kepalaku pusing, aku istirahat sebentar." Jawab Bang Erlang.
"Oohh.. kepala atas atau bawah?" Tanya Bang Drajat bernada tenang tapi sarat akan ledekan.
.
.
.
__ADS_1
.